Friday, April 29, 2016

Setelah Masuk Kristen Dia Kan Lantas Dapat Sumbangan



Nama Informan : I Made Gubeg, alias Pan Made Suarda (1)
Tempat Wawancara : Banjar Balangan, Dewa Kuwum, Badung
Tanggal: 5 Januari 2002
Pewawancara : Nyoman Wijaya, Ketua TSP
Transkriptor : Dewa Ayu Satriawati, Staf Admin TSP
Korektor : Nyoman Wijaya, Ketua TSP



Pengantar:
Saya sedang mencari informasi yang lebih jelas mengenai Pan Loting dari sudut pandang keluarganya yang masih beragama Hindu. I Made Gubeg adalah salah satu dari darinya, selain Ketut Rada, Made Darma, dan Nyoman Bukel yang sudah diwawancarai pada kesempatan lain. I made Gubeg adalah seorang cucu dari Pan Loting yang merupakan anak dari keponakannya bernama Made Jerug. I Made Gubeg adalah kakak dari Nyoman Bukel. Wawancara kali ini akan banyak sekali bercerita mengenai leluhur Pan Loting yang disebut Pasek Badak. Pasek Badak diyakini oleh para keturunannya sebagai orang yang mampu mengalahkan Raja Mengwi. Karena ada Pasek Badak, hanya Desa Buduk yang belum bisa dikalahkan oleh Raja Mengwi, dalam upayanya menyatukan dan desa-desa yang ada dalam wilayah kekuasaannya, menjadi kerajaan besar. Namun karena kesetiannya terhadap raja, maka dalam suatu perang tanding dengan raja, Pasek Badak bersedia mengalah dengan cara membuka rahasia kesaktiannya, berupa cane  (sirih yang biasa dipakai dalam suatu rapat. Untuk jelasnya lihat file “Katanya, Karena Saya Sama Sekali Tidak Pernah Melihat Tuhan Secara Nyata”; “Setelah Menjelang Meninggal Dia Kembali Masuk Kristen”; dan “Tidak, yang Ada Dari Hindu Masuk Ke Kristen.”

Tahun berapa Kekek Loting meninggal?
Sekitar 1968 bulan 6.

Oh jadi tahun 1968 hilang (meninggal) begitu?
Ya. Habis bertarung (adu kesaktian ilmu leak) dia di Penarungan. Di Penarungan dia kalah, dia kan jadi bukur (menara usungan [sekah, perwujudan orang yang meninggal dibuat dari kayu cendana dan lain-lain dalam upacaya pitra yadnya {upacara yang terkait dengan siklus kehidupan manusia} ] yang bertingkat menjulang tinggi dengan hiasan berwarna serba putih dan kuning) dan dikalahkan sama Garuda.

Bukur itu apa?
Ya yang berupa kesaktian pengleakan.

Bagaimana rupa bukur itu?
Saya kan tidak tahu.

Kalahnya melawan Garuda gitu?
Ya.

Orang dari mana yang mengalahkan dia?
Dari Tuak Ilang, Penebel.

Berarti kan lebih sakti jadinya dia?
Ya lebih sakti. Kakek Loting itu sudah seratus kali mengalahkan lawan, tapi dia itu malah kalah dengan lawannya yang ini. Dia itu kan sakti. Dia itu sering istilahnya metangtang (saling menantang) di kuburan Penarungan.

Nah saat dia kalah itu siapa yang bilang seperti itu, aapak Pekak Loting-nya?
Pekaknya dia kan bilang begini, “jani bapa suba kalah, baang bapa ngidih yeh.” (sekarang Bapak sudah kalak, ijinkan Bapak minta air). Hanya air saja sedikit saat menjelang ajalnya karena sudah kalah saat dia jadi Bukur dan dikalahkan oleh Garuda, saat bertarung di Kuburan Penarungan. (Maksudnya begini: dengan menggunakan ilmunya, Pan Loting berubah wujud menjadi sebuah bukur, sedangkan lawannya berubah menjadi seekor burung garuda)

Lalu siapa yang dimintai air?
Ya keponakannya dan keluarganya di rumah.

