Sunday, April 17, 2016

Kita Berdoa Bersama Kamu Pasti Sembuh, Saya Yakin




Nama Informan : Timotius
Tempat Wawancara, Banjar Untal-Untal, Dalung, Badung 20 Juli 2001
Pewancara : Nyoman Wijaya, Ketua TSP
Transkriptor : Putu Yuliani, peneliti TSP
Korektor : Nyoman Wijaya, Ketua TSP


Bapak lahir tahun berapa?
Saya lahir tanggal 28 Nopember 1931. Kakek saya adalah cikal bakal orang Kristen di Bali. Beliau bernama I Wayan Gerut, dan istrinya bernama Ni Wayan Munung. Kakek saya bersaudara tiga orang (I wayan Gerut, Kt Gereda, dan wanita satu orang bernama Nyoman Marak)


Apa yang Bapak ketahui tenang kakek Bapak masuk Kristen?

Dulu disini Hindu semua. Kakek saya pernah cerita bahwa dulu dia adalah ahli dukun, kebatinan dan mengobati, sampai kakek saya merasa tidak tenang tidak merasa selamat. Kemudian ada seorang Cina yang datang ke Bali yang membawa ajaran Kristen. Mendengar dari orang tersebut, bahwa Yesus-lah memberi selamat, “kalau kamu percaya dengan Yesus Kristus kamu akan selamat.” Mendengar itulah mungkin hatinya tertarik karena keyakinan dan roh Tuhan bekerja dan dia percaya dan kemudian dia dibabtis di Tukad Yeh Poh dan akhirnya menjadi Kristen.

Kenapa di sana dibabtis?

Karena yang membabtis adalah dari aliran Kemah Injil, di mana harus diselamkan. Kalau sekarang di Protestan itu dipercikkan air. Yang membabtis adalah Yaffry. Kemudian kakek saya mencari siapa yang mau menjadi Kristen dengan cara family sistem. Misalnya ada orang sakit dan kakek saya datang, kemudian kakek berkata “kamu percaya Yesus, kita berdoa bersama kamu pasti sembuh, saya yakin.” Ketika itu sembuhlah ia maka jadilah ia percaya dengan Kristen. Pada saat itu dalam satu keluarga mungkin baru Bapaknya saja yang ikut Kristen dan ibunya belum baru beberapa tahun kemudian ibunya menyusul. Pasien itu tidak hanya di Untal-Untal saja karena ada cabang yang dipegang oleh teman kakek saya misalnya di Abian Base.

Berapa kakek Bapak punya anak?
Kakek saya hanya punya satu orang anak perempuan (tunggal) yaitu Ni Wayan Supreg Itulah ibu saya. Jadi ayah saya nyentana (kawin dan tinggal di rumah istri) dan berasal dari Untal-Untal juga. Ayah saya menjadi Kristen setelah dia menikah

Berapa ayah Bapak punya anak?
Bapak saya punya 6 orang anak
1.       Perempuan (meninggal)
2.       Saya (I Made Timotius)
3.       Ni Nyoman Rutningsih (lahir di Makasar)
4.       I Ketut Pandu (lahir di Lombok)
5.       Ni Luh Panglipur (lahir di Bali)
6.       I Made Bingar
7.       I Nyoman Raharja

Menurut ceritra Bapak Daniel, ketika kakek Bapak meninggal itu bermasalah?

Oh itu kompyang  (cicit, ayahnya kakek). Waktu itu kompyang saya masih Hindu, tapi karena kakek saya sudah Kristen, jadi dia ikut dengan anaknya, makanya dia masuk Kristen. Dan pada saat ia meninggal, ia tidak dapat dikuburkan di sini dan dikurburkan di Denpasar. Itulah penderitaan kami ketika baru masuk Kristen. Tapi karena keyakinan untuk mencapai selamat sampai sekarang saya lakoni.


Kakek Bapak (Gerut) sebaya dengan siapa saja?

Made Risin (sudah meninggal) dia tahun 1932 dibabtis dan kakek saya lebih duluan dibabtis. Di rumah Made Risin inilah ada gereja untuk pertama kali. Rumahnya dekat Pura Kebon, yang masih di-sungsung (dijunjung)  oleh pemeluk agama Hindu. Di sini masih ada Bali Hindu dan Bali Keristen komposisinya sekitar 1/3 Hindu dan 2/3 Kristen. Di sini awig-awig dan suka duka-nya sama. Misalnya kalau dari pihak Kristen meninggal, upacaranya dari pihak kami dan dari Hindu hadir dalam upacara itu.

Kalau hari haya Natal bagaimana?

Kalau masih famili ya datang, kalau Galungan juga begitu kita juga datang.

Dari saudara-saudara Bapak yang mana masih Hindu?

Tidak ada. Semuanya sudah Kristen. Begitu juga dari saudara kakek saya semuanya sudah Kristen.

Bapak dulu dimana sekolah?

