Monday, April 11, 2016

WIDHI DATANG KE DUNIA DALAM YESUS KRISTUS

Nama Informan : Made Wija [1]
Tempat :  Banjar Gede, Desa Abianbase,
Badung, 20 September 2001
Pewawancara: Nyoman Wijaya, Ketua TSP



Selamat pagi Pak Made Wija, Ayah bapak siapa namanya Bapak?
Ayah saya bernama I Wayan Sawi.
Terus Ibu?
Ketut Muntung.
Kakeknya tahu namanya?
Tidak.
Nah, I Wayan Sawi bersaudara berapa?
Bersaudara, yang saya tahu enam yang laki, dua perempuan.
Ingat dari nama-nama mereka?
Hanya sebagian. Yang paling sulung Wayan Rion, terus Made Wana, Nyoman Wani, Ketut Sela,Wayan Sawi yaitu orang tua saya sendiri, Made Gita. Yang perempuan Wayan Sugi, Nyoman Lukar.
Nah, kalau bapak saja lahir tahun 1931, berarti orang tua semuanya tahun 1800 sekian, kan begitu. Terus bapak berarti dari wayan Sawi, terus Wayan Sawi berapa punya anak?
Anaknya empat.
Siapa anaknya?
Nomor satu Ni Luh Gumbling, yang kedua I Made Wija, ketiga Nyoman Renda, keempat Ketut Kristina.
Nah, sekarang saya bertanya satu persatu,  diantara semua keluarga dari Nyoman Sawi, yang mana diantaranya sudah pindah agama, siapa saja sudah pindah agama?
Yang pindah ke agama kristen Wayan Rion, Wayan Sawi, Made Gita, Ketut Sela, dan Nyoman Wani saja tidak dia nyentana ke Buduk.
Made Wana?
Kristen dia.
Wayan Sugi?
Kristen dia, Nyoman Lukar tidak, dia kawin ke Sading.
Kristen juga dia?
Tidak Hindu.
Berarti hanya dua yang masih Hindu. Rumah tua rumah asalnya di mana (rumah tuanya I Wayan Sawi)?
Termasuk sanggah kemulan-nya?
Ya sanggah kemulan.
Yang diluar Abianbase?
Tidak, di Abianbase disini, disini dirumah saya di Timur
Dirumah itu siapa tinggal sekarang?
Adik saya Nyoman Renda.
Beliau sudah Kristen semua berarti?
Ya semuanya.
Di luar Abianbase?
Saudara saya, Ketut Kristina itu di Blimbingsari….
Berarti sanggah gede-nya disini berarti (Abianbase) Pak ya?
Tidak ada di pura mana apa, dipura di luar Abianbase yang tua-tua di mana katanya?
Ada, di Graji, bukan pura tetapi sanggah gede di Graji. Di Celuk tetapi pusatnya di Graji. Dari Graji ke Celuk kan satu desa ini, Celuk dalem rumahnya Pasek Sueling, disana rumah orang tua saya. Sanggah gede di Celuk Dalung.
Setelah itu pindah kemana sebelumnya?
Pindah disini, pertama kali yang saya tahu berjalan di Graji pindah ke Celuk, apa karenanya saya tidak tahu, yang ke Celuk baru kesini.
Nah sekarang, kan sudah enam yang beragama Kristen dua tidak, nah sekarang diantara enam orang itu, yang mana paling awal memandui Kristen?
Wayan Rion itu.
Setelah itu baru adik-adiknya begitu?
Adik-adiknya nentang dulu pertama kali, terutama orang tua saya … pertama kali menentang baru menuruti.
Menentang bagaimana, berarti bapak mendengar cerita dari siapa ini?
Dari orang tua sendiri.
Apa yang beliau ceritakan?
Bahwa dia tidak setuju. Orang tua saya paling lama tidak setuju kepada …agama Kristen, lantas dia wujudkan dengan perbaikan sanggah dia marah dengan Wayan Rion dia mau pindah agama begitu dulu, tetapi entah bagaimana sekarang salahnya, sanggah-nya selesai belum lagi di-plaspas dirusak lagi dia nurut Kristen begitu.
