Nama
Informan : Timotius
Tempat
Wawancara, Banjar Untal-Untal, Dalung, Badung 20 Juli 2001
Pewancara
: Nyoman Wijaya, Ketua TSP
Transkriptor
: Putu Yuliani, peneliti TSP
Korektor
: Nyoman Wijaya, Ketua TSP
Bapak
lahir tahun berapa?
Saya
lahir tanggal 28 Nopember 1931. Kakek saya adalah cikal bakal orang Kristen di
Bali. Beliau bernama I Wayan Gerut, dan istrinya bernama Ni Wayan Munung. Kakek
saya bersaudara tiga orang (I wayan Gerut, Kt Gereda, dan wanita satu orang
bernama Nyoman Marak)
Apa yang Bapak ketahui tenang kakek Bapak masuk Kristen?
Dulu
disini Hindu semua. Kakek saya pernah cerita bahwa dulu dia adalah ahli dukun,
kebatinan dan mengobati, sampai kakek saya merasa tidak tenang tidak merasa
selamat. Kemudian ada seorang Cina yang datang ke Bali yang membawa ajaran Kristen.
Mendengar dari orang tersebut, bahwa Yesus-lah memberi selamat, “kalau kamu percaya
dengan Yesus Kristus kamu akan selamat.” Mendengar itulah mungkin hatinya
tertarik karena keyakinan dan roh Tuhan bekerja dan dia percaya dan kemudian
dia dibabtis di Tukad Yeh Poh dan akhirnya menjadi Kristen.
Kenapa di sana dibabtis?
Karena
yang membabtis adalah dari aliran Kemah Injil, di mana harus diselamkan. Kalau
sekarang di Protestan itu dipercikkan air. Yang membabtis adalah Yaffry. Kemudian
kakek saya mencari siapa yang mau menjadi Kristen dengan cara family sistem.
Misalnya ada orang sakit dan kakek saya datang, kemudian kakek berkata “kamu
percaya Yesus, kita berdoa bersama kamu pasti sembuh, saya yakin.” Ketika itu
sembuhlah ia maka jadilah ia percaya dengan Kristen. Pada saat itu dalam satu
keluarga mungkin baru Bapaknya saja yang ikut Kristen dan ibunya belum baru
beberapa tahun kemudian ibunya menyusul. Pasien itu tidak hanya di Untal-Untal
saja karena ada cabang yang dipegang oleh teman kakek saya misalnya di Abian
Base.
Berapa
kakek Bapak punya anak?
Kakek
saya hanya punya satu orang anak perempuan (tunggal) yaitu Ni Wayan Supreg Itulah
ibu saya. Jadi ayah saya nyentana (kawin
dan tinggal di rumah istri) dan berasal dari Untal-Untal juga. Ayah saya
menjadi Kristen setelah dia menikah
Berapa
ayah Bapak punya anak?
Bapak
saya punya 6 orang anak
1. Perempuan (meninggal)
2. Saya (I Made Timotius)
3. Ni Nyoman Rutningsih (lahir di Makasar)
4. I Ketut Pandu (lahir di Lombok)
5. Ni Luh Panglipur (lahir di Bali)
6. I Made Bingar
7. I Nyoman Raharja
Menurut ceritra Bapak Daniel, ketika kakek Bapak meninggal itu bermasalah?
Oh
itu kompyang (cicit, ayahnya kakek). Waktu itu kompyang saya masih Hindu, tapi karena
kakek saya sudah Kristen, jadi dia ikut dengan anaknya, makanya dia masuk Kristen.
Dan pada saat ia meninggal, ia tidak dapat dikuburkan di sini dan dikurburkan
di Denpasar. Itulah penderitaan kami ketika baru masuk Kristen. Tapi karena
keyakinan untuk mencapai selamat sampai sekarang saya lakoni.
Kakek Bapak (Gerut) sebaya dengan siapa saja?
Made
Risin (sudah meninggal) dia tahun 1932 dibabtis dan kakek saya lebih duluan dibabtis.
Di rumah Made Risin inilah ada gereja untuk pertama kali. Rumahnya dekat Pura
Kebon, yang masih di-sungsung
(dijunjung) oleh pemeluk agama Hindu. Di
sini masih ada Bali Hindu dan Bali Keristen komposisinya sekitar 1/3 Hindu dan
2/3 Kristen. Di sini awig-awig dan suka duka-nya sama. Misalnya kalau dari
pihak Kristen meninggal, upacaranya dari pihak kami dan dari Hindu hadir dalam
upacara itu.
Kalau hari haya Natal bagaimana?
Kalau
masih famili ya datang, kalau Galungan juga begitu kita juga datang.
Dari saudara-saudara Bapak yang mana masih Hindu?
Tidak
ada. Semuanya sudah Kristen. Begitu juga dari saudara kakek saya semuanya sudah
Kristen.
Bapak dulu dimana sekolah?