Saya sekolah dulu di Makassar (SD) di Gaji di Bali. Pada jaman Jepang kelas 4, kemudian jaman kemerdekaan kira-kira kelas 5-6. Saya sekolah di Makassar karena ikut ayah saya yang tugas di Sekolah Penginjil

Siapa yang menugaskan ayahnya Bapak ke Makassar?

Saya kira Tidak ada, Bapak berangkat sendiri tapi setelah sampai disana ya dibaiayai seperti bea siswa.


Berapa  lama ayahnya Bapak di Makassar?

Sampai 3 tahun, kemudian ke Lombok, untuk praktek. Sekolah di Makassar adalah sekolah calon pendeta. Dan di Lombk dia sebagai penginjil/menyebarkan agama. Penginjil yang sudah ditabiskan oleh kebaktian Jemaat menjadi pendeta. Sewaktu ayah  ke Lombok saya tidak ikut kesana, karena disuruh menemani kakek di Bali.  Perjalanan ayah saya yaitu dari Makasar – Bali - Lombok- Bali - Makasar. Pada saat Jepang sampai di Bali dan saya lihat di kubangan (lubang tempat perlindungan), itu saya baru kelas 3 SR kemudian setelah tamat dari kelas 3, saya melanjutkan ke kelas 4-6 di Kerobokan dengan jalan kaki.

Bagaimana dengan bekas sanggah (kuil keluarga) di sini?

Sanggah yang kecil-kecil sudah dibongkar sedangkan sanggah besar masih di sana, yang masih di-sungsung oleh I Nyoman Rempeg, dia adalah sepupu  dari kakek saya.

Pada saat Jepang umur Bapak berarti 11 tahun, apakah pembongkaran sanggah Bapak lihat langsung ?
Saya tidak lihat, karena saya masih kecil, mungkin kakek saya yang melaksanakan

Kakek Bapak pernah cerita tentang kendala-kendala atau tantangan-tantangan pada saat pembongkaran ?
Tidak. Karena dia percaya dengan memeluk agama Kristen dia menemukan selamat.

Kalau tentang Pan Loting Bapak pernah mendengar?
Saya pernah mendengar tapi untuk wawancara langsung saya tidak pernah.
Dia dengan kakek saya berteman baik, mereka sama-sama balian (paranormal). Tapi kakek saya tidak pernah menyakiti.

Apa pekerjaan kakek?
Petani, dan juga balian, kakek meninggal antara tahun 1965 dan menek saya meninggal tahun 1961.

Waktu mereka meninggal apakah ada masalah?
Tidak. Mereka sudah mendapat kuburan yaitu di Dalung. Ada areal yang telah disediakan. Aralnya jadi satu tapi sudah memiliki bagian tersendiri. Untuk Kristen sekitar 5 are. Hal itu karena hubungan orang orang-orang di Untal-untal dengan Dalung bagus ada panjak ada gustinya, maka diberikanlah kuburan.

Orang-orang yang masuk Kristen dulu di Untal-Untal kebanyakan orang Jaba ?
Pada saat itu memang dari jaba saja. Tapi sekarang sudah banyak dari kalangan  kasta lain.

Sewaktu kecil Bapak bergaul dengan siapa saja?
Saya kecil di Untal-Utal, pada jaman Jepang saya kelas 6. Kelas 6 –nya 2 kali, satu kali di pada saat Jepang terus ketika ada perjuangan (mengungsi) saya ikut mengantar nasi Ke Dalung. Sesudah itu jaman NICA baru saya SMP kelas 1 di Denpasar. Sewaktu jaman Belanda saya tidak tahu sama sekali dengan Denpasar, karena waktu itu saya masih kecil. Kalau pada jaman Jepang saya  sudah 1-2 kali ke Denpasar,karena takut dipukul. Dulu orang ke Denpasar jalan kaki dengan mabekel (berbekal) ketupat dengan nempongin jalan (jalan pinas). Jalan yang dilalui adalah Pagutan, Kemanyar, Petangan, Balun, Grenceng, Denpasar. Jalannya lewat sebelah timur Untal-untal ke Kwanji baru ke Pagutan.

Dengan apa Bapak ke Jawa?
Waktu itu saya naik kapal api (kapal laut yang besar) dari Benoa. Saya beli tiket dan dianter oleh kakek saya naik dokar, saya beli tiket ke Semarang di sebelah Barat alun-alun Kodam. Itu KLM dulu disana.  Saya berani ke Semarang sendiri karena pengalaman saya sewaktu di Makasar bersama ayah yang naik kapal api juga.

Siapa lagi yang sebaya dengan Bapak?
I Wayan Jhonatan (sudah meninggal), itu adalah nama setelah dia dibabtis, dulunya namanya adalah I Wayan Sudra asal dari Untal-Untal dan dia lebih muda dari saya 1-2 tahun. Ibunya masih saudaraan dengan ayah saya. Istrinya dari Philipina, anak dan cucunya juga masih ada dan sekarang mereka ada di Philipina. Pak Jhonatan baru meninggal sebulan yang lalu. Sedangkan sebaya saya yang masih hidup adalah Made Dania, rumahnya di Kebo Iwa, tapi sekarang dia sedang di Malang. Dan yang lain yaitu Wayan Retig.