Begitu ceritanya,terus Bapak sendiri kapan di baptis?
Masih kecil, artinya ingat lupa saya, kecil sekali kira-kira lima tahunan.
Dimana katanya dulu di Baptis?
Digereja sini di Abianbase.
Terus berarti barengan katanya sama Bapak baptisnya itu?
Tidak, saya dan anak saja begitu orang tua lain orang tua begitu.
Katanya bersamaan harinya juga hari baptisannya?
Tidak, waktu saya seingat saya tidak, saya anak-anak saja, berapa orang itu anak-anak kecil di baptis orang dewasa lain begitu, harinya lain.
Berarti generasi pertama, siapa katanya membawa agama Kristen ke Abianbase Banjar Gede?
Yang saya kenal Sang To Hang orang Tionghoa.
Sang To Hang kesini kan ada yang dicari?
Ya ini Made Tebing yang pertama kali.
Made Tebing yang dicari pertama di sini, Made Tebing itu siapa, apakah dia balian, dalang?
Tidak orang biasa.
Bagaimana Made Tebing bisa kenal dengan Sang To Hang?
Saya kira tidak Sang To Hang langsung,  saya kira Made Karema agama Kristennya kan Buduk yang pertama kali kan Pan Loting, Pan Loting itu di Buduk dulu, tetapi Made Tebing ini ada hubungan dengan Pan Loting dalam mempelajari, kalau sekarang itu ilmu kebatinan. Kebatinan itu murid-muridnya Pan Loting itu, Made Tebing itu muridnya sana kan dia kenal.
Bukannya Pak Ayub yang disini?
Tidak, lain Pak Ayub belakangan.
Mana yang lebih tua Pak Ayub atau Bapak?
Pak Ayub yang lebih tua, saya anaknya dia.
Pak Yahya?
Pak Yahya juga, dia dah orang yang pertama yang…. Made Tebing langsung disana belajar dulu begitu.
Mana Rumahnya Made Tebing disini?
Made Tebing di Dalang tetapi  Banjar Gede.
Oh di Banjar Dalang dia?
Tidak, banjar gede tetapi ….disebut Dalang, karena sedikit tak ada dalang sana dulu, saya tidak tahu itu.
Banjar Gede tetapi di Dalang, desa dia ?
Di gunung tetapi banjar Sengguan mungkin karena tinggi tempatnya disebut gunung di sana ada dalang tetapi Dalang Banjar Gede. Dia di Gunung tetapi daerah Sengguan, mungkin karena tinggi tempatnya disebut Gunung lokasi, disana Dalang tetapi Dalang Banjar Gede.
Berarti Made Tebing disana rumahnya begitu?, Berarti pertama I Made Tebing, setelah itu katanya baru Ayub begitu?
Setelah itu baru yang lain-lain, tentang apa itu, waktu itu saya kan masih kecil. Tetapi yang saya ingat pertama kali, Made Tebing belajar dah disana terus.
Bapak penah melihat orang belajar disana?
Kesana saya tidak pernah tetapi kan orang –orang tua yang mengatakan, orang… malam-malamnya belajar kesana.
Bapak generasi kedua berarti disini ya?
Ya, anaknya saya.
Terus apa penngalaman Bapak waktu kecil kira-kira sudah berumur, berapa jadinya ya jaman Jepang, jaman Jepang kan Pak merasakan juga, agama Kristen sudah maju disini, sudah banyak disini?
Sudah banyak.
Kalau sudah banyak, siapa saja yang masih ingat Bapak yang beragama Kristen, masih jaman Jepang?
Pada jaman Jepang sudah banyak juga Pak tetapi sudah ada yang sebagian trasmigrasi ke Melaya kelain daerah, Blimbing sari dah, mungkin separuh disana transmigrasi.
Terus bagaimana hubungan dengan keluarga itu disini Pak?, Bapak mempunyai misan mindon, berarti mindon dari Bapak yang masih beragama Hindu ?
