Nama Informan : Pendeta I Gusti Putu Puger (4)
Pewawancara : Nyoman Wijaya, Ketua TSP
Pewawancara : Nyoman Wijaya, Ketua TSP
Tempat :
Bongan, Munduk, Tabanan, 6 September 2001
Transkriptor : Dewa Ayu Satriawati, staf admin TSPKorektor : Nyoman Wijaya, Ketua TSP
Sekarang saya
sedang berhadapan dengan istri dari pendeta I Gusti Putu Puger.
Katanya ibu
asalnya dari Plambingan?
Ya, saat saya
masih kecil.
Berarti sudah
Kristen dari kecil ya?
Ya, tapi ibu
saya tidak mau.
Plambingan itu
dimana?
Di sebelah
barat Banjar Anyar.
Di rumahnya Pendeta
Made Rungu ya?
Ya.
Berarti ibu kenal dengan Pendeta
Rungu.
Ya, dia itu
ipar saya.
Ipar bagaimana
itu?
Kakak saya yang
sulung dijadikan istrinya.
Ibu berapa
orang saudaranya?
Empat orang.
Siapa saja namanya?
I Wayan Kari,
Made Puri, Nyoman Maja dan yang terakhir saya.
Lalu yang mana
yang diambil oleh pendeta rungu?
Yang paling
besar.
Kalau Pendeta
Rungu itu apa memang Kristen atau sebelumnya merupakan Hindu?
Hindu.
Lalu di mana
beliau mendapat informasi?
Ya, saya soal
itu, saya saat itu masih kecil.
Siapa di
keluarganya ibu yang tidak mau masuk kristen?
Ya, itu dah ibu
saya.
Bagaimana
ibunya bilang?
Tidak ibu saya
tidak bilang, tapi begini kalau sudah datang pendetanya,….
Pendeta siapa?
Pendeta Wayan
Kirig dari Untal-Untal, lalu saat itu juga ibu saya membuat sajen dan mecaru di
halaman rumah. Lalu ibu saya juga mencari balian,
lalu asal sudah ada tamu yang datang ke rumah saya.
Apa yang di
cari tamunya ke sana?
Ya. Karena Bapak
saya yang percaya paling pertama.
Siapa nama Bapaknya?
Ya saya sudah
lupa.
Masak nama Bapaknya
lupa?
Kira-kira Made
Dedyung.
Satu kampung
dengan Made Rungu?
Tidak.
Dia satu
kampung dengan Gusti Putu Sanur?
Ya, dari sana
dah Bapak saya mendapat berita.
Dari Gusti Putu
Sanur?
Saat itu kan
kerana Bapak saya tinggal di tempatnya Gusti Putu Sanur.
Menjadi apa dia
di sana?
Bapak saya kan
berobat dulunya di sana.
Lalu Gusti Putu
Sanur menjadi balian (paranormal) beliau?
Ya. Lalu Bapak
saya lantas mendapat berita tentang agama Kristen, lalu Bapak saya mau masuk
agama Kristen tapi ibu saya tidak mau. Saat itu ibu saya masih baru saja
melahirkan anak yang nomor tiga. Ibu saya tetap menjalankan upacara seperti
agama Hindu dan dia tidak mau masuk Kristen. Kakak saya juga tidak mau.
Oh jadinya ibunya tidak mau masuk
Kristen dia tetap jadinya me-bali-bali (melaksanakan tradisi Bali) dan Bapak
tidak di perdulikan begitu?
Ya, dan Bapak
saya juga begitu dia sama sekali tidak mau memperhatikan ibu saya. Lantas baru
selesai metatah (upacara potong gigi)
dan juga metelubulanan (upacaramenyambut
usia tiga bulan, 105 hari) baru kakak saya mau.
Mau berganti
agama gitu?
Ya.
Apa yang
menyebabkan ia mau masuk agama kristen?
Itu karena dia
sudah selesai metelubulanan dan juga metatah.
Jadinya sesudah selesai metelubulanan
dan metatah baru kakaknya yang perempuan mau masuk Kristen?
Ya.
Kalau ibu
sendiri?
Saat itu kan
saya masih kecil dan saya sama sekali belum tahu apa-apa.