Siapa yang berpendidikan paling tinggi waktu itu?
Hanya saya (SMA), ada yang lain I Made Dania (SGP).

Berapa Bapak punya putra?
6 (enam) yaitu:
1.       Emi Kristiningsih (bidan)
2.       Dr. Christiantius Dwiatmadja (Doktornya didapat di Belanda). Dia dibiayai oleh Satya Wacana. Dia jadi dosen disana. Barusan dia kembali tanggal 7 juni ini. Dia adalah Dr. ahli ekonomi
3.       Ir. Joko Tricahyogo. Dia ada di rumah kerja di SLM, Duta Bina Buana di Dukuh.
4.       Dra. Puspaning Utami, tamatan Satya Wacana dia ngajar di Salatiga
5.       Drs. Cahyadi Sukmono (Yogyakarta) tamatan Satya Wacana Jurusan Biologi
6.       Santi Widiastuti, kuliah di Satya Wacana, inilah yang satu-satunya masih kuliah.

Teman-teman yang sebaya dengan Bapak apakah ada anaknya yang jadi Doktor?
Tidak ada.

Itu Bapak yang membiayai sendiri ataukah mendapat beasiswa?
Itu satya Wacana yang mencarikan dana dan juga karena dia adalah Dosen di sana. Semasih menjadi mahasiswa yang  menanggung adalah kami dengan mendapat  bantuan dari Gereja Bali, dan kakak-kakaknya. Beasiswa saja tidak bisa menanggung biaya kulaiahnya dia.

Dari keluarga Hindu apa sudah ada yang punya Doktor?
Tidak ada.

Sekarang kita ke Dalung pak, yang punya anak Doktor, dari Dalung siapa lagi Pak?
Tidak ada. Tapi kalau di Kwanji ada. Yaitu pendeta Dr. Cakra

Kembali sedikit ke jaman Jepang, bagaimana  perhatain Jepang  tehadap Kristen ?
Bertemu langsung saya tidak pernah, dulu yang saya tahu sewaktu Jepang meyerang Laskar Pemuda kita, saya lari ke gereja dan tidak diapa-apakan. Gereja itu disebelah selatan Bapak Daniel.

Kalau dulu pernah tidak Bapak berkelahi karen aurusan agama dengan teman?
Tidak pernah, justru sangat rukun sekali.

Sekarang ke perkawinan. Kalau oran Kristen yang ngambil wanita Hindu, maka ia otomatis menjadi Kristen itu sudah biasa. Bagaimana kalau sebaliknya, apakah ada pri a Hindu mengawini wanita Kristen disini?
Kalau disini tidak ada. Tapi kalau sama-cinta silahkan. Kalau pada anak saya saya sarankan untuk mencari yang seiman, kalau tidak bisa  ya.. itu urusannya dia, dia yang menanggung segala tanggung jawabnya nanti.

Pura Kebon masih disungsung oleh orang Bali Hindu disini. Kalau ada upacara bagaimana Bapak dan Orang Kristen disini?
Biasa saja, toh mereka semua masih famili. Seandainya ada upacara dai manapun, saya sebagai contoh harus mewakili, kalau tanpa sepengetahuan saya, mereka tidak berani jalan. Dan aturan itu masih dipakai. Misalnya ada upacara meminangan dari keluarga Hindu, saya mesti hadir disana. Karena saya tidak tahu permasalahan kepercayaan di sana maka saya serahkan kepada mandat saya. Saya hanya mendampingi dan memberi dukungan. Yang saya beri mandat adalah keluarga terdekat.

Kalau ada wanita Hindu diboyong oleh Kristen bagaiman tata caranya?
Seperti biasa meminang dulu. kalau memang dia harus menyelesaikan dulu urusan agama Hindu apakah mepamitan di sanggah (mengundurkan diri secara perdata dari lingkungan keluarga) itu silahkan sebelum dia memasuki agama Kristen.

Kalau orang Bali mengenal  ada istilah ulu dan teben (suci dan profan), naruh jemuran juga ada batasnya yang di bawah tidak boleh diatas kepala. Orang Kristen Bali masih melakukan itu?
Tidak. Semasih bagus dilihat itu boleh saja, itu hak mereka, tapi yang tidak terlalu melanggar etikalah.

Semasih kecil pernahkah Bapak diceritakan mengenai hal-hal bali, misalnya ada ulu teben, tidur menghadap utara  atau timur?
Kalau saya pribadi pernah diceritai seperti itu.  Tapi kalu saya keluar dari Bali, bahasa Balipun saya lupa, saya lebih banyak menggunakan bahasa Indonesia. Kalau saya kemana sandingkan dengn Bali dan saya ambil baik-baiknya saja. Saya tidak khusus Bali dan juga saya tidak khusus Nasional.

