Saturday, April 23, 2016

Sudah Pindah Agama Juga Tidak Sembuh




Nama Informan         :  Pendeta I Gusti Putu Puger (4) 
Pewawancara            : Nyoman Wijaya, Ketua TSP

Tempat                       : Bongan, Munduk, Tabanan, 6 September 2001
Transkriptor               : Dewa Ayu Satriawati, staf admin TSP
Korektor                     : Nyoman Wijaya, Ketua TSP



Sekarang saya sedang berhadapan dengan istri dari pendeta I Gusti Putu Puger.

Katanya ibu asalnya dari Plambingan?
Ya, saat saya masih kecil.

Berarti sudah Kristen dari kecil ya?
Ya, tapi ibu saya tidak mau.

Plambingan itu dimana?
Di sebelah barat Banjar Anyar.


Di rumahnya Pendeta Made Rungu ya?
Ya.

Berarti ibu kenal dengan Pendeta Rungu.
Ya, dia itu ipar saya.

Ipar bagaimana itu?
Kakak saya yang sulung dijadikan istrinya.

Ibu berapa orang saudaranya?
Empat orang.

Siapa saja namanya?
I Wayan Kari, Made Puri, Nyoman Maja dan yang terakhir saya.

Lalu yang mana yang diambil oleh pendeta rungu?
Yang paling besar.

Kalau Pendeta Rungu itu apa memang Kristen atau sebelumnya merupakan Hindu?
Hindu.

Lalu di mana beliau mendapat informasi?
Ya, saya soal itu, saya saat itu masih kecil.

Siapa di keluarganya ibu yang tidak mau masuk kristen?
Ya, itu dah ibu saya.

Bagaimana ibunya bilang?
Tidak ibu saya tidak bilang, tapi begini kalau sudah datang pendetanya,….

Pendeta siapa?
Pendeta Wayan Kirig dari Untal-Untal, lalu saat itu juga ibu saya membuat sajen dan mecaru di halaman rumah. Lalu ibu saya juga mencari balian, lalu asal sudah ada tamu yang datang ke rumah saya.

Apa yang di cari tamunya ke sana?
Ya. Karena Bapak saya yang percaya paling pertama.

Siapa nama Bapaknya?
Ya saya sudah lupa.

Masak nama Bapaknya lupa?
Kira-kira Made Dedyung.

Satu kampung dengan Made Rungu?
Tidak.

Dia satu kampung dengan Gusti Putu Sanur?
Ya, dari sana dah Bapak saya mendapat berita.

Dari Gusti Putu Sanur?
Saat itu kan kerana Bapak saya tinggal di tempatnya Gusti Putu Sanur. 

Menjadi apa dia di sana?
Bapak saya kan berobat dulunya di sana.

Lalu Gusti Putu Sanur menjadi balian (paranormal) beliau?
Ya. Lalu Bapak saya lantas mendapat berita tentang agama Kristen, lalu Bapak saya mau masuk agama Kristen tapi ibu saya tidak mau. Saat itu ibu saya masih baru saja melahirkan anak yang nomor tiga. Ibu saya tetap menjalankan upacara seperti agama Hindu dan dia tidak mau masuk Kristen. Kakak saya juga tidak mau.

Oh jadinya ibunya tidak mau masuk Kristen dia tetap jadinya me-bali-bali (melaksanakan tradisi Bali) dan Bapak tidak di perdulikan begitu?
Ya, dan Bapak saya juga begitu dia sama sekali tidak mau memperhatikan ibu saya. Lantas baru selesai metatah (upacara potong gigi) dan juga metelubulanan (upacaramenyambut usia tiga bulan, 105 hari) baru kakak saya mau.

Mau berganti agama gitu?
Ya.

Apa yang menyebabkan ia mau masuk agama kristen?
Itu karena dia sudah selesai metelubulanan dan juga metatah.

Jadinya sesudah selesai metelubulanan dan metatah baru kakaknya yang perempuan mau masuk Kristen?
Ya.

Kalau ibu sendiri?
Saat itu kan saya masih kecil dan saya sama sekali belum tahu apa-apa.
Ya, waktu itu kan masih kecil, lalu ikut begitu saja dengan Bapak kan begitu jadinya?
Ya, saya sama ibu.