Thursday, April 28, 2016

Tidak, yang Ada Dari Hindu Masuk Ke Kristen


 Nama Informan                      : Ketut Rada (50 tahun)  (3)
Pewawancara                         : Nyoman Wijaya, Ketua TSP
Tempat Wawancara               : Banjar Pasekan, Buduk, Badung
Tanggal                                   : 6 Januari 2002
Transkriptor                            : Dewa Ayu Satriawati, Staf Admin Tsp
Korektor                                  : Nyoman Wijaya, Ketua TSP


Saya masih sedang berusaha mencari bukti-bukti bahwa Pan Loting mendua, bimbang setelah dia memeluk agama Kristen. Sulit sekali mencari bukti-buktinya, sehingga saya harus berputar-putar untuk mendapatkan jawaban, karena sekalipun para informan punya hubungan keluarga dengan Pan Loting, namun selisih umur mereka terlalu jauh menyulitkan hal itu. Kisah wawancaranya sebagai berikut:


Nah sekarang kalau cucunya Kakek Loting, yang ayahnya kena G30S/PKI itu sekarang dimana?
Di rumahnya ada dua, di Kwanji satu, di Malang satu, di Sulawesi satu.

Itu anaknya Pak Bacol itu ya?
Ya.

Berarti kan Kristen semuanya?
Ya Kristen.

Nah sekarang ada tidak konflik karena tanah warisan itu, di antara keluarga Kristen?
Tidak. Sedangkan paibon yang ada di karang (pekarangan rumah)-nya dia, sekarang itu secara suka rela diberikan sama dia, untuk dijadikan jaba (halaman paling luar dalam suatu pura)  kalau dulu jaba-nya kan menghadap keselatan ya dan bercampur dengan karang (halaman rumah)-nya dia dan sekarang itu semuanya sudah terpisah. Dan itu diberikan secara sukarela.

Wednesday, April 27, 2016

Setelah Menjelang Meninggal Dia Kembali Masuk Kristen



Nama Informan                      : Ketut Rada (50 tahun)  (2)
Pewawancara                         : Nyoman Wijaya, Ketua TSP
Tempat Wawancara               : Banjar Pasekan, Buduk, Badung
Tanggal                                   : 6 Januari 2002
Transkriptor                            : Dewa Ayu Satriawati, Staf Admin Tsp
Korektor                                  : Nyoman Wijaya, Ketua TSP


Setelah wawancara, saya diajak oleh Ketut Rada melihat-melihat pura keluarga Pan Loting sebagai berikut:

Kalau yang disebelah selatan pura-nya itu?
Ya itu pura Kakek Loting.

Kalau yang disebelah utara Pura?
Kalau yang disebelah utara pura-nya saya. Karena puranya tidak dikasi agak keselatan, maka terpaksa di ke utarakan lagi sedikit.

Monday, April 25, 2016

Katanya, Karena Saya Sama Sekali Tidak Pernah Melihat Tuhan Secara Nyata

Nama Informan                      : Ketut Rada (50 tahun)  (1)
Pewawancara                         : Nyoman Wijaya, Ketua TSP
Tempat Wawancara               : Banjar Pasekan, Buduk, Badung
Tanggal                                   : 6 Januari 2002
Transkriptor                            : Dewa Ayu Satriawati, Staf Admin Tsp
Korektor                                  : Nyoman Wijaya, Ketua TSP


Pengantar
Saya diantarkan ke rumah Ketut Rada oleh Nyoman Bukel, asal Banjar Balangan, Desa Sembung, Mengwi yang masih merupakan salah satu cucu Pan Loting, anak dari seorang keponakannya (Made Jerug). Dia sering ikut memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang saya ajukan kepada Ketut Rada. Sama dengan Nyoman Bukel, Ketut Rada masih satu paibon (tempat pemujaan leluhur dari keluarga yang masih jelas pertalian kekerabatannya dengan Pan Loting. Pan Loting  (nama aslinya Made Gepek) adalah  seorang dukun sakti  masuk ke agama Kristen karena ingin melihat Tuhan secara kasat mata. Dan disebut-sebut pernah dikalahkan oleh Tsang To Hang (zending) yang penyebarkan agama Kristen di Bali tahun 1930-an. Supaya lebih jelas, silakan file “Kesabaran Orang-Orang Kristen Itu Membuat Saya Tertarik” dan “Meskipun Secara Kristen Saya Ucapkan tetapi dalam Hati Saya Lain.”
            Dalam perjalanan menuju ke rumah Ketut Rada, saya sempat bercakap-cakap dengan Nyoman Bukel sebagai berikut:

Dapat surat edaran saja untuk menonoton, perang api  mebarungan di kuburan Penarungan. Dapat surat edaran gitu?
Ya edaran langsung.