Boleh tahu bagaimana kakek Bapak memberitahu?
Kalau sebelum tidur berdoa dulu. Sebelum tidur saya diceritakan cerita wayang, Alkitab. Saya senang wayang. Saya sering mengajak kakek untuk nonton wayang entah dalang dari Buduk, Luk-uk. Dulu hiburannya yang ada yaitu Wayang, Topeng, Arja, Barong bangkung.

Bapak pernah tahu tenang soroh?
Saya dulu Pasek Gelgel


Yang Bapak tahu dimana sebenarnya tempat ngumpul sebelum ada gereja?
Itu kira-kira tempatnya di Made Risian dia dibaptis di Wangaya, Denpasar. Permulaan yang Kristen di Untal-untal yaitu datuk saya adalah Wayan Grosen tahun 1931. Dari data di sini bahwa Made Risin belakangan jadi Kristen tetapi dia hanya anter-anter saja belum dia yakin bahwa sesuatu Tuhan Yesus yang menyelamatkan itu menurut data dari baptis yang menjadi Kristen. Saya punya bukunya di rumah. Kalau di kemah injil baptisnya itu hanya ada baptis dewasa, kalau di Gereja Bali itu sudah di baptis waktu kecil. Kalau di kemah injil di baptis tua atau dewasa otomatis kepercayaannya itu sudah ditanggung sendiri atau imannya mereka tanggung sendiri. Injil itu organisasi Makasar atau CMA.
Tuan Jaffray  datang ke Untal-Untal dia Kemah injil. Ini catatan untuk Untal-Untal saja memang ada dua orang entah dari  Buduk atau Abianbase saya tidak tahu. Ini kan permulaan kalau misalnya yang di Pelambingan yang mau jadi Kristen dia dibaptis di sini menjadi anggota. Kalau ada yang di Unlta-untal, kesempatan di Abianbase dia di baptis di Abianbase. Ayah saya Kemah injil waktu kecil saya diserahkan saja ke gereja oleh orang tua. Artinya, ini anak saya saya serahkan ke Tuhan dibaptis kalau secara BKTD, nanti kalau baptisnya setelah dewasa karena ini kemah injil. Kalaupun saya sudah di Untal-untal tetapi saya belum dibaptis tetapi mengaku sidi saya sudah disini. Sidi ini maksudnya kita bertanggungjawab pada Tuhan mengenai keiwaan saya sendiri. Saya menanggung sendiri iman saya tidak lagi oleh tua atau mandiri begitu arti dari sidi itu. Satu-satunya yang menjadi pendeta pada zaman Jepang adalah Bapak Made Rungu.

Kalau istrinya Pak Made Risin tahun 1939, apakah di-sanggah-nya itu masih ada sanggah atau gimana?
Mungkin ada, tetapi hanya ibunya saja. Sesudah itu baru dia rukun. Tetapi banyak sekali yang seperti itu. Adik dari kakek saya yaitu Ketut Groda tahun 1932  belum mau dia dan istrinya lahir tahun 1937.  Gotong royong di Untal-untal luar biasa maju sekali, pemuda Kristen dan pemuda Hindu rukun sekali. Gereja ini selesai nya tahunan karena dikerjakan bertahap secara gotong royong. Dulu gedung gerejanya gedek waktu Pak Daniel. Setelah Pak Daniel buat gedung ya katakanlah sudah tembok utara selatan. Menurut saya, rumah kebaktian dulu tempatnya Made Risin, saya pernah diajarkan di sana seperti sidi tadi, menghapalkan pengetahuan  Bapak kami dan pengakuan iman. Kalau lulus kita seneng, waktu itu zamannya boleh nikah atau katakanlah sudah dewasa. Setelah zaman Jepang baru pindah ketempat yang sekarang yang gedek timur barat itu. Setelah itu berubah oleh Bapak Daniel yang utara selatan.
 Saya tahun 1958 sudah di Bali. Istri saya dari Jawa karena saya besar di Jawa. Saya dapat kursus di Taman Siswa, Taman Siswa di Untal-untal, SMP PGRI Untal-untal juga, saya ke Bali saya bekerja di kantor Sinode jadi kepala kantornya dan juga jadi guru di Kesdam. Sekarang saya ngurus lansia. Kantor Sinode masih di Penyobekan kalau dulu disebut pesaraman. Tugas saya disana adalah saya permulaan ditugaskan jadi tata usaha SMP Widiapura sestelah itu saya di Sinode dan hanya saya sendiri. Saya biasanya mencatat surat keluar masuknya misalnya surat pemerintahan anggota Jemaat atau pelayanan. Surat-surat itu mungkin sudah tidak utuh lagi karena dulu dobok-obok sehingga harus pindah ke kantor pembinaan yaitu di Dyana Pura di Kuta. Itu bersama dengan Pak Pramono dengan Pak Lebor dari Jerman membina bersama-sama mereka. Setelah itu saya ditarik lagi ke kantor Sinode dan saya juga jadi pengurus banjar jadi sekretaris.       