Oh ibunya juga mau?
Ya, setelah beberapa hari lalu ibu saya juga mau.

Bagaimana kok bisa dia mau?
Ibu saya kan beretengakar terus dan ibu saya terus ngambek. Lalu ia pulang ke Babakan.

Di mana Banjar Babakan ini?
Di Aseman. Ke sebelah barat.

Badung atau Tabanan?
Ya, Badung.

Lalu dia pulang ke rumah tuanya kan begitu jadinya?
Ya, dan saya ikut saja karena saya saat itu masih kecil, dan saat itu saya belum tahu apa-apa.

Lalu akhirnya dia mau berganti agama?
Mau.

Bapaknya saat itu sakit apa, sampai berobat dengan Gusti Putu sanur?
TBC.

Di sana berobat, borobat ala Kristen apa ala Bali?
Akhirnya dia juga tidak sembuh. Tapi dia hanya tahu cara Kristen saja.

Ya, saat sudah pindah agama juga tidak sembuh begitu?
Tidak.

Tidak seperti yang di katakan sama Pak Pendeta Puger tadi, kalau sudah percaya kan bisa sembuh?
Tidak, tidak ada yang mendoakan seperti itu.

Lantas sakit sampai meninggal begitu?
Ya, saat itu tidak ada pendeta yang langsung mendoakan.

Saat itu Gusti Putu Sanur hanya mengobati biasa saja dan belum menjadi pendeta, saat itu caranya mengobati ala Kristen apa ala Bali?
Kita dikasi bluang (anjing tanah) yang bisa terbang, dan dikatakan kalau Bapak saya kena cetik (racun)

Terus langsung lantas ke Belimbing Sari?
Kalau saya, saat itu baru tamat  kelas tiga, saya baru ikut ke sana.

Kalau itu turut dengan siapa?
Ibu saya saja, saat itu saya d tinggal waktu kecil sekali.

Lalu ibu yang ke Blimbing Sari?
Ya, lalu di sana ibu saya membeli tanah.

Jadinya membeli ini tanah?
Ya.

Apakah tidak memperoleh bagian?
Tidak, saya kan tidak punya siapa-siapa, karena tidak punya saudara laki.

Berapa orang masyarakat di Plambingan yang beragama Kristen?
Cuma sedikit, saya Made Rungu, ibu Yahya, ibu Adeg, dan I Wayan Sangker cuma itu saja. Saat ibu Yahya anaknya meninggal itu yang paling keras sengsaranya di Plambingan.

Bagaimana itu?
Ikut Dadong Ratna yang sudah dibakar, lalu tidak di kasi kuburan, lalu dia dikuburkan di tanah ipar saya Made Rungu, lalu yang sudah dikuburkan, lagi dibongkar kuburannya, oleh banjaranya, lalu sesudah dibongkar itu mau di bakar apinya juga disiram. Lalu lagi anaknya ibu Yahya itu meninggal dan sudah dikubur lagi dibongkar sama banjar-nya, dan lehernya anak itu di seret.

Nanti kita lanjutkan ceritanya itu lagi, apa yang menyebabkan ibunya pindah ke Blimbing Sari?
Karena saya punya kakak perempuan dua, dan keduanya ke sana saya kan jadinya tidak ada siapa di rumah.

Lalu jadinya turut ipar jadinya ke sana?
Ya, ke sini beli tanah.

Siapa yang beli tanah?
Ibunya saya. Dan yang mencari Pak Rungu dan saya yang mengasi uangnya.

Nah lalu siapa yang lebih dulu pindah ke sana ibu apa Bapak Rungu?
Pak Rungu, dia saat itu sudah menjadi pendeta.

Berarti Pak Rungu itu tidak melihat daerah yang sudah bagus saat itu?
Tidak.

Saat itu sudah ada masyarakat dan bukan beliau yang pertama kali?
Tidak.
Turut ke sana?

Dia ke sana kan sudah di tugaskan?
Lalu ibunya membeli tanah di sana.