Satu Keluarga, yang Wanita Kristen dan yang Lakinya Hindu




Nama Informan                      : Gusti Bagus Budiantara (2)
Tempat wawancara                : Desa Gitgit, Dusun Sukasada, Buleleng
Tanggal                                   : 18 Maret 2002
Pewawancara                         : Arya Suharja, tim peneliti TSP 
Transkriptor                            : Dewa Ayu Raka Satriawati, tim admin TSP Korektor                                  : Nyoman Wijaya, Ketua TSP

Berapa KK jemaat yang di Gitgit ini?
Kalau di sini itu cuma, lima setengah. Jadi kenapa saya itu katakan lima setengah, satu keluarga, yang wanita Kristen dan yang lakinya Hindu. Tapi diluar jemaat ini, seperti di Denpasar dia itu bisa pindah secara formal, belum dia pindah.

Kalau stambuk yang ada di Gereja Gitgit, sampai sekarang itu ada berapa pak?
Sebenarnya stambuknya itu memang rapi sekali, dan itu dari jaman-jaman lama itu memang sudah ada, hanya sayangnya stambuk itu dipinjam oleh pak Wayan Sugiri Usada dan dia adalah mantan bendahara GKPB.

Belum dikembalikan?
Belum, itu kan teman saya yang menyerahkan.

Sunday, April 24, 2016

Cara Menyebarkan Firman Itu Sangat Sederhana Sekali




Nama Informan                     : Gusti Bagus Budiantara (1)
Tempat wawancara               : Desa Gitgit, Dusun Sukasada, Buleleng
Tanggal                                   : 18 Maret 2002
Pewawancara                        : Arya Suharja, tim peneliti TSP 
Transkriptor                           : Dewa Ayu Raka Satriawati, tim admin TSP
Korektor                                 : Nyoman Wijaya, Ketua TSP

Hari ini tanggal 18 Maret 2002, saya Arya Suharja dari TSP sedang berada di Gitgit, Desa Gitgit, Dusun Sukasada, sedang behadapan dengan Bapak I Gusti Bagus Budiantara, beliau ini lahir tanggal 24 Mei 1947.

Pak Gusti bisa ceritakan sedikit tentang latar belakang keluarganya Pak Gusti?
Terima kasih atas kesempatan yang sangat bagus ini, nah sesuai apa yang pak minta saya akan terangkan sedikit mengenai latar belakang atau keadaan keluarga saya. Saya adalah putra dari Gusti Bagus Diksa namanya, yang dulu juga pendeta di Gereja Bali jamannya Pak Ketut Suweca itu. nah kalau sekarang beliau itu sudah almarhum. Beliau itu meninggal dua tahun yang lalu. Beliau kan sempat pulang dan dua bulan di sini dan kemudian dia itu meninggal di Sulawesi. 

Saturday, April 23, 2016

Sudah Pindah Agama Juga Tidak Sembuh




Nama Informan         :  Pendeta I Gusti Putu Puger (4) 
Pewawancara            : Nyoman Wijaya, Ketua TSP

Tempat                       : Bongan, Munduk, Tabanan, 6 September 2001
Transkriptor               : Dewa Ayu Satriawati, staf admin TSP
Korektor                     : Nyoman Wijaya, Ketua TSP



Sekarang saya sedang berhadapan dengan istri dari pendeta I Gusti Putu Puger.

Katanya ibu asalnya dari Plambingan?
Ya, saat saya masih kecil.

Berarti sudah Kristen dari kecil ya?
Ya, tapi ibu saya tidak mau.

Plambingan itu dimana?
Di sebelah barat Banjar Anyar.