Bapak Timotius memperlihatkan sejumlah buku dan saya meminta supaya beliau membacakannya saja.


Bapak bisa Bacakan saja ?
Injil Yohanes pasal 3 ayat 16 yang bunyinya : “Karena begitu besar kasih Allah atas dunia ini, sehingga ia telah mengaruniakan anaknya anaknya yang tiang makidung haleloyang tunggal, supaya kepada setiap orang yang percaya kepadanya, tidak binasa melainkan memperoleh hidup yang kekal.”Inilah ayat yang satu-satunya menyentuh hati kakek dulu dengan nenek. Terus ada lagu-lagu Bali Kulo yaitu “ yang percaya ring yang Yesus, yang percaya ring yang yesus “ begitulah lagunya seperti itu.
Ini ada lagu lagi, “Dosan tiang kaampurayang, dosan tiang kaampurayang, yang kaluputang, Ide ngembus anten tiang, ide ngembus anten tiang, ide ngembus anten tiang, titiang kebebasang tiang makidung haleloya, tiang karahayuang.”  (Dosa saya terampuni, dibebaskan dari kewajiban. Dia membuka rantai yang mengikat saya, saya dibebaskan menyanui haleluya, saya mendapatkan keselamatan.  Itulah lagu kumpulan orang-orang tua yang pertama yang percaya iman dan dalam menyanyikan kebaktian yang mana disebut kumpul.  Sekarang di gereja saya coba menghidupkan saya orang Bali, apa yang saya bisa untuk memuji Tuhannya itulah saya pakai rindik menyanyikan. Ada lagi lagu seperti ini, “Ngutang becik teken Yesus, de jeg saling ngiring ide, sengsara je depang suba, mande rage polih suarga.”  Ada lagi yang berjudul manut sekecap ring jagatan suci, ini baru yang terkenal. Dulu orang-orang yang ngumpul itu menyanyi dan yang memimpin yang membacakannya. 

Selain itu pernah nggak kakek bercerita selain  mengenai iman apakah sesungguhnya daya tarik Kristen menurut beliau?


Jadi bukan menurut praktek tetapi tugas, sikap, pola tingkah laku yaitu jujur mengasihi orang, suka memberi, suka menolong.
Karena apa kakek pindah keKristen, sampai saat ini kan belum jelas apa karena lagu itu saja?
Itu karena penjelasan ayat yahya alkitab ayat 16, karena dia percaya dengan Yesus sebagai juru selamat. Bahwa kakek saya sudah mengerti sedikit agama itu dan memperdalam, sudah tahu apalagi pernah jadi dukun seperti juga dengan Pan Loting.

Apakah kakek pernah cerita sendiri bahwa beliau pernah pengalaman dan menceritakannya sendiri?
Pertamanya dia nyuruh kami belajar kesana-kemari, memberikan wahyu kok sepertinya nungkak (belum tuntas), itu hanya kesimpulan saya. Sehingga dia belajar ke Buleleng dengan orang yang pinter, kok begitu-begitu saja, terus datang berita injil ini, inilah yang menyengat hatinya, apalagi ada temannya yang mempunyai alkitb itu. Yang mengarang lagu-lagu itu saya kurang jelas, mungkin orang –orang tua dulu. [] 




Nama Informan : Wayan Walya Yuliarsa
Tempat Wawancara, Banjar Untal-Untal, Dalung, Badung 20 Juli 2001
Pewancara : Nyoman Wijaya, Ketua TSP
Transkriptor : Putu Yuliani, peneliti TSP
Korektor : Nyoman Wijaya, Ketua TSP


Setelah pulang dari Rumah Bapak Timotius, saya berkunjung  Almarhum Bapak Made Risin (tokoh yang mengundang dan membawa Tsang To Hang ke Banjar Untan-Untal) dan saya dapat mewawancarai cucunya , Wayan Walya Yuliarsa.

Berapa umurnya sekarang, apakah waktu G30S/PKI sudah lahir?
Sudah dia sudah lahir waktu itu.

Berapa orang saudara Made Risin?
Bapak Made Risin saya tidak tahu, dan meninggalnya juga saya tidak tahu. Kalau saya bersaudara 6 orang, 3 perempuan, saya perempuan yang pertama, dan saudara laki-laki yang kedua dan ketiga sudah meninggal dan namanya saya tidak ingat. Saya tinggal di depan Pura Kebon, yang tinggal disana adik saya yang namanya Luh Murtini dan tidak bekerja hanya di rumah. Saya tidak tahu karena waktu itu saya masih kecil.

Siapa nama ayah Anda?
Made Wiarsa, dia adalah anak yang nomor dua dari Made Risin  dan yang nomor satu yang di Abianbase dan yang ketiga namanya Nyoman Suriata yang sudah meninggal tahun 1989, keempat Ni Ketut Nardi yang tinggal di Blimbing Sari, kelima Ni Luh Murtini.