Kalau di Sudimara kan juga membeli tanah bersama Made Rungu, apakah jadi satu tanahnya?
Kalau yang  tiga hektar itu, saya mendapat satu setengah, dan beliau juga satu setengah.

Sekarang berdekatan jadinya rumahnya bersama pendeta Rungu?
Ya. Saya di sebelah utara dan Pendeta Rungu yang di sebelah selatan.

Kalau  Pak Pendeta Puger kan sudah dari dulu dapat?
Ya.

Jadinya Pendeta Rungu kan pendatang?
Ya.

Belakangan dia datang?
Belakangan dan sudah menjadi pendeta.

Jadinya sudah mendapati daerah yang sudah ada, jadinya dia datang di jaman Jepang?
Kalau di datang setelah semuanga orang di sana punya lahan.

Sudah punya rumah semuanya di situ, beliau baru turut ke sana, begitu, sekarang beli tanah tiga hektar, lalu dibagi berdua, siapa saja yang mengasi uang?
Ibu saya saja.

Jadinya pendeta Rungu tidak  mengasi uang?
Ya, kan sudah di kembalikan sedikit demi sedikit. Lalu sekarang sudah lunas.
Jadinya saat itu dia tidak bermodal?
Ya, tapi kan beliau sebagai pembicaranya. Jadi di sini, di depannya rumahnya Gung Aji (maksudnya, Pendeta Puger), sebelah timurnya, iparnya saya dan di sebelah utaranya saya. Tapi saya dulu tidak seperti sekarang, dulu kita dekat saja tidak berani.

Jadinya dulu kan pacarannya dekat?
Tidak kan Bapaknya masih di sebelah utura di pinggir hutannya itu.

Sekarang sedikit, saya tanya apa yang menyebabkan pindah ke Blimbing Sari apa hanya ikut ibu saja?
Ya.

Siapa yang mengajak ibunya ke sana Pendeta Rungu?
Ya.

Jepangnya sudah datang ke sana?
Belum.

Lalu lagi berapa bulannya lantas datang ke sana jepangnya?
Lagi berapa bulannya, saya tidak tahu, saat saya menikah itu sudah jaman Jepangnya. Saya menikah pas pertengahannya.

Kalau tanah itu saat itu sudah di bagi?
Sudah, saat itu tanahnya sudah dibagi saat itu.

Sekarang coba ingat dulu waktu membeli tanah itu, berapa harga tanah itu?
Kira-kira saya beli dulu tiga ringgit.

Lalu siapa yang punya tanah itu?
Saya tidak tahu, saat itu saya masih ada di timur.

Saat itu kan Pendeta Rungu diam di sana kan langsung sudah bertugas menjadi pendeta?
Ya, kakak saya sudah punya anak, namanya Suleman.

Jadinya jaman jepang beliau datang ke sana. Lalu beliau lantas datang ke jawa?
Kalau itu saya tidak tahu, apakah dibaptis atau tidak.

Sekarang ceritakan yang di Plambingan kan jadinya Pak Rungu adalah iparnya ibu, kalau saat di Plambingan sudah beliau beragama Kristen saat itu?
Sudah, saat menikahnya di Badung, saya saat itu masih kecil dan belum tahu apa-apa. itu dah adik saya waktu itu masih kecil dan sudah tidak punya Bapak, itu makanya ibu saya berusaha membeli tanah agar berkumpul dengan anaknya.
Kalau ibunya memang itu yang menjadi alasan atau memang pendeta Rungu yang mengajak ke sana?
Ya, hanya itu agar berkumpul dengan anaknya. Kan saya punya kakak perempuan dan semuanya sudah di sana.

Kan pendeta Rungu yang menikahi satu lalu lagi satunya siapa?
Wayan Suci dari Simon.

Lalu membeli juga tanah di sana?
Ya.

Sekarang kita lanjutkan sedikit, saat sudah menjadi pendeta lalu mendapat tugas di sini, saat genting negaranya, saat terjadi G/30/S/PKI, dimana saja (Pak Pendeta Puger) tugas memberikan ke baktian, apakah berjalan kebaktiannya saat itu?
Ya, tetap berjalan seperti di Sudimara.