Ya, waktu itu
kan masih kecil, lalu ikut begitu saja dengan Bapak kan begitu jadinya?
Ya, saya sama
ibu.
Oh ibunya juga
mau?
Ya, setelah
beberapa hari lalu ibu saya juga mau.
Bagaimana kok
bisa dia mau?
Ibu saya kan
beretengakar terus dan ibu saya terus ngambek. Lalu ia pulang ke Babakan.
Di mana Banjar
Babakan ini?
Di Aseman. Ke
sebelah barat.
Badung atau
Tabanan?
Ya, Badung.
Lalu dia pulang
ke rumah tuanya kan begitu jadinya?
Ya, dan saya
ikut saja karena saya saat itu masih kecil, dan saat itu saya belum tahu
apa-apa.
Lalu akhirnya
dia mau berganti agama?
Mau.
Bapaknya saat
itu sakit apa, sampai berobat dengan Gusti Putu sanur?
TBC.
Di sana
berobat, borobat ala Kristen apa ala Bali?
Akhirnya dia
juga tidak sembuh. Tapi dia hanya tahu cara Kristen saja.
Ya, saat sudah
pindah agama juga tidak sembuh begitu?
Tidak.
Tidak seperti yang di katakan
sama Pak Pendeta Puger tadi, kalau sudah percaya kan bisa sembuh?
Tidak, tidak
ada yang mendoakan seperti itu.
Lantas sakit
sampai meninggal begitu?
Ya, saat itu
tidak ada pendeta yang langsung mendoakan.
Saat itu Gusti Putu Sanur hanya
mengobati biasa saja dan belum menjadi pendeta, saat itu caranya mengobati ala
Kristen apa ala Bali?
Kita dikasi bluang (anjing tanah) yang bisa terbang,
dan dikatakan kalau Bapak saya kena cetik
(racun)
Terus langsung
lantas ke Belimbing Sari?
Kalau saya,
saat itu baru tamat kelas tiga, saya
baru ikut ke sana.
Kalau itu turut
dengan siapa?
Ibu saya saja,
saat itu saya d tinggal waktu kecil sekali.
Lalu ibu yang
ke Blimbing Sari?
Ya, lalu di
sana ibu saya membeli tanah.
Jadinya membeli
ini tanah?
Ya.
Apakah tidak
memperoleh bagian?
Tidak, saya kan
tidak punya siapa-siapa, karena tidak punya saudara laki.
Berapa orang
masyarakat di Plambingan yang beragama Kristen?
Cuma sedikit,
saya Made Rungu, ibu Yahya, ibu Adeg, dan I Wayan Sangker cuma itu saja. Saat
ibu Yahya anaknya meninggal itu yang paling keras sengsaranya di Plambingan.
Bagaimana itu?
Ikut Dadong
Ratna yang sudah dibakar, lalu tidak di kasi kuburan, lalu dia dikuburkan di
tanah ipar saya Made Rungu, lalu yang sudah dikuburkan, lagi dibongkar
kuburannya, oleh banjaranya, lalu sesudah dibongkar itu mau di bakar apinya
juga disiram. Lalu lagi anaknya ibu Yahya itu meninggal dan sudah dikubur lagi
dibongkar sama banjar-nya, dan
lehernya anak itu di seret.
Nanti kita lanjutkan ceritanya
itu lagi, apa yang menyebabkan ibunya pindah ke Blimbing Sari?
Karena saya
punya kakak perempuan dua, dan keduanya ke sana saya kan jadinya tidak ada
siapa di rumah.
Lalu jadinya
turut ipar jadinya ke sana?
Ya, ke sini
beli tanah.
Siapa yang beli
tanah?
Ibunya saya.
Dan yang mencari Pak Rungu dan saya yang mengasi uangnya.
Nah lalu siapa
yang lebih dulu pindah ke sana ibu apa Bapak Rungu?
Pak Rungu, dia
saat itu sudah menjadi pendeta.
Berarti Pak Rungu
itu tidak melihat daerah yang sudah bagus saat itu?
Tidak.
Saat itu sudah
ada masyarakat dan bukan beliau yang pertama kali?
Tidak.
Turut ke sana?
Dia ke sana kan
sudah di tugaskan?
Lalu ibunya membeli tanah di
sana.