Kalau disini seingat saya ya, diluar Abianbase, di Sading ada, di Buduk ada, kalau istri saya punya disini, patuh (sama) dengan saya, misalnya kalau hari raya  seperti Bali”ngejot”, “ngejot”, punya “gae” saling ngundang begitu, kita ajak sama-sama bekerja, misalnya upacara potong gigi anaknya, ngaben atau apa misalnya, saya ikut bekerja disana menolong dia. Kalau saya punya “gae” (upacara), saya undang dia, terus dia mau ikut datang bekerja atau perlu modal, minjam, kalau dia juga begitu,……
Kalu dijaman dulu memang begitu, jaman-jaman awal, jaman Jepang juga rukun seperti itu, nggak pernah bertengkar sekali?
Tidak, tidak pernah, ya kalau yang kecil ada saja, tetapi kalau yang sampai meretakkan hubungan tidak ada, ini kan sudah komunikasi atau hubungannya sudah bagus disini. Sebelum Kristen bagus dan setelah Kristen juga bagus.
Nah sekarang  diantara semua ini, antara wa (paman), yang mana yang Pak Wija pernah menyaksikan beliau hidup artinya yang mana  masih sehat waktu Bapak sudah besar. Atau yang pernah diajak bincang-bincang?
Pak Rion bisa, Bapak saya bisa, semua bisa.
Kapan ini meninggal, apakah sudah lama ?
Kira-kira ya sepuluh tahun keatas atau lima belas tahun yang lalu, saya masih remaja .
Bagaimana cerita orang tua dahulu, apa yang menyebabkan mereka pindah agama, bagaimana jalan ceritanya, kalau Pak Rion bagaimana ceritanya, apa yang menyebabkan dia pindah agama?
Dia (Pak Rion) Dalang dulunya, kalau seperti Bali sudah cukup itu, sudah tahu, sudah pintar, tetapi pokok yang dia tidak yakin seratus persen, yang mati itu masih mencari-cari tempat, penerangnnya masih ragu-ragu, entah masuk sorga atau tidak, setelah mendapat pelajaran jadinya yakin, karena keyakinan, Yesus. Yesus menyediakan tempat sehingga kita tidak ngurus tempat, tidak ada yang mengurus kita hanya masuk saja tetapi kita harus mentaati apa yang dikasi tahu kita semasih hidup harus kita saling mengasihi, cuma itu syaratnya begitu. Dasarnya keyakinan saja.
Oh begitu, disaat apa beliau memberi cerita itu, apa Bapak yang bertanya atau beliau yang menceritakan?
Tidak, saya mendengar, tidak saya yang ngasi tahu, tetapi anak-anak saya yang berkumpul waktu ini, sorenya bercakap-cakap, dia dah yang cerita saya hanya mendengarkan, saya tidak melanjutkan tetapi anaknya, dia cerita pada anak-anaknya, saya ada disana dan mendengarkan.       
Itu saja alasan beliau tidak dapat sorga begitu?
Ya, tidak ada keyakinan, terus tidak yakin sesudah mati nanti kita masih mencari-cari, entah berapa baik kita, berapa jelek kita, kita tidak akan tentukan, tetapi kalau sudah mengikut Yesus kan di Kristen ceritanya. Kalau sudah ada jaminan dari …. Karena dia mati di Salib untuk menebus kita seratus persen yakin entah mati besok melalui …. tidak menjadi masalah begitu katanya.
Setiap orang Kristen kalau masuk sorga kan begitu katanya jadinya?
Yang Kristen agama saja, tidak, yang jiwanya Kristen baru bisa, kalau agama saja tidak bisa.
Tetapi pemaknaan dulu pasti kan agama bukan jiwa dulu kan, tua-tua yang dulu, Pak Rion, kalau sudah pindah agama pasti dapat kan ?
Tidak, apalagi dia Dalang bahkan sudah  tahu, lebih tahu dia, bukan dasar agama, ini orang Tionghoa datang bukan membawakan agama, membawakan Yesus Kristus, juru selamat, begitu tetapi rang memberi nama itu Kristen, agama itu tetapi yang disebarkan bukan agama, tidak perlu agama itu, yang keyakinan kita apa itu, orang yang yakin kepada Yesus Kristus itu disebut agama Kristen, orang beragama Kristen begitu.