Saya sekolah
dulu di Makassar (SD) di Gaji di Bali. Pada jaman Jepang kelas 4, kemudian
jaman kemerdekaan kira-kira kelas 5-6. Saya sekolah di Makassar karena ikut ayah
saya yang tugas di Sekolah Penginjil
Siapa yang menugaskan ayahnya Bapak ke Makassar?
Saya
kira Tidak ada, Bapak berangkat sendiri tapi setelah sampai disana ya dibaiayai
seperti bea siswa.
Berapa lama ayahnya Bapak di Makassar?
Sampai
3 tahun, kemudian ke Lombok, untuk praktek. Sekolah di Makassar adalah sekolah
calon pendeta. Dan di Lombk dia sebagai penginjil/menyebarkan agama. Penginjil
yang sudah ditabiskan oleh kebaktian Jemaat menjadi pendeta. Sewaktu ayah ke Lombok saya tidak ikut kesana, karena
disuruh menemani kakek di Bali.
Perjalanan ayah saya yaitu dari Makasar – Bali - Lombok- Bali - Makasar.
Pada saat Jepang sampai di Bali dan saya lihat di kubangan (lubang tempat
perlindungan), itu saya baru kelas 3 SR kemudian setelah tamat dari kelas 3, saya
melanjutkan ke kelas 4-6 di Kerobokan dengan jalan kaki.
Bagaimana dengan bekas sanggah (kuil keluarga) di sini?
Sanggah yang kecil-kecil sudah dibongkar sedangkan sanggah besar masih di sana, yang masih
di-sungsung oleh I Nyoman Rempeg, dia adalah sepupu dari kakek saya.
Pada saat Jepang umur Bapak
berarti 11 tahun, apakah pembongkaran sanggah Bapak lihat langsung ?
Saya
tidak lihat, karena saya masih kecil, mungkin kakek saya yang melaksanakan
Kakek Bapak pernah
cerita tentang kendala-kendala atau tantangan-tantangan pada saat pembongkaran
?
Tidak. Karena dia
percaya dengan memeluk agama Kristen dia menemukan selamat.
Kalau tentang Pan
Loting Bapak pernah mendengar?
Saya pernah mendengar
tapi untuk wawancara langsung saya tidak pernah.
Dia dengan kakek saya
berteman baik, mereka sama-sama balian (paranormal). Tapi kakek saya tidak
pernah menyakiti.
Apa pekerjaan kakek?
Petani, dan juga balian, kakek meninggal antara tahun 1965 dan menek saya meninggal tahun 1961.
Waktu mereka meninggal
apakah ada masalah?
Tidak. Mereka sudah
mendapat kuburan yaitu di Dalung. Ada areal yang telah disediakan. Aralnya jadi
satu tapi sudah memiliki bagian tersendiri. Untuk Kristen sekitar 5 are. Hal
itu karena hubungan orang orang-orang di Untal-untal dengan Dalung bagus ada
panjak ada gustinya, maka diberikanlah kuburan.
Orang-orang yang masuk
Kristen dulu di Untal-Untal kebanyakan orang Jaba ?
Pada saat itu memang
dari jaba saja. Tapi sekarang sudah banyak dari kalangan kasta lain.
Sewaktu kecil Bapak
bergaul dengan siapa saja?
Saya kecil di
Untal-Utal, pada jaman Jepang saya kelas 6. Kelas 6 –nya 2 kali, satu kali di
pada saat Jepang terus ketika ada perjuangan (mengungsi) saya ikut mengantar
nasi Ke Dalung. Sesudah itu jaman NICA baru saya SMP kelas 1 di Denpasar.
Sewaktu jaman Belanda saya tidak tahu sama sekali dengan Denpasar, karena waktu
itu saya masih kecil. Kalau pada jaman Jepang saya sudah 1-2 kali ke Denpasar,karena takut
dipukul. Dulu orang ke Denpasar jalan kaki dengan mabekel (berbekal) ketupat dengan nempongin jalan (jalan pinas). Jalan yang dilalui
adalah Pagutan, Kemanyar, Petangan, Balun, Grenceng, Denpasar. Jalannya lewat
sebelah timur Untal-untal ke Kwanji baru ke Pagutan.
Dengan
apa Bapak ke Jawa?
Waktu
itu saya naik kapal api (kapal laut yang besar) dari Benoa. Saya beli tiket dan
dianter oleh kakek saya naik dokar, saya beli tiket ke Semarang di sebelah Barat
alun-alun Kodam. Itu KLM dulu disana.
Saya berani ke Semarang sendiri karena pengalaman saya sewaktu di
Makasar bersama ayah yang naik kapal api juga.
Siapa
lagi yang sebaya dengan Bapak?
I
Wayan Jhonatan (sudah meninggal), itu adalah nama setelah dia dibabtis, dulunya
namanya adalah I Wayan Sudra asal dari Untal-Untal dan dia lebih muda dari saya
1-2 tahun. Ibunya masih saudaraan dengan ayah saya. Istrinya dari Philipina,
anak dan cucunya juga masih ada dan sekarang mereka ada di Philipina. Pak Jhonatan
baru meninggal sebulan yang lalu. Sedangkan sebaya saya yang masih hidup adalah
Made Dania, rumahnya di Kebo Iwa, tapi sekarang dia sedang di Malang. Dan yang lain
yaitu Wayan Retig.