Kalau di Sudimara kan juga
membeli tanah bersama Made Rungu, apakah jadi satu tanahnya?
Kalau yang tiga hektar itu, saya mendapat satu setengah,
dan beliau juga satu setengah.
Sekarang
berdekatan jadinya rumahnya bersama pendeta Rungu?
Ya. Saya di
sebelah utara dan Pendeta Rungu yang di sebelah selatan.
Kalau Pak Pendeta Puger kan sudah dari dulu dapat?
Ya.
Jadinya Pendeta
Rungu kan pendatang?
Ya.
Belakangan dia
datang?
Belakangan dan
sudah menjadi pendeta.
Jadinya sudah
mendapati daerah yang sudah ada, jadinya dia datang di jaman Jepang?
Kalau di datang
setelah semuanga orang di sana punya lahan.
Sudah punya rumah semuanya di
situ, beliau baru turut ke sana, begitu, sekarang beli tanah tiga hektar, lalu
dibagi berdua, siapa saja yang mengasi uang?
Ibu saya saja.
Jadinya pendeta
Rungu tidak mengasi uang?
Ya, kan sudah di kembalikan sedikit demi sedikit. Lalu
sekarang sudah lunas.
Jadinya saat
itu dia tidak bermodal?
Ya, tapi kan
beliau sebagai pembicaranya. Jadi di sini, di depannya rumahnya Gung Aji
(maksudnya, Pendeta Puger), sebelah timurnya, iparnya saya dan di sebelah
utaranya saya. Tapi saya dulu tidak seperti sekarang, dulu kita dekat saja
tidak berani.
Jadinya dulu
kan pacarannya dekat?
Tidak kan Bapaknya
masih di sebelah utura di pinggir hutannya itu.
Sekarang sedikit, saya tanya apa
yang menyebabkan pindah ke Blimbing Sari apa hanya ikut ibu saja?
Ya.
Siapa yang
mengajak ibunya ke sana Pendeta Rungu?
Ya.
Jepangnya sudah
datang ke sana?
Belum.
Lalu lagi
berapa bulannya lantas datang ke sana jepangnya?
Lagi berapa
bulannya, saya tidak tahu, saat saya menikah itu sudah jaman Jepangnya. Saya
menikah pas pertengahannya.
Kalau tanah itu
saat itu sudah di bagi?
Sudah, saat itu
tanahnya sudah dibagi saat itu.
Sekarang coba
ingat dulu waktu membeli tanah itu, berapa harga tanah itu?
Kira-kira saya
beli dulu tiga ringgit.
Lalu siapa yang
punya tanah itu?
Saya tidak
tahu, saat itu saya masih ada di timur.
Saat itu kan Pendeta
Rungu diam di sana kan langsung sudah bertugas menjadi pendeta?
Ya, kakak saya
sudah punya anak, namanya Suleman.
Jadinya jaman
jepang beliau datang ke sana. Lalu beliau lantas datang ke jawa?
Kalau itu saya
tidak tahu, apakah dibaptis atau tidak.
Sekarang ceritakan yang di
Plambingan kan jadinya Pak Rungu adalah iparnya ibu, kalau saat di Plambingan
sudah beliau beragama Kristen saat itu?
Sudah, saat
menikahnya di Badung, saya saat itu masih kecil dan belum tahu apa-apa. itu dah
adik saya waktu itu masih kecil dan sudah tidak punya Bapak, itu makanya ibu
saya berusaha membeli tanah agar berkumpul dengan anaknya.
Kalau ibunya memang itu yang
menjadi alasan atau memang pendeta Rungu yang mengajak ke sana?
Ya, hanya itu
agar berkumpul dengan anaknya. Kan saya punya kakak perempuan dan semuanya
sudah di sana.
Kan pendeta
Rungu yang menikahi satu lalu lagi satunya siapa?
Wayan Suci dari
Simon.
Lalu membeli
juga tanah di sana?
Ya.
Sekarang kita lanjutkan sedikit,
saat sudah menjadi pendeta lalu mendapat tugas di sini, saat genting negaranya,
saat terjadi G/30/S/PKI, dimana saja (Pak Pendeta Puger) tugas memberikan ke
baktian, apakah berjalan kebaktiannya saat itu?