Nah, kalau dengan Bapak Made Wana dapat bercerita dengannya?
Tidak, jarang, saya jauh rumah saya ada batas, saya dulu satu halaman (satu natah) jauh-jauh.
Nyoman Wani tidak juga dapat cerita?
Wayan Wani orang di Buduk.
Jadi apa dia disana?
Jadi Dalang juga, nyentana disana.
Ini semua, sekarang  masih ?
Tidak, sudah mati, pertama  lagi, saya tidak tahu … Buduk itu.
Siapa yang masih ada tua-tua sekarang, semua  sudah meninggal ya?
Laki perempuan sudah habis, Nyoman Wani jadi Dalang yang di Buduk.
Kalau ketut Sela jadi Dalang juga?
Tidak, dia nyentana ke Selatan ke Banjar Anyar bukan jadi Dalang.
Ketut Sela itu, mertuanya Pendeta Sunarya ya?
Bukan, mertuanya jauh dari Carang Sari.
Apanya jadinya Ketut Sela ini, tidak ada hubungan ?
Kakeknya Pendeta Sunarya juga Wayan Rion yang dari Ibunya. Wayan Rion itu adalah bapak dari Ibunya Pendeta Sunarya. Bapaknya dari Sading, Ibunya dari sini (Abianbase).
Berarti ini bapak dari Ibunya Pendeta Sunarya (Wayan Rion), Wayan Rion ini Dalang juga?
Dalang. Kalau Wayan Sawi biasa (bukan Dalang).
Kapan mati Wayan Sawi?
Hampir G30S, atau sebelum itu, kira-kira lagi dua tahunnya G30 S.
Dua tahun sebelum G30S, tahun 1963 ketika gempa di …..Apa yang diceritakan dari Bapak oleh karena dia pindah agama?
Tidak tahu, ketika saya kecil ada sekolah minggu, belajar digereja dan dirumah, jadi orang tua nggak ada hanya budi pekerti saja ikut dari rumah.
Apa katanya yang menyebabkan dia dulu, katanya benci sama kakaknya Rion pindah agama, memperbaiki Sanggah kemudian mendadak pindah agama, apa katanya yang menyebabkan?
Itu saya tidak tahu Pak. Dia dan yang bilang begitu, bagaimana bencinya.
Terus Made Gita, tidak juga tahu ceritanya, apa yang menyebabkan, apa pernah sakit terus pindah agama?
Tidak, Made Gita nggak sakit, sebelah rumah saya rumahnya, itu dia ikut kakaknya, itulah karena keyakinan dia. Begitu juga dengan Wayan Sugi.
Terus yang terakhir yang paling muda, agama Hindu, karena nikah itu?
Ya, nikah ke Sading.
Mangkin ada keluarganya disana.
Wenten (ada), anaknya tidak masih tetapi cucunya masih. Punya anak dua yang saya tahu, keduanya mati.
Nah sekarang, diri Bapak yang Bapak ceritakan sekarang, istri Bapak dari mana?
Dari sini.
Istrinya Bapak sudah meninggal?
Ya, sudah.
Sudah Kristen juga dari lahir?
Tidak, kira-kira kecil juga, kira-kira umur lima tahunan
Di Baptis juga?
Ya .
Berarti tidak dari lahir Hindu?
Ya
Siapa nama istri Bapak?
Ni Luh Suci Almarhum
Itu Bapaknya sudah juga Kristen duluan ?
Sudah.
Samaan mungkin dengan penglingsir (orang tua) Bapak?
Tidak, jauh di belakang.
Terus ketika bapak masih remaja dapat belajar agama  Kristen?
Kursus tidak, belaja khusus tidak, cuma di gereja setiap hari Minggu pada kebaktian.
Apa sekarang pengertian Bapak tentang agama Kristen, tahu Bapak bedanya dengan agama Hindu?
Bedanya, ya menyangkut keyakinan kan begitu, saya tidak tahu, bagaimana keyakinan agama Hindu saya tidak tahu.
Tidak pernah cerita ya, karena Bapak sudah langsung dari kecil, langsung ke Kristen ya. Tidak begitu tahu pelajaran Bali ya. Kalau dengan tetangga dan saudara nggak pernah memikirkan pelajaran Bali?