Siapa
yang berpendidikan paling tinggi waktu itu?
Hanya
saya (SMA), ada yang lain I Made Dania (SGP).
Berapa
Bapak punya putra?
6
(enam) yaitu:
1. Emi Kristiningsih (bidan)
2. Dr. Christiantius Dwiatmadja (Doktornya didapat di Belanda).
Dia dibiayai oleh Satya Wacana. Dia jadi dosen disana. Barusan dia kembali
tanggal 7 juni ini. Dia adalah Dr. ahli ekonomi
3. Ir. Joko Tricahyogo. Dia ada di rumah kerja di SLM, Duta
Bina Buana di Dukuh.
4. Dra. Puspaning Utami, tamatan Satya Wacana dia ngajar di
Salatiga
5. Drs. Cahyadi Sukmono (Yogyakarta) tamatan Satya Wacana Jurusan
Biologi
6. Santi Widiastuti, kuliah di Satya Wacana, inilah yang
satu-satunya masih kuliah.
Teman-teman
yang sebaya dengan Bapak apakah ada anaknya yang jadi Doktor?
Tidak
ada.
Itu Bapak
yang membiayai sendiri ataukah mendapat beasiswa?
Itu
satya Wacana yang mencarikan dana dan juga karena dia adalah Dosen di sana.
Semasih menjadi mahasiswa yang menanggung adalah kami dengan mendapat bantuan dari Gereja Bali, dan kakak-kakaknya. Beasiswa
saja tidak bisa menanggung biaya kulaiahnya dia.
Dari
keluarga Hindu apa sudah ada yang punya Doktor?
Tidak
ada.
Sekarang
kita ke Dalung pak, yang punya anak Doktor, dari Dalung siapa lagi Pak?
Tidak
ada. Tapi kalau di Kwanji ada. Yaitu pendeta Dr. Cakra
Kembali
sedikit ke jaman Jepang, bagaimana
perhatain Jepang tehadap Kristen
?
Bertemu
langsung saya tidak pernah, dulu yang saya tahu sewaktu Jepang meyerang Laskar
Pemuda kita, saya lari ke gereja dan tidak diapa-apakan. Gereja itu disebelah
selatan Bapak Daniel.
Kalau
dulu pernah tidak Bapak berkelahi karen aurusan agama dengan teman?
Tidak
pernah, justru sangat rukun sekali.
Sekarang ke perkawinan. Kalau oran Kristen yang ngambil
wanita Hindu, maka ia otomatis menjadi Kristen itu sudah biasa. Bagaimana kalau
sebaliknya, apakah ada pri a Hindu mengawini wanita Kristen disini?
Kalau
disini tidak ada. Tapi kalau sama-cinta silahkan. Kalau pada anak saya saya
sarankan untuk mencari yang seiman, kalau tidak bisa ya.. itu urusannya dia, dia yang menanggung
segala tanggung jawabnya nanti.
Pura Kebon masih
disungsung oleh orang Bali Hindu disini. Kalau ada upacara bagaimana Bapak dan
Orang Kristen disini?
Biasa
saja, toh mereka semua masih famili. Seandainya ada upacara dai manapun, saya
sebagai contoh harus mewakili, kalau tanpa sepengetahuan saya, mereka tidak
berani jalan. Dan aturan itu masih dipakai. Misalnya ada upacara meminangan
dari keluarga Hindu, saya mesti hadir disana. Karena saya tidak tahu
permasalahan kepercayaan di sana maka saya serahkan kepada mandat saya. Saya
hanya mendampingi dan memberi dukungan. Yang saya beri mandat adalah keluarga
terdekat.
Kalau
ada wanita Hindu diboyong oleh Kristen bagaiman tata caranya?
Seperti
biasa meminang dulu. kalau memang dia harus menyelesaikan dulu urusan agama
Hindu apakah mepamitan di sanggah (mengundurkan diri secara
perdata dari lingkungan keluarga) itu silahkan sebelum dia memasuki agama Kristen.
Kalau orang Bali
mengenal ada istilah ulu dan teben (suci dan profan), naruh jemuran juga ada batasnya yang di bawah tidak
boleh diatas kepala. Orang Kristen Bali masih melakukan itu?
Tidak.
Semasih bagus dilihat itu boleh saja, itu hak mereka, tapi yang tidak terlalu
melanggar etikalah.
Semasih kecil
pernahkah Bapak diceritakan mengenai hal-hal bali, misalnya ada ulu teben,
tidur menghadap utara atau timur?
Kalau saya pribadi pernah diceritai seperti itu. Tapi kalu saya keluar dari Bali, bahasa
Balipun saya lupa, saya lebih banyak menggunakan bahasa Indonesia. Kalau saya
kemana sandingkan dengn Bali dan saya ambil baik-baiknya saja. Saya tidak
khusus Bali dan juga saya tidak khusus Nasional.