Ya, tetap
berjalan seperti di Sudimara.
Apakah masih ada yang memberikan
doa-doa kepada umat yang beragama Hindu lalu beralih ke Kristen, artinya orang
yang sakit?
Kalau itu masih
banyak, pada waktu itu sering di depan kita itu ada pedang.
Terus teman-teman Kristen tidak
bermusuhan dengan orang yang di sini apakah tidak di jadikan sasaran untuk dibunuh?
Tidak.
Jadi tidak ada jemaat yang
menjadi korban, atau mungkin malah semakin banyak orang yang berganti agama?
Saya waktu itu
membantu enam bulan, orang sering datang ke sini.
Kalau
pertumbuhan Gereja bagaimana?
Sudah berjalan
seperti biasa dan antara umat juga sudah
saling hormat.
Saat itu dimana
saja ada gereja baru?
Tidak ada.
Berarti tetap
sama seperti itu?
Sama.
Kalau ke Sudimara
tetap juga bertugas?
Tetap,
tapi saya takut malam-malam, itu yang saya takutkan pedangnya itu.
Waktu sudah
menjadi pendeta ke Blatungan apakah pernah lagi?
Ya, saya hanya
meninjau saja ke sana.
Apa yang ditinjau
ke sana, apa perubahannya di sana?
Kan yang di
Blatungan anaknya saya, Gung Rai.
Lalu akhirnya apa perubahannya,
semasih menjadi Guru injil kemudian setelah menjadi pendeta, apa kemudian
kemajuan yang telah dicapai di sana?
Kan waktu itu
ada Pajahan.
Apa itu
Pajahan?
Di
sebelahnya itu kan ada Pajahan.
Oh ada lagi Pajahan
di sebelah Blatungan itu?
Lalu di sana
saya di minta untuk meminang orang Sudra.
Meminang ya?
Ya, mengesahkan
suatu perkawinan.
Apa tugas
pendeta di sana?
Ya, biasa saja.
Saat itu
perkawinan antara orang beda agama atau orang yang sesama agama?
Sebelumnya itu,
orang laki itu dari Kaba-Kaba, dan orang yang perempuan dari Pajahan, dan itu
harus disahkan, karena dia orang sudra harus seperti peraturannya itu memang
harus disahkan agar jangan Kristen tidak, Hindu juga tidak. Dan yang ditugaskan
untuk mengesahkan itu adalah saya.
Kalau tentang
gereja sudah ada waktu itu?
Belum, dan
sekarang kan sudah ada. Dan sekarang kan Gung Rai, anak saya yang menjadi pendeta
di sana.
Jadi pendeta
dia di sana?
Ya. Dia yang
mengurus gereja. Pernah ditantang saya oleh orang-orang Pupuan, dia itu punya
kekuatan magic (sabuk, jimat).
Sabuk?
Ya. ………….
Terus yang di Sudimara, apa
perbedaannya yang dilihat setelah menjadi pendeta, waktu menjadi Guru Injil kan
sudah ke sana, setelah menjadi pendeta kan lagi juga datang ke sana, nah
setelah menjadi pendeta kan lagi bertugas di sana, apakah jemaatnya semakin
berkurang atau bertambah, atau semakin sedikit atau semakin bertambah?
Ya, semakin
bagus tapi bertambahnya sulit, kalau bagusnya kan begini dulu kan ada pemuda
dan pemudi mengadakan drama, dan dia main di Singaraja dan setelah di Singaraja
mau ke sini di Sudimara, dan saya bilang ke pada pemuda dan pemudinya di sana,
dia mau ndak menyiapkan tempat, dan akhirnya mereka mau.
Terus apakah Pak Pendeta bertemu
lagi dengan orang-orang yang sakit kemudian sembuh, dengan beliau-beliau yang
beralih agama. Seperti misalnya yang sakit korengan itu, apakah yang dulu
berpindah agama tetap bertahan?
Ya, tetap.
Malahan rumahnya juga sudah bagus-bagus, pada waktu itu di Sudimara itu sama
sekali tidak ada yang memakai kain seperti ini semuanya pakai kancut (ujung kain yang menjurai ke
bawah) istilah Bali-nya.
Kemudian kalau
di Piling perkembangannya bagaimana?