Bertanya saya nggak pernah, yang ngasi tahu nggak  ada kecuali dengar-dengar di TV,  membicarakan masalah agama dengan agama Hindu nggak pernah, yang penting hubungan kita dengan Sanghyang Widhi, kita baik sama teman dia akan baik juga, begitu pengertiannya.
Kan  sama juga saudara Bali yang bilang Sanghyang Widhi, Kristen juga bilang Sanghyang Widhi, apa bedanya ?
Itu kan, andaikan kita di Bali, menurut pengetahuan saya, sebab sebutan  Ida sanghyang itu “Yang Maha Tinggi pencipta langit dan bumi.
Saudara Bali kan itu yang juga disebut, terus apa bedanya Kristen dengan Hindu?
Mewujudkan Widhi di tengah pikiran kita itu Pak, kalau Widhi saya kan dia datang ke dunia di dalam Yesus Kristus begitu.
Widhinya datang ke dunia dalam Yesus Kristus, nah kalau misalnya Bapak sakit, bagaimana Bapak menghadapa pada Sanghyang Yesus?
Ngastawa (berdoa)
Ya bagaimana bunyi ngastawa itu?
“Singgih Ratu Sanghyang Yesus, tulungin titiang sakit puniki, bebasang titiang saking penyakit sane tanggung titiang puniki, yening manut sampun  perkataan palungguh iratu, yen tan manut,  titiang ngiring napi ….iratu jagi ngambil ratu tiang mangkin, titiang ngiring”, begitu yang saya bilang.
Artinya: Ya Yang Maha Mulia Sanghyang Yesus, bantulah saya yang sedang sakit ini. Bebaskan saya penyakit yang saya derita ini. Kalau memang benar penyakit ini sesuai dengan kehendak tuanku, saya akan menerimanya.Atau kalau tuanku menghendaki saya mati sekarang, saya akan menerimanya.
Begitu, setiap bapak sakit itu (katurang) begitu?
Tidak harus begitu tetapi pokoknya begitu.
Setiap malam berdoa  begitu?
Tidak, waktu sakit saja.
Dikala apanya, diwaktu sakit setiap ingat ngaturang ngastawa (berdoa ) begitu?
Nunas tulung, ya, supaya disembuhkan kalau Tuhan kehendaki, kalau tidak ya terserah, kalau mau ambil saya sekarang, silakah saya siap.
Kalau makidung (menyanyi) Bapak bisa?
Bisa.
Apa Bapak bisa kidungnya? Kidung apa? Makidung Kristen petani misalnya.
Ya, bisa.
Banyak bisa, dikala apa Bapak makidung?
Biasanya di Gereja, diwaktu kebaktian dirumah, dikala apa saja kalau kita mau, ada gerakan dipikiran yang dimunculkan oleh roh yang ada dipikiran kita perlu memuji Tuhan.
Dirumah begitu juga ?
Ya.
Bagaimana rasanya kalau sudah nyanyian rohani itu, sehat mau badan kita begitu?
Seolah-olah Tuhan itu ada didalam diri kita.
Mengerti artinya, semuanya berbahasa Bali ?
Bahasa Bali Indonesia ada.
Bahasa Indonesianya ada begitu?
Ya.
Sekarang anak-anak muda sekarang masih menggunakan bahasa Bali?
Masih, begitu campuran Bali, Indoneisa. Kan kita orang Bali, agama itu kan, kalau menurut saya standarnya dunia, bukan suku, apalagi bukan bangsa, biarpun dia suku apa ….., akan dia percaya Yesus Kristus itu Tuhan dan juru selamat, dia itu sudah Kristen, biar apa sukunya.
Pekerjaan Bapak apa?
Petani saya.
Petani, terus seandainya nandur atau gagal panen, bagaimana apa  ngastawa (berdoa) juga?
Ngestawa juga terus tiang.
Bagaimana bunyinya kalau ngestawa ring gagal panen misalnya? Artinya, disawah mau berhasil, bagaimana ngestawa, kalau orang Bali kan Dewi Sri yang dicari, kalau secara Kristen apa yang dicari?