Boleh
tahu bagaimana kakek Bapak memberitahu?
Kalau
sebelum tidur berdoa dulu. Sebelum tidur saya diceritakan cerita wayang, Alkitab.
Saya senang wayang. Saya sering mengajak kakek untuk nonton wayang entah dalang
dari Buduk, Luk-uk. Dulu hiburannya yang ada yaitu Wayang, Topeng, Arja, Barong
bangkung.
Bapak
pernah tahu tenang soroh?
Saya
dulu Pasek Gelgel
Yang Bapak tahu dimana
sebenarnya tempat ngumpul sebelum ada gereja?
Itu
kira-kira tempatnya di Made Risian dia dibaptis di Wangaya, Denpasar. Permulaan
yang Kristen di Untal-untal yaitu datuk saya adalah Wayan Grosen tahun 1931.
Dari data di sini bahwa Made Risin belakangan jadi Kristen tetapi dia hanya
anter-anter saja belum dia yakin bahwa sesuatu Tuhan Yesus yang menyelamatkan
itu menurut data dari baptis yang menjadi Kristen. Saya punya bukunya di rumah.
Kalau di kemah injil baptisnya itu hanya ada baptis dewasa, kalau di Gereja
Bali itu sudah di baptis waktu kecil. Kalau di kemah injil di baptis tua atau
dewasa otomatis kepercayaannya itu sudah ditanggung sendiri atau imannya mereka
tanggung sendiri. Injil itu organisasi Makasar atau CMA.
Tuan Jaffray datang
ke Untal-Untal dia Kemah injil. Ini catatan untuk Untal-Untal saja memang ada
dua orang entah dari Buduk atau
Abianbase saya tidak tahu. Ini kan permulaan kalau misalnya yang di Pelambingan
yang mau jadi Kristen dia dibaptis di sini menjadi anggota. Kalau ada yang di
Unlta-untal, kesempatan di Abianbase dia di baptis di Abianbase. Ayah saya
Kemah injil waktu kecil saya diserahkan saja ke gereja oleh orang tua. Artinya,
ini anak saya saya serahkan ke Tuhan dibaptis kalau secara BKTD, nanti kalau
baptisnya setelah dewasa karena ini kemah injil. Kalaupun saya sudah di Untal-untal
tetapi saya belum dibaptis tetapi mengaku sidi saya sudah disini. Sidi ini
maksudnya kita bertanggungjawab pada Tuhan mengenai keiwaan saya sendiri. Saya
menanggung sendiri iman saya tidak lagi oleh tua atau mandiri begitu arti dari
sidi itu. Satu-satunya yang menjadi pendeta pada zaman Jepang adalah Bapak Made
Rungu.
Kalau
istrinya Pak Made Risin tahun 1939, apakah di-sanggah-nya itu masih ada sanggah
atau gimana?
Mungkin ada, tetapi hanya ibunya saja. Sesudah itu baru dia
rukun. Tetapi banyak sekali yang seperti itu. Adik dari kakek saya yaitu Ketut
Groda tahun 1932 belum mau dia dan
istrinya lahir tahun 1937. Gotong royong
di Untal-untal luar biasa maju sekali, pemuda Kristen dan pemuda Hindu rukun
sekali. Gereja ini selesai nya tahunan karena dikerjakan bertahap secara gotong
royong. Dulu gedung gerejanya gedek waktu Pak Daniel. Setelah Pak Daniel buat
gedung ya katakanlah sudah tembok utara selatan. Menurut saya, rumah kebaktian
dulu tempatnya Made Risin, saya pernah diajarkan di sana seperti sidi tadi,
menghapalkan pengetahuan Bapak kami dan
pengakuan iman. Kalau lulus kita seneng, waktu itu zamannya boleh nikah atau
katakanlah sudah dewasa. Setelah zaman Jepang baru pindah ketempat yang
sekarang yang gedek timur barat itu. Setelah itu berubah oleh Bapak Daniel yang
utara selatan.
Saya tahun 1958 sudah di Bali. Istri saya dari
Jawa karena saya besar di Jawa. Saya dapat kursus di Taman Siswa, Taman Siswa
di Untal-untal, SMP PGRI Untal-untal juga, saya ke Bali saya bekerja di kantor
Sinode jadi kepala kantornya dan juga jadi guru di Kesdam. Sekarang saya ngurus
lansia. Kantor Sinode masih di Penyobekan kalau dulu disebut pesaraman. Tugas
saya disana adalah saya permulaan ditugaskan jadi tata usaha SMP Widiapura
sestelah itu saya di Sinode dan hanya saya sendiri. Saya biasanya mencatat
surat keluar masuknya misalnya surat pemerintahan anggota Jemaat atau
pelayanan. Surat-surat itu mungkin sudah tidak utuh lagi karena dulu dobok-obok
sehingga harus pindah ke kantor pembinaan yaitu di Dyana Pura di Kuta. Itu
bersama dengan Pak Pramono dengan Pak Lebor dari Jerman membina bersama-sama
mereka. Setelah itu saya ditarik lagi ke kantor Sinode dan saya juga jadi
pengurus banjar jadi sekretaris.