Apakah masih ada yang memberikan doa-doa kepada umat yang beragama Hindu lalu beralih ke Kristen, artinya orang yang sakit?
Kalau itu masih banyak, pada waktu itu sering di depan kita itu ada pedang.

Terus teman-teman Kristen tidak bermusuhan dengan orang yang di sini apakah tidak di jadikan sasaran untuk dibunuh?
Tidak.

Jadi tidak ada jemaat yang menjadi korban, atau mungkin malah semakin banyak orang yang berganti agama?
Saya waktu itu membantu enam bulan, orang sering datang ke sini.

Kalau pertumbuhan Gereja bagaimana?
Sudah berjalan seperti biasa dan antara umat juga  sudah saling hormat. 

Saat itu dimana saja ada gereja baru?
Tidak ada.

Berarti tetap sama seperti itu?
Sama.

Kalau ke Sudimara tetap juga bertugas?
Tetap, tapi saya takut malam-malam, itu yang saya takutkan pedangnya itu.

Waktu sudah menjadi pendeta ke Blatungan apakah pernah lagi?
Ya, saya hanya meninjau saja ke sana.


Apa yang ditinjau ke sana, apa perubahannya di sana?
Kan yang di Blatungan anaknya saya, Gung Rai.

Lalu akhirnya apa perubahannya, semasih menjadi Guru injil kemudian setelah menjadi pendeta, apa kemudian kemajuan yang telah dicapai di sana?
Kan waktu itu ada Pajahan.

Apa itu Pajahan?
Di sebelahnya itu kan ada Pajahan.

Oh ada lagi Pajahan di sebelah Blatungan itu?
Lalu di sana saya di minta untuk meminang orang Sudra.

Meminang ya?
Ya, mengesahkan suatu perkawinan.

Apa tugas pendeta di sana?
Ya, biasa saja.

Saat itu perkawinan antara orang beda agama atau orang yang sesama agama?
Sebelumnya itu, orang laki itu dari Kaba-Kaba, dan orang yang perempuan dari Pajahan, dan itu harus disahkan, karena dia orang sudra harus seperti peraturannya itu memang harus disahkan agar jangan Kristen tidak, Hindu juga tidak. Dan yang ditugaskan untuk mengesahkan itu adalah saya.

Kalau tentang gereja sudah ada waktu itu?
Belum, dan sekarang kan sudah ada. Dan sekarang kan Gung Rai, anak saya yang menjadi pendeta di sana.

Jadi pendeta dia di sana?
Ya. Dia yang mengurus gereja. Pernah ditantang saya oleh orang-orang Pupuan, dia itu punya kekuatan magic (sabuk, jimat).

Sabuk?
Ya. ………….

Terus yang di Sudimara, apa perbedaannya yang dilihat setelah menjadi pendeta, waktu menjadi Guru Injil kan sudah ke sana, setelah menjadi pendeta kan lagi juga datang ke sana, nah setelah menjadi pendeta kan lagi bertugas di sana, apakah jemaatnya semakin berkurang atau bertambah, atau semakin sedikit atau semakin bertambah?
Ya, semakin bagus tapi bertambahnya sulit, kalau bagusnya kan begini dulu kan ada pemuda dan pemudi mengadakan drama, dan dia main di Singaraja dan setelah di Singaraja mau ke sini di Sudimara, dan saya bilang ke pada pemuda dan pemudinya di sana, dia mau ndak menyiapkan tempat, dan akhirnya mereka mau.
Terus apakah Pak Pendeta bertemu lagi dengan orang-orang yang sakit kemudian sembuh, dengan beliau-beliau yang beralih agama. Seperti misalnya yang sakit korengan itu, apakah yang dulu berpindah agama tetap bertahan?

Ya, tetap. Malahan rumahnya juga sudah bagus-bagus, pada waktu itu di Sudimara itu sama sekali tidak ada yang memakai kain seperti ini semuanya pakai kancut (ujung kain yang menjurai ke bawah) istilah Bali-nya.