Kalau di sana
ada masalah yang tidak baik, di sana itu ada tajen (judi sabungan ayam) , terus ada juga yang punya istri dua.
Itu yang punya
istri dua itu orang kristen?
Ya, dia kan
punya istri dua.
Terus bagaimana
caranya memecahkan masalahnya?
Ya, mereka lagi
bercerai.
Terus tempat yang lain lagi
seperti di Bengkel apa tidak pernah lagi di kunjungi setelah menjadi pendeta?
Pernah juga
mengadakan sumpah, kan menurut peraturan adat di sana kan, kalau orang pindah
agama kan perlu disumpah, dan di muka orang banyak itu.
Kalau yang di Ngis
ada kemajuan setelah menjadi pendeta?
Biasa.
Jadi di Ngis tidak pernah maju,
jadi waktu menjadi Guru Injil juga tidak pernah maju, begitu juga setelah
menjadi pendeta?
Ya, di sana
masih biasa, terus di Jegu juga ada satu KK.
Terus di
kunjungi setelah menjadi pendeta apa sebelum menjadi pendeta?
Ya, setelah
menjadi pendeta, sehabis kebaktiannya di Piling terus ke Ngis terus ke Jegu.
Terus yang di
Pasut juga pernah lagi dikunjungi?
Sudah, tapi
tidak ada perkembangan.
Oh jadinya memang sudah tidak
berkembang ketika menjadi Guru Injil, begitu juga dengan yang di Lalang
Linggah?
Sama.
Pernahkan pendeta mendengar kalau
orang-orang yang dulu sudah sadar berganti agama lagi dia kembali ke agama Hindu?
Ya, ada satau
orang yang di Tanah pegat itu. Dia yang menderita sakit Lepra yang juga pernah
di obati di jawa kemudian dia sembuh dan pulang kemudian menjadi tukang wadah (ahli membuat menara usungan mayat).
Sekarang
ceritanya sedikit lain, kalau Pan Loting pernah ndak mendengar tentang dia?
Pernah
Pernah
nggak beliau ke sini?
Tidak.
Lalu di mana
pernah mendengar cerita pan Loting?
Dari Gusti Putu
Sanur.
Terus apa yang
dia bilang tentang pan Loting?
Ya, dia kan
sama-sama……
Mana yang lebih
tua Gusti Putu Sanur apa Pan Loting?
Ya, saya saya
idak tahu.
Berarti yang
berjasa di sini dapat di simpulkan Gusti Putu Sanur?
Ya.
Jadi beliau
yang datang ke sini?
Ya.
Memperkenalkan agama
Kristen kepada keluarga di sini?
Ya.
Dan itu juga
karena ada hubungan keluaraga kan begitu?
“Ya.
Kemungkinan beliau dan saat itu saya masih kecil,” jawab istri Pendeta Putu
Puger.
Pernah melihat
beliau?
Pernah.
Berarti yang
Plambingan juga Gusti Putu Sanur?
“Ya, Bapak saya
yang berobat ke sana dan waktu itu saya juga masih kecil. Kalau saya juga masih
ingat dengan beliau dan saya memanggilnya beli
(kakak),” jawab istri Pendeta Putu
Puger.
Orangnya
bagaimana?
Tinggi besar.
Dan dia juga galak.
Sekarang saya
tanya sedikit apa tidak mempunyai photo?
Tidak. Waktu
dulu ibunya Gusti Putu Sanur yang datang ke rumah saya di Plambingan, saat
kakak saya mesambutan (upacara untuk
anak-anak yang belum tanggal giginya) , metatah
(upacara potong gigi) dan dia menyanyi dan saat itu tidak memakai sarana
banten,” jawab istri Pendeta Putu Puger.
Kalau Gusti
Putu Sanur pernah datang ke Blimbing sari?
“Tidak, hanya
sampai di Plambingan saja,” jawab istri
Pendeta Putu Puger.
Itu kan karena Bapaknya
juga berobat ke sana?
“Ya, berobat ke
sana dan mendapat agama Kristen,” jawab
istri Pendeta Putu Puger.
Perlu juga di tambahkan di rumah di
sini juga ada Parabola dan kamar mandinya juga cukup bagus, dan pepohonan cukup
rindang[]
No comments:
Post a Comment