Bapak Timotius memperlihatkan sejumlah buku dan saya meminta supaya beliau membacakannya saja.
Bapak
bisa Bacakan saja ?
Injil
Yohanes pasal 3 ayat 16 yang bunyinya : “Karena begitu besar kasih Allah atas
dunia ini, sehingga ia telah mengaruniakan anaknya anaknya yang tiang makidung
haleloyang tunggal, supaya kepada setiap orang yang percaya kepadanya, tidak
binasa melainkan memperoleh hidup yang kekal.”Inilah ayat yang satu-satunya
menyentuh hati kakek dulu dengan nenek. Terus ada lagu-lagu Bali Kulo yaitu “
yang percaya ring yang Yesus, yang percaya ring yang yesus “ begitulah lagunya
seperti itu.
Ini ada lagu lagi, “Dosan tiang kaampurayang, dosan tiang
kaampurayang, yang kaluputang, Ide ngembus anten tiang, ide ngembus anten
tiang, ide ngembus anten tiang, titiang kebebasang tiang makidung haleloya,
tiang karahayuang.” (Dosa saya
terampuni, dibebaskan dari kewajiban. Dia membuka rantai yang mengikat saya,
saya dibebaskan menyanui haleluya, saya mendapatkan keselamatan. Itulah lagu kumpulan orang-orang tua yang
pertama yang percaya iman dan dalam menyanyikan kebaktian yang mana disebut
kumpul. Sekarang di gereja saya coba
menghidupkan saya orang Bali, apa yang saya bisa untuk memuji Tuhannya itulah
saya pakai rindik menyanyikan. Ada lagi lagu seperti ini, “Ngutang becik teken
Yesus, de jeg saling ngiring ide, sengsara je depang suba, mande rage polih
suarga.” Ada lagi yang berjudul manut sekecap ring jagatan suci, ini
baru yang terkenal. Dulu orang-orang yang ngumpul itu menyanyi dan yang
memimpin yang membacakannya.
Selain itu pernah nggak kakek bercerita selain mengenai iman apakah sesungguhnya daya tarik Kristen menurut beliau?
Jadi bukan menurut
praktek tetapi tugas, sikap, pola tingkah laku yaitu jujur mengasihi orang,
suka memberi, suka menolong.
Karena
apa kakek pindah keKristen, sampai saat ini kan belum jelas apa karena lagu itu
saja?
Itu karena penjelasan
ayat yahya alkitab ayat 16, karena dia percaya dengan Yesus sebagai juru
selamat. Bahwa kakek saya sudah mengerti sedikit agama itu dan memperdalam, sudah
tahu apalagi pernah jadi dukun seperti juga dengan Pan Loting.
Apakah
kakek pernah cerita sendiri bahwa beliau pernah pengalaman dan menceritakannya
sendiri?
Pertamanya dia nyuruh
kami belajar kesana-kemari, memberikan wahyu kok sepertinya nungkak (belum tuntas), itu hanya kesimpulan saya. Sehingga dia belajar ke
Buleleng dengan orang yang pinter, kok begitu-begitu saja, terus datang berita
injil ini, inilah yang menyengat hatinya, apalagi ada temannya yang mempunyai
alkitb itu. Yang mengarang lagu-lagu itu saya kurang jelas, mungkin orang
–orang tua dulu. []
Nama
Informan : Wayan Walya Yuliarsa
Tempat
Wawancara, Banjar Untal-Untal, Dalung, Badung 20 Juli 2001
Pewancara
: Nyoman Wijaya, Ketua TSP
Transkriptor
: Putu Yuliani, peneliti TSP
Korektor
: Nyoman Wijaya, Ketua TSP
Setelah
pulang dari Rumah Bapak Timotius, saya berkunjung Almarhum Bapak Made Risin (tokoh yang
mengundang dan membawa Tsang To Hang ke Banjar Untan-Untal) dan saya dapat
mewawancarai cucunya , Wayan Walya Yuliarsa.
Berapa
umurnya sekarang, apakah waktu G30S/PKI sudah lahir?
Sudah
dia sudah lahir waktu itu.
Berapa
orang saudara Made Risin?
Bapak
Made Risin saya tidak tahu, dan meninggalnya juga saya tidak tahu. Kalau saya
bersaudara 6 orang, 3 perempuan, saya perempuan yang pertama, dan saudara
laki-laki yang kedua dan ketiga sudah meninggal dan namanya saya tidak ingat. Saya
tinggal di depan Pura Kebon, yang tinggal disana adik saya yang namanya Luh Murtini
dan tidak bekerja hanya di rumah. Saya tidak tahu karena waktu itu saya masih
kecil.
Siapa
nama ayah Anda?
Made
Wiarsa, dia adalah anak yang nomor dua dari Made Risin dan yang nomor satu yang di Abianbase dan yang
ketiga namanya Nyoman Suriata yang sudah meninggal tahun 1989, keempat Ni Ketut
Nardi yang tinggal di Blimbing Sari, kelima Ni Luh Murtini.