Kemudian kalau di Piling perkembangannya bagaimana?
Kalau di sana ada masalah yang tidak baik, di sana itu ada tajen (judi sabungan ayam) , terus ada juga yang punya istri dua.

Itu yang punya istri dua itu orang kristen?
Ya, dia kan punya istri dua.

Terus bagaimana caranya memecahkan masalahnya?
Ya, mereka lagi bercerai.

Terus tempat yang lain lagi seperti di Bengkel apa tidak pernah lagi di kunjungi setelah menjadi pendeta?
Pernah juga mengadakan sumpah, kan menurut peraturan adat di sana kan, kalau orang pindah agama kan perlu disumpah, dan di muka orang banyak itu.

Kalau yang di Ngis ada kemajuan setelah menjadi pendeta?
Biasa.

Jadi di Ngis tidak pernah maju, jadi waktu menjadi Guru Injil juga tidak pernah maju, begitu juga setelah menjadi pendeta?
Ya, di sana masih biasa, terus di Jegu juga ada satu KK.

Terus di kunjungi setelah menjadi pendeta apa sebelum menjadi pendeta?
Ya, setelah menjadi pendeta, sehabis kebaktiannya di Piling terus ke Ngis terus ke Jegu.

Terus yang di Pasut juga pernah lagi dikunjungi?
Sudah, tapi tidak ada perkembangan.

Oh jadinya memang sudah tidak berkembang ketika menjadi Guru Injil, begitu juga dengan yang di Lalang Linggah?

Sama.
Pernahkan pendeta mendengar kalau orang-orang yang dulu sudah sadar berganti agama lagi dia kembali ke agama Hindu?
Ya, ada satau orang yang di Tanah pegat itu. Dia yang menderita sakit Lepra yang juga pernah di obati di jawa kemudian dia sembuh dan pulang kemudian menjadi tukang wadah (ahli membuat menara usungan mayat).

Sekarang ceritanya sedikit lain, kalau Pan Loting pernah ndak mendengar tentang dia?

Pernah

 

Pernah nggak beliau ke sini?
Tidak.

Lalu di mana pernah mendengar cerita pan Loting?
Dari Gusti Putu Sanur.

Terus apa yang dia bilang tentang pan Loting?
Ya, dia kan sama-sama……

Mana yang lebih tua Gusti Putu Sanur apa Pan Loting?
Ya, saya saya idak tahu.

Berarti yang berjasa di sini dapat di simpulkan Gusti Putu Sanur?
Ya.
Jadi beliau yang datang ke sini?
Ya.

Memperkenalkan agama Kristen kepada keluarga di sini?
Ya.

Dan itu juga karena ada hubungan keluaraga kan begitu?
“Ya. Kemungkinan beliau dan saat itu saya masih kecil,” jawab istri Pendeta Putu Puger.

Pernah melihat beliau?
Pernah.

Berarti yang Plambingan juga Gusti Putu Sanur?
“Ya, Bapak saya yang berobat ke sana dan waktu itu saya juga masih kecil. Kalau saya juga masih ingat dengan beliau dan saya memanggilnya beli (kakak),”  jawab istri Pendeta Putu Puger.

Orangnya bagaimana?
Tinggi besar. Dan dia juga galak.




Sekarang saya tanya sedikit apa tidak mempunyai photo?
Tidak. Waktu dulu ibunya Gusti Putu Sanur yang datang ke rumah saya di Plambingan, saat kakak saya mesambutan (upacara untuk anak-anak yang belum tanggal giginya) , metatah (upacara potong gigi) dan dia menyanyi dan saat itu tidak memakai sarana banten,”  jawab istri Pendeta Putu Puger.

Kalau Gusti Putu Sanur pernah datang ke Blimbing sari?
“Tidak, hanya sampai di Plambingan saja,”  jawab istri Pendeta Putu Puger.

Itu kan karena Bapaknya juga berobat ke sana?
“Ya, berobat ke sana dan mendapat agama Kristen,”  jawab istri Pendeta Putu Puger.

            Perlu juga di tambahkan di rumah di sini juga ada Parabola dan kamar mandinya juga cukup bagus, dan pepohonan cukup rindang[]




No comments:

Post a Comment