Bapak dulu kerja dimana?
Di Yayasan Widyapura jadi tata usaha. Pendidikannya dulu SMP, dulu dapat bekerja di Widyapura SMA, sekarang sekolahnya sudah pindah ke Sesetan dulu di Untal-untal. Ayah saya lahir 16 November 1937. Dan ibu saya namanya Ni Luh Penglipur dan punya anak dua. Anak nomor 1 namanya Wayan Walya Yuliarsa dan adiknya Made Wiwik Yuliastri.

Berapa Bapak Suriata mempunyai anak?

Dua juga dan Istrinya Ni Made Rustiani. Anak pertama, I Gde Nurianto lahir, 2-Juli 1967, dan adiknya Made Raiyani, Oktober 1973.

Tanggal berapa Made Risin meninggal?
Meninggal 19-Mei-1972.

Ketut Nardi menikah ke Blimbing Sari siapa nama suaminya?

Suaminya namanya Purbawa dan anaknya satu, sebenarnya dua tetapi sudah meninggal satu. Yang nonmor dua namanya Kadek Wahyudi.

 

 

Berikutnya saya wawancara dengan Simon Olimpas.  

 

Di sini siapa saja yang sudah menjadi sarjana?

Baru satu orang yang menjadi sarjana dan sukses yaitu adik dari anaknya Made Wiarsa yaitu Sarjana Hukum dan satu lagi Wiwik S. Pd, dan Gde Nurianto D3 di Jakarta.

Siapa saja yang terlibat di Gereja?

Belum ada, tetapi Nurianto di Yayasan Widyapura dan adiknya Dyanapura. Saya tinggal bersama Bapak dulu sebelum rumah ini direhab. Dulu Bapak saya petani, punya sawah kira-kira 25 are. Bapak saya sebelum jadi pendeta beliau dulu pengkabar injil. Saya dulu SD 14 dan semua anaknya Pak Risin sekolah. Yang pertama dapat SD 2 tahun, nomor dua, SMP di Tangeb, ketiga SMP disini, karena dulu ada sekolah di belakang rumah Pak Ketut Daniel, yamg pertama kali ada sekolah SMP dan SD nya di sebelahnya yang masih ada sekarang. Sepengetahuan saya beliau itu petani dan disamping itu juga beliau juga penginjilan dengan teman-temannya. Dengan teman-temannya selesai  dia bekerja tani. Belajar membaca kitab, kalau ada peluang dia mengajak teman-teman sebayanya waktu itu pergi menangkap burung sambil penginnjilan menterjehkan bahasa Indonesia ke bahasa Bali. Burung itu dipelihara karena kakek senang perkutut. Begitu dia meninggal burungnya semua meninggal. Sehari-harinya waktu saya kecil Bapak dulu petani dan menggarap sawahnya dengan kakak-kakaknya.

Berapa saudara Bapak Risin?

Dua orang, yang namanya Pak Gro yang istrinya saudara ayah saya. Kakek Gro ini adalah Kristen pertama seangkatan dengan Pan Loting. Anaknya Kakek Gro namanya Nyoman Suka yang istrinya Pak Ketut Suweca  yang pejuang itu. Kadek Merta yang rumahnya di Nusa Dua yang anaknya Pak Gro. Anaknya Pak Gro namanya Nyoman Sukahati yang punya anak Agustina Purwanegari ini yang paling kecil.  


Setelah selesai di rumah keluarga almarhum Made Risan saya datang ke rumah lain, untuk bertemu dengan Bapak Made Taga, yang merupakan salah tokoh tua di Banjar Untal-Untal.

Berapa orang saudara Bapak?
Saya bersaudara tiga orang, kakak saya bernama I Wayan Rengkog yang sudah meninggal, kedua saya Made Taga, ketiga I nyoman Kunti yang juga sudah meninggal.

Apakah Bapak lahir di zaman Belanda atau di zaman Jepang?
Begini saya tahun 1918 kan ada orang yang mengatakan bukannya tertulis, ada di bilang Linuh Ageng (gempa besar), itu katanya habis itu ada saya, dari Linuh Ageng itu ada lagi dua tahunnya saya lahir kata ibu saya. Mungkin itu kira-kira tahun 1920. Sebab tahun 1933 saya sudah pernah bersekolah SD, SD nya di Dalung Banjar Lebah terus pindah ke  Tibu beneng Dalung, baru saya pindah kesana pada tahun 1930.
Sejak itu, atasan bilang kalau tidak berumur 7 tahun atau 10 tahun belum boleh sekolah, selanjutnya ketika saya berumur 10 tahun, karena itu yang saya ajak sekolah di sana sampai tamat kelas 3, yang perempuan baru kelas 2 sudah pada menstruasi, berarti saya waktu itu saya sudah dewasa. Dulu belum ada rok cuma pakai kain, dan bajunya pun sekedar makanya sering cuci bangku disekolah. Sekitar tahun 1933-1935 saya sekolah, sebelum itu sudah datang Tuan Cang, pertama katanya di Wangaya, disana tuan Cang (Tsang To Hang)  itu membawa injil Kristen datang kesini bersama I Made Risin.
Seharusnya orang Kristen harus membuat kebaktian hari minggu selain dengan tiap minggu itu, lalu ada hari-hari yang ditentukan misalnya di rumah tangga kesana-sini bermain, memuji Tuhan. Setelah kira-kira 12 turunan baru terus membuat gereja. Sekarang tidak masih di rumah tetapi di gereja di Rumah Made Risin. Gereja paling pertama di rumahnya Made Risin yang menghadap ketimur. Setelah ada gereja itu kita tidak lagi menghiraukan sanggah itu karena kita sudah menjadi pemeluk Kristen.