Tidak ada lagi, itu Sanghyang Widhi yaitu Sanghyang Yesus itu.
Bagaimana Bapak ngestawa supaya…?
“Ratu Sanghyang Widhi Wasa, cingak titiang mangkin jagi nandur, mau nandur pantun pangulanting, mangda ledang Ratu ngemertaning tetanduran titiang puniki, mangde titiang mrasidayang polih hasil sane becik, manut ring pekarsan palungguh I Ratu. Titiang ngelungsur niki paswecan palungguh Iratu, wantah madasar antuk parab Ida Sanghyang Yesus juru rahayu titiang, amin”, begitu.
Berarti itu kalau mau nandur (menanam) begitu?
Di mau nandur dak, tiap malam dirumah lagi, tiap tidur, bahkan tidur berdoa.
Tidak, itu kan tadi nandur itu, sekarang dari pagi hingga sore, bagaimana doanya ngestawa, baru bangun ngestawa?
Ngestawa, baru bangun ngestwa.
Apa bunyinya ngestawa baru bangun?
“Ratu Sanghyang Widhi Wasa sejeroning parab Ida Sanghyang Yesus Kristus, titiang matur panyuksema titiang palungguh Iratu, santukan palungguh Iratu sampun ngeraksa titiang, ring wengi sane sampun lintangin titiang, ngantos titiang mrasidayang bangun rahayu ring doh semeng puniki, titiang malih nuntut tuntunan palungguh Iratu ring rahinane puniki, picayang Ida Sanghyang Suci nuntun ring pemargin titiang ring rahinane puniki, dija titiang wenten mangda titiang mrasidayang yakti dados kaulan palungguh Iratu ngaluihang parab palungguh Iratu, antuk babaosan titiang, pelaksanan titiang, …antuk pakaryan titiang, santukan titiang manusa sane lemet, nanging titiang percaya palungguh Iratu, jagi nguatan titiang mangda titiang mrasidayang margiang arsan palungguh Iratu, titiang ngastawa niki sajeroning parab Ida Sanghyang Yesus, amin”, begitu.
Terjemahan bebas (pewawancara) nya adalah
Yang mulia Sang Hyang Widhi Wasa dalam nama Ida Sanghyang Yesus Kristus, saya mengucapkan terimakasih kepada Yang Mulia karena sudah melindungi saya pada malam yang telah saya lewati, sehingga saya bisa bangun tidur dengan selamat pagi ini. Saya masih memohon tuntutan Yang Mulia di hari hari ini supaya, Sang Hyang Widhi Wasa membimbing perjalanan saya di hari ini. Di mana pun hamba berada supaya saya benar-benar bisa memuliakan nama Yang Mulia, baik dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaaan saya, karena saya manusia yang lemah. Tetapi saya percaya akan keberadaan Yang Mulia akan menguatkan saya, supaya saya bisa menjalankan perintah Yang Mulia. Saya berdoa ini dalam nama Ida Sanghyang Yesus, Amin!!
Coba Bapak pelan sedikit supaya bisa saya salin, jangan terlalu cepat, supaya saya bisa mengikuti sebentar.
Ngastawa pagi itu ?
Ya, pelanin sedikit.