Bapak
dulu kerja dimana?
Di
Yayasan Widyapura jadi tata usaha. Pendidikannya dulu SMP, dulu dapat bekerja
di Widyapura SMA, sekarang sekolahnya sudah pindah ke Sesetan dulu di
Untal-untal. Ayah saya lahir 16 November 1937. Dan ibu saya namanya Ni Luh Penglipur
dan punya anak dua. Anak nomor 1 namanya Wayan Walya Yuliarsa dan adiknya Made
Wiwik Yuliastri.
Berapa
Bapak Suriata mempunyai anak?
Dua
juga dan Istrinya Ni Made Rustiani. Anak pertama, I Gde Nurianto lahir, 2-Juli
1967, dan adiknya Made Raiyani, Oktober 1973.
Tanggal
berapa Made Risin meninggal?
Meninggal
19-Mei-1972.
Ketut
Nardi menikah ke Blimbing Sari siapa nama suaminya?
Suaminya namanya Purbawa dan anaknya satu, sebenarnya dua tetapi sudah meninggal satu. Yang nonmor dua namanya Kadek Wahyudi.
Berikutnya saya wawancara dengan Simon Olimpas.
Di sini siapa saja yang sudah menjadi sarjana?
Baru
satu orang yang menjadi sarjana dan sukses yaitu adik dari anaknya Made Wiarsa
yaitu Sarjana Hukum dan satu lagi Wiwik S. Pd, dan Gde Nurianto D3 di Jakarta.
Siapa
saja yang terlibat di Gereja?
Belum ada, tetapi Nurianto di Yayasan Widyapura dan adiknya
Dyanapura. Saya tinggal bersama Bapak dulu sebelum rumah ini direhab. Dulu Bapak
saya petani, punya sawah kira-kira 25 are. Bapak saya sebelum jadi pendeta
beliau dulu pengkabar injil. Saya dulu SD 14 dan semua anaknya Pak Risin
sekolah. Yang pertama dapat SD 2 tahun, nomor dua, SMP di Tangeb, ketiga SMP
disini, karena dulu ada sekolah di belakang rumah Pak Ketut Daniel, yamg
pertama kali ada sekolah SMP dan SD nya di sebelahnya yang masih ada sekarang.
Sepengetahuan saya beliau itu petani dan disamping itu juga beliau juga
penginjilan dengan teman-temannya. Dengan teman-temannya selesai dia bekerja tani. Belajar membaca kitab,
kalau ada peluang dia mengajak teman-teman sebayanya waktu itu pergi menangkap
burung sambil penginnjilan menterjehkan bahasa Indonesia ke bahasa Bali. Burung
itu dipelihara karena kakek senang perkutut. Begitu dia meninggal burungnya
semua meninggal. Sehari-harinya waktu saya kecil Bapak dulu petani dan
menggarap sawahnya dengan kakak-kakaknya.
Berapa saudara Bapak Risin?
Dua orang, yang namanya Pak Gro yang istrinya saudara ayah saya.
Kakek Gro ini adalah Kristen pertama seangkatan dengan Pan Loting. Anaknya
Kakek Gro namanya Nyoman Suka yang istrinya Pak Ketut Suweca yang pejuang itu. Kadek Merta yang rumahnya
di Nusa Dua yang anaknya Pak Gro. Anaknya Pak Gro namanya Nyoman Sukahati yang
punya anak Agustina Purwanegari ini yang paling kecil.
Setelah selesai di rumah keluarga almarhum Made Risan saya
datang ke rumah lain, untuk bertemu dengan Bapak Made Taga, yang merupakan
salah tokoh tua di Banjar Untal-Untal.
Berapa
orang saudara Bapak?
Saya
bersaudara tiga orang, kakak saya bernama I Wayan Rengkog yang sudah meninggal,
kedua saya Made Taga, ketiga I nyoman Kunti yang juga sudah meninggal.
Apakah
Bapak lahir di zaman Belanda atau di zaman Jepang?
Begini saya tahun 1918
kan ada orang yang mengatakan bukannya tertulis, ada di bilang Linuh Ageng
(gempa besar), itu katanya habis itu ada saya, dari Linuh Ageng itu ada lagi
dua tahunnya saya lahir kata ibu saya. Mungkin itu kira-kira tahun 1920. Sebab
tahun 1933 saya sudah pernah bersekolah SD, SD nya di Dalung Banjar Lebah terus
pindah ke Tibu beneng Dalung, baru saya
pindah kesana pada tahun 1930.
Sejak itu, atasan bilang kalau tidak berumur 7 tahun atau 10
tahun belum boleh sekolah, selanjutnya ketika saya berumur 10 tahun, karena itu
yang saya ajak sekolah di sana sampai tamat kelas 3, yang perempuan baru kelas
2 sudah pada menstruasi, berarti saya waktu itu saya sudah dewasa. Dulu belum
ada rok cuma pakai kain, dan bajunya pun sekedar makanya sering cuci bangku
disekolah. Sekitar tahun 1933-1935 saya sekolah, sebelum itu sudah datang Tuan
Cang, pertama katanya di Wangaya, disana tuan Cang (Tsang To Hang) itu membawa injil Kristen datang kesini
bersama I Made Risin.