Apa yang menyebabkan Bapak pindah ke Kristen apa mungkin ada yang sakit dulu atau bagaimana?
Itu sebabnya bermacam-macam, ada juga yang karena sakit, itu yang pertamanya dari saya,  jadi dengan sendirinyaa karena mendengar bahwa Kristus itu datang adalah mencari orang-orang yang berdosa termasuk saya orang berdosa sehingga saya pengikut Kristus. Aba sebab memilih Kristus sebab  dia berjanji bahwa di dalam kitab dikatakan barang siapa yang percaya kepada Yesus dia akan memperoleh hidup yang kekal. Itu tertulis dalam Yahya 3 ayat 16. Terus kami berunding, berarti kita tak takut mati karena kita sudah disediakan tempat, itulah pegangan kami begitu pikiran kami dulu. Dosa yang saya anggap itu adalah kita melanggar larangan, ada yang namanya 10 hukuman, bila kita bersama-sama kegereja  dan bernyanyi bersama dan lagu itu semua ada artinya. Contoh lagunya, “Tiang percaya ring yang yesus” yang artinya tiang percaya ring yang Yesus. Yang dimaksud dengan dosa itu adalah barang siapa yang tidak datang pada Yesus itu disebut orang yang berdosa. Saya merasa punya dosa itu, ketika saya tahu piteket-piteket dan ada buku dan saya baca-baca, ketika itu saya ingat dengan ayat yang setebal buku itu, yang mengatakan barang siapa yang percaya padaku tidak akan binasa melainkan memperoleh hidup yang kekal.

Di Dalung ada orang ngaben, dia mengatakan kalau tidak ngaben tidak akan memperoleh surga, dan dari inilah saya berpikir kalau saya nanti mati dan tidak ngaben berarti saya  tidak ada yang memberikan sorga, alangkah baiknya ada yang memberikan sorga dan memberikan hidup yang kekal, inilah dasarnya. Kami mengikut Kristus karena dia yang memanggil dan mencari bukan saya yang mencari. Menurut annggapan saya Yesus itu di utus dari sorga ke bumi untuk memberi pengampunan. Yesus datang sebagai juru selamat dan mencari kita yang berdosa kalau kita mau mengakui namanya. Kalau tidak ya tidak, dan inilah pegangan saya. Saya dan teman-teman bahwa sekarang ini ada hidup dua yaitu hidup sekala dan hidup di niskala.
Kalau hidup di sana nanti dialah yang akan memberi tempat. Inipun saya ceritakan sama Bapak saya begini, Pak sekarang ada seperti ini, dulu ada agama Hindu dan sekarang ada agama Kristen yaitu Kristus dan Kristus ini utusan dari Tuhan dari sorga dan inilah yang mencari kita, bukan kita yang mencari Tuhan tetapi Tuhan yang mencari kita. Sekarang kalau kita mau hilang dosa kita marilah kita percaya sama Yesus. Lalu Bapak saya bilang, ya kalu memang itu kemauannya, Bapak hanya ikut anak saja makanya mau menyekolahkan. Dengan sendirinya orang tua saya ikut masuk Kristen. Pertama kakak saya duluan masuk Kristen baru saya. Kakak saya bilang begini, sekarang ada kabar dan di bukunya begini dimuat “Yesus ke anak Allah keolihe keutus uli suarga”mencari sekarang manusia yang berdosa apakah kita mengaku dosa apa tidak, kalau mengaku pada dosa ikut pada Yesus.

Dulu sembahyang di Betara Yang Guru apakah tidak merasa hilang dosanya ?
Kalau misalnya ada odalan (upacara setiap 210 hari) di sanggah, itu pasti di selesaikan oleh orang tua saya, karena saya masih dis awah, kadang-kadang saya masih di sawah menyabit dan juga sapinya masih disawah, pokoknya saya tidah tahu dan tidak pernah mendapat pelajaran tentang hindu. Saya sebaya dengan pendeta Daniel dan sebelum Pak Daniel namanya ketut Geledig. Dulu saya tidak ikut masekolah karena tidak ada uang. Saya hanya punya sawah 28 are.

