Pengantar
Pendeta I Wayan Sunarya lahir di Blimbingsari tahun 1945.
Dia terlahir sebagai orang Kristen, mengikuti agama orangtuanya. Ayahnya
berasal dari Desa Sading Badung, bersama dengan kakeknya tergabung kelompok
perintis berdirinya Desa Blimbingsari
tahun 1939. Saya datang ke rumah beliau dan menginap selama dua malam,
untuk bisa mengamati secara langsung kehidupan komunitas Kristen Protestan di
Desa Blimbing Sari, tata cara mereka bersembahyang di gereja. Gereja berada
persis di depan rumah Pendeta Sunarya. Berikut ini adalah cerita Pak Pendeta
Sunarya. Di sela-sela itu, saya sempat berbincang-bincang dengan Pendeta I
Wayan Sunarya sebagai berikut:
Bagaimana
asal-usul keluarga Pak Pendeta Sunarya?
Kami
adalah mempunyai kakek tiga orang dan yang menerima kekristenan itu hanya tiga
orang. Kakek saya sendiri namanya Wayan Rike, satu lagi pekak Sukir atau sering
dipanggil pekak Giri. Semua saudara kakek saya ini adalah laki-laki dan hanya
tiga orang yang masuk Kristen.
Tentang
keluarga saya, sewaktu kakek saya masih kuat, ia agak kurang memperhatikan
persawahan, tetapi dia itu memang termasuk kuat didalam mengambil kebiasaan
kesenangannya itu, seperti menyabung ayam, mekelesan
(judi yang menggunakan uang kepeng sebagai media), dan ini bukan saja di Denpasar
saja, tetapi juga di Soka juga dan malahan orang disana itu meminta kakek saya
itu menjadi anak angkatnya, karena begitu pintarnya dia di dalam mengkoordinasi
orang main (makelesan).