Seharusnya orang Kristen harus membuat kebaktian hari minggu
selain dengan tiap minggu itu, lalu ada hari-hari yang ditentukan misalnya di
rumah tangga kesana-sini bermain, memuji Tuhan. Setelah kira-kira 12 turunan
baru terus membuat gereja. Sekarang tidak masih di rumah tetapi di gereja di
Rumah Made Risin. Gereja paling pertama di rumahnya Made Risin yang menghadap
ketimur. Setelah ada gereja itu kita tidak lagi menghiraukan sanggah itu karena
kita sudah menjadi pemeluk Kristen.
Apa yang menyebabkan Bapak
pindah ke Kristen apa mungkin ada yang sakit dulu atau bagaimana?
Itu sebabnya
bermacam-macam, ada juga yang karena sakit, itu yang pertamanya dari saya, jadi dengan sendirinyaa karena mendengar bahwa
Kristus itu datang adalah mencari orang-orang yang berdosa termasuk saya orang
berdosa sehingga saya pengikut Kristus. Aba sebab memilih Kristus sebab dia berjanji bahwa di dalam kitab dikatakan
barang siapa yang percaya kepada Yesus dia akan memperoleh hidup yang kekal.
Itu tertulis dalam Yahya 3 ayat 16. Terus kami berunding, berarti kita tak
takut mati karena kita sudah disediakan tempat, itulah pegangan kami begitu
pikiran kami dulu. Dosa yang saya anggap itu adalah kita melanggar larangan,
ada yang namanya 10 hukuman, bila kita bersama-sama kegereja dan bernyanyi bersama dan lagu itu semua ada
artinya. Contoh lagunya, “Tiang percaya ring yang yesus” yang artinya tiang
percaya ring yang Yesus. Yang dimaksud dengan dosa itu adalah barang siapa yang
tidak datang pada Yesus itu disebut orang yang berdosa. Saya merasa punya dosa
itu, ketika saya tahu piteket-piteket dan ada buku dan saya baca-baca, ketika
itu saya ingat dengan ayat yang setebal buku itu, yang mengatakan barang siapa
yang percaya padaku tidak akan binasa melainkan memperoleh hidup yang kekal.
Di Dalung ada orang ngaben, dia mengatakan kalau tidak ngaben tidak akan memperoleh surga, dan dari inilah saya berpikir kalau saya
nanti mati dan tidak ngaben berarti saya
tidak ada yang memberikan sorga, alangkah baiknya ada yang memberikan
sorga dan memberikan hidup yang kekal, inilah dasarnya. Kami mengikut Kristus
karena dia yang memanggil dan mencari bukan saya yang mencari. Menurut
annggapan saya Yesus itu di utus dari sorga ke bumi untuk memberi pengampunan.
Yesus datang sebagai juru selamat dan mencari kita yang berdosa kalau kita mau
mengakui namanya. Kalau tidak ya tidak, dan inilah pegangan saya. Saya dan
teman-teman bahwa sekarang ini ada hidup dua yaitu hidup sekala dan hidup di
niskala.
Kalau hidup di sana nanti dialah yang akan memberi tempat.
Inipun saya ceritakan sama Bapak saya begini, Pak sekarang ada seperti ini,
dulu ada agama Hindu dan sekarang ada agama Kristen yaitu Kristus dan Kristus
ini utusan dari Tuhan dari sorga dan inilah yang mencari kita, bukan kita yang
mencari Tuhan tetapi Tuhan yang mencari kita. Sekarang kalau kita mau hilang
dosa kita marilah kita percaya sama Yesus. Lalu Bapak saya bilang, ya kalu
memang itu kemauannya, Bapak hanya ikut anak saja makanya mau menyekolahkan.
Dengan sendirinya orang tua saya ikut masuk Kristen. Pertama kakak saya duluan
masuk Kristen baru saya. Kakak saya bilang begini, sekarang ada kabar dan di
bukunya begini dimuat “Yesus ke anak Allah keolihe keutus uli suarga”mencari
sekarang manusia yang berdosa apakah kita mengaku dosa apa tidak, kalau mengaku
pada dosa ikut pada Yesus.
Dulu sembahyang di
Betara Yang Guru apakah tidak merasa hilang dosanya ?
Kalau misalnya ada odalan (upacara setiap 210 hari) di sanggah, itu pasti di selesaikan oleh orang tua
saya, karena saya masih dis awah, kadang-kadang saya masih di sawah menyabit
dan juga sapinya masih disawah, pokoknya saya tidah tahu dan tidak pernah
mendapat pelajaran tentang hindu. Saya sebaya dengan pendeta Daniel dan sebelum
Pak Daniel namanya ketut Geledig. Dulu saya tidak ikut masekolah karena tidak
ada uang. Saya hanya punya sawah 28 are.