Siapa yang memberikan berita kesini untuk sekolah di Makassar?
Itu karena hubungan Tuan Cang melalui itu, kemudian setelah beberap tahun ada datang dari Amerika yang bernama uan Jaffray, Tuan Jaffray ini sama juga dengan organisasinya Tuan Cang sama-sama saling memberitakan Injil sehingga ada bukaan sekolah di Denpasar dan mencari murid. Yang sebaya dengan istri saya  Ketut Gledoh, Ni Luh Pamit, Nyoman Candul. Yang sekolah ke Makasar tiga orang dan lagi dua saya dengan Genter. Bapak saya namanya I Nengah Pice dan ibu saya wayan Tingkes.
Nyoman Pinia, Made Sengkug yang jadi muda-mudi waktu itu dan yang jadi muda-mudi di Abianbase adalah Nyoman Pinia dan Made Sengkung dan ketua di Untal-untal adalah ketut Geledik dan ketut  Suweca. Misalnya kalau ada hari raya misalnya Natal, kita semua ke Legian berkunjung bersama muda-mudi dari Abianbase, Untal-untal jalan kaki kesana. Waktu jaman Belanda saya sering nonton pasar malam bersama teman-teman ke Denpasar dengan jalan kaki, jalan segitu tidak terasa. Waktu itu jalan kaki tidak begitu terasa, walaupun ada seperti dokar itu, tetapi kita tidak mempunyai uang untuk menyewa. Biaya dokar dari sini ke Denpasar sampai 10 sen, dan beras waktu itu adalah 5 uang bolong atau 7 uang bolong. Saya punya uang waktu itu paling sampai 25 uang bolong, kalau beli nasi seharga 10 uang bolong. Dulu saya pernah juga nonton sepak bola sampai ke Denpasar, di alun-alun dan juga ke Pekambingan.
 Pan Loting lebih tua dari ayah saya, dan waktu itu dia katanya dia sangat sakti. Saya hanya pernah bicara dengan Pan Loting masalah Alkitab saja kalau masalah lain tidak pernah. Begitu juga dengan Tuan Cang sang juga sering memberikan bimbingan rohani dalam acara kebaktian, kita semua datang untuk mendengarkan pengarahannya. Dulu saya sering mengembala itik di sawah dan juga mencara belut bersama teman-teman. Dulu kalau orang kepasar menjual hasil kebun misalyanya kalau punya daun ubi baru kita ke pasar, kalau untuk membeli lauk saja kita jarang kepasar. Dulu orang ke pasar menjual daun kacang dan kepasar sempidi. Dalam agama Kristen kita mempunyai larangan-larangan seperti tidak boleh mencuri, tidak boleh memitra, dan lainnya yang banyaknya 10 macam larangan. Kalau ada yang berani melanggar itu ada upahnya.

Sebelum masuk Kristen katanya ketika ada odalan Bapak tidak sembahyang, apakah di hari-hari biasaBapak tidak sembahyang?
Tidak saya tidak pernah, itu hanya orang tua saja yang menyelesaikannya dan mungkin saya masih di sawah dan membawa itik pulang di sore hari.

Apakah waktu itu ada pelangkiran di ruangan?
Sebelumnya sih ada, tetapi setelah saya menjadi Kristen, saya tidak ingat dengan itu lagi dan hilang semuanya. Dulu kalau kita masuk Kristen kita harus melupakan yang dulu-dulu ketika Tuan Cang datang. Sebelum masuk Kristen, 10 hari sebelum odalan sudah dikasi tahu bahwa dapat giliran ngayah nguling (membau sesajen yang berisikan babi guling), waktu itu saya hanya bawa guling itu ke Pura dan ibu saya yang terus ngaturan (memperbahkannya), setelah itu saya disuruh bawa pulang, sampai dirumah saya makan daging guling itu, semua itu masih saya ingat.

Bagaimana dengan karma pala?
Sesudah saya besar baru saya tahu pala karma setelah menjadi orang Kristen sebelumnya saya belum tahu pala karma. Sesudah saya menginjak agama Kristen artinya kita sudah percaya sama Tuhan yaitu Yesus dan segala sesuatunya tidak lagi dihiraukan. Saya tidak tahu dimana leluhur saya sekarang, saya memilih agama Kristen karena ajaran yang pertama yang sudah saya jelaskan tadi bahwa alangkah baiknya sebelum kita mati disediakan tempat yang tertentu  yaitu ada yang menjanjikan tempat yang kekal. Yesus itu datang mencari saya bukan saya mencari Yesus. Menurut pendapat saya sebelum mengenal Yesus berarti kita tidak tahu hidup kekal, kalau kita mati misalnya waktu itu berarti kita tidak tahu siapa yang ngasi tempat kesana jadinya pikiran saya bersama teman-teman saya. []
 






No comments:

Post a Comment