Siapa yang memberikan
berita kesini untuk sekolah di Makassar?
Itu karena hubungan
Tuan Cang melalui itu, kemudian setelah beberap tahun ada datang dari Amerika
yang bernama uan Jaffray, Tuan Jaffray ini sama juga dengan organisasinya Tuan
Cang sama-sama saling memberitakan Injil sehingga ada bukaan sekolah di
Denpasar dan mencari murid. Yang sebaya dengan istri saya Ketut Gledoh, Ni Luh Pamit, Nyoman Candul.
Yang sekolah ke Makasar tiga orang dan lagi dua saya dengan Genter. Bapak saya
namanya I Nengah Pice dan ibu saya wayan Tingkes.
Nyoman Pinia, Made Sengkug yang jadi muda-mudi waktu itu dan
yang jadi muda-mudi di Abianbase adalah Nyoman Pinia dan Made Sengkung dan
ketua di Untal-untal adalah ketut Geledik dan ketut Suweca. Misalnya kalau ada hari raya misalnya
Natal, kita semua ke Legian berkunjung bersama muda-mudi dari Abianbase,
Untal-untal jalan kaki kesana. Waktu jaman Belanda saya sering nonton pasar
malam bersama teman-teman ke Denpasar dengan jalan kaki, jalan segitu tidak
terasa. Waktu itu jalan kaki tidak begitu terasa, walaupun ada seperti dokar
itu, tetapi kita tidak mempunyai uang untuk menyewa. Biaya dokar dari sini ke
Denpasar sampai 10 sen, dan beras waktu itu adalah 5 uang bolong atau 7 uang
bolong. Saya punya uang waktu itu paling sampai 25 uang bolong, kalau beli nasi
seharga 10 uang bolong. Dulu saya pernah juga nonton sepak bola sampai ke
Denpasar, di alun-alun dan juga ke Pekambingan.
Pan Loting lebih tua
dari ayah saya, dan waktu itu dia katanya dia sangat sakti. Saya hanya pernah
bicara dengan Pan Loting masalah Alkitab saja kalau masalah lain tidak pernah.
Begitu juga dengan Tuan Cang sang juga sering memberikan bimbingan rohani dalam
acara kebaktian, kita semua datang untuk mendengarkan pengarahannya. Dulu saya
sering mengembala itik di sawah dan juga mencara belut bersama teman-teman.
Dulu kalau orang kepasar menjual hasil kebun misalyanya kalau punya daun ubi
baru kita ke pasar, kalau untuk membeli lauk saja kita jarang kepasar. Dulu
orang ke pasar menjual daun kacang dan kepasar sempidi. Dalam agama Kristen
kita mempunyai larangan-larangan seperti tidak boleh mencuri, tidak boleh
memitra, dan lainnya yang banyaknya 10 macam larangan. Kalau ada yang berani
melanggar itu ada upahnya.
Sebelum masuk Kristen
katanya ketika ada odalan Bapak tidak sembahyang, apakah di hari-hari biasaBapak
tidak sembahyang?
Tidak saya tidak
pernah, itu hanya orang tua saja yang menyelesaikannya dan mungkin saya masih
di sawah dan membawa itik pulang di sore hari.
Apakah waktu itu ada
pelangkiran di ruangan?
Sebelumnya sih ada,
tetapi setelah saya menjadi Kristen, saya tidak ingat dengan itu lagi dan
hilang semuanya. Dulu kalau kita masuk Kristen kita harus melupakan yang
dulu-dulu ketika Tuan Cang datang. Sebelum masuk Kristen, 10 hari sebelum
odalan sudah dikasi tahu bahwa dapat giliran ngayah nguling (membau sesajen yang
berisikan babi guling), waktu itu saya hanya bawa guling itu ke Pura dan ibu
saya yang terus ngaturan (memperbahkannya), setelah itu saya disuruh bawa pulang,
sampai dirumah saya makan daging guling itu, semua itu masih saya ingat.
Bagaimana dengan karma pala?
Sesudah saya besar
baru saya tahu pala karma setelah menjadi orang Kristen sebelumnya saya belum
tahu pala karma. Sesudah saya menginjak agama Kristen artinya kita sudah
percaya sama Tuhan yaitu Yesus dan segala sesuatunya tidak lagi dihiraukan.
Saya tidak tahu dimana leluhur saya sekarang, saya memilih agama Kristen karena
ajaran yang pertama yang sudah saya jelaskan tadi bahwa alangkah baiknya
sebelum kita mati disediakan tempat yang tertentu yaitu ada yang menjanjikan tempat yang kekal.
Yesus itu datang mencari saya bukan saya mencari Yesus. Menurut pendapat saya
sebelum mengenal Yesus berarti kita tidak tahu hidup kekal, kalau kita mati
misalnya waktu itu berarti kita tidak tahu siapa yang ngasi tempat kesana
jadinya pikiran saya bersama teman-teman saya. []
No comments:
Post a Comment