Ratu Sanghyang Widhi Wasa, Widhin titiang sane ring Swargan, ring daoh semeng niki titiang medek tangkil ring palungguh Ratu Aji, tur titiang matur panyukseman agung, saantukan palungguh Iratu sampun mesih sweca ring titiang, miwah ring keluargan titiang sami, ngantos titiang sami mrasidayang bangun saha rahayu ring daoh semeng puniki olih karane sih paswecan palungguh Iratu kewanten palungguh Iratu sane sampun nyayubin titiang, ngantos titiang luput ring sananing  mara bahaya. Ring rahina puniki, titiang malih nuntut tuntunan palungguh Iratu, ledang palungguh Iratu sane nuntun titiang ring rahinane puniki, rauhin ring keluargan titiang maka sami, rauh ring pianak titiang sane wenten ring luar desan titiang puniki, …ten wenten Ratu sane nandan ring rahina puniki, mangde titiang sareng sami mrasidayang memargi setinut ring pekarsan  palungguh Iratu, dija titiang wenten, irika titiang mrasidayang ngluwihang parab palungguh Iratu, nganggen babaosan titiang, pemanah titiang sapunika taler paripolah titiang  mangde dije titiang wenten, irika titiang  nyidayang ngeluwihang parab palungguh Iratu, santukan palungguh Iratu kewanten sane puji titiang, sembah sungsung titiang, ngelintang rahina wengi, santukan palungguh Iratu sane ngardi titiang asapunika taler titiang ngelungsung ampurayang sakayaning kaiwangan titiang miwah dosan-dosan titiang sane sampun ngeletehin jiwan titiang puniki, ampurayang titiang Ratu suciyang titiang, mangde titiang prasida rahina wengi, tangkil ring ainggih palungguh Iratu tur palungguh Iratau sweca mireng atur panglungsur titiang puniki, titiang ngastawa sajeroning parab Ida Sanghyang Yesus Kristus, amin”.
Terjemahan bebas (pewawancara) adalah:
Ida Sang Hyang Widhi Wasa, Tuhan saya di Sorga. Pada pagi ini saya menghadap pada Yang Mulia, dan saya mengucapkan terimakasih yang amat sangat, karena yang mulia telah memberikan keselamatan kepada saya, dan keluargsa saya semua, sehingga kami bisa bangun dengan selamat di pagi ini berkat anugerah Yang Mulia berikan, yang melindungi saya, sampai saya terhindar dari segala macam bahaya. Di hari ini saya masih memohon perlindungan dari Yang Mulia, supaya Yang Mulia bersedia menuntun saya hari ini, demikian juga semua keluarga saya, termasuk pula anak saya yang berada di luar desa saya, supaya Yang Mulia menuntun  pada hari ini, supaya saya semuanya berjalan seiirng dengan kehendak Yang Mulia. Di mana pun saya berada, di sana saya bisa memuliakan nama Yang Mulia, melalui perkataan saya, pemikiran saya dan tingkah laku saya, supaya di mana pun saya berada, di sana saya bisa memuliakan nama Yang Mulia, karena hanya Yang Mulia yang saya puja, sembah junjung melewati malam hari, karena Yang Mulia-lah yang menjadikan saya seperti ini dan saya memohon maaf atas kesalahan saya dan dosa-dosa saya yang menodai jiwa saya ini. Maafkan saya Yang Mulia yang saya sucikan, supaya saya bisa malam ini, menghadap kepada Yang Mulia dan Yang Mulia mendengar doa saya ini, saya berdoa dalam nama Ida Sanghyang Yesus Kristus, amin”.
Oh begitu,itu setiap pagi itu?
Ya, tidak harus pas begitu, begitulah maksudnya.
Berarti bebas, apa boleh diucapkan sama beliau?
Apa yang ada dalam hati kita.
Itu yang diucapkan begitu, apa saja yang dimau, berarti kita kan meminta saja sama beliau tidak pernah mempersembahkan ?
Kenapa tidak.
Apa itu dipersembahkan ?
Persembahan itu ya,
Karena berarti kita kan meminta saja seperti meminta kepada ayah tidak pernah memberi.
Kita memuji menyembah dia Tuhan kan begitu, memberi dan menyembahnya.
Memberi dengan memuji saja begitu?
Tidak kalau dengan harta misalnya maksudnya, sepuluh persen untuk Tuhan, misalnya dapat padi atau hasil apa sepuluh persen tetap, istilah di sana, persepuluhan begitu.
Kemana dibawa persepuluhan itu?
Ke Gereja.
Bapak pernah membawa persepuluhan itu ?
Boleh dikatakan terus.
Bagaimana caranya bapak ngitung, dapat sepuluh bawa satu kesana begitu?
Ya. Kalau saya ya, biasanya kalau dapat sepuluh kasi satu, itu paling kurang.
Tidak punya pikiran, oh kenapa dikasi yang begitu, lebih baik sendiri yang makan.
Pikiran begitu, tidak, sebab saya yakin sekali apa yang saya punya itu dari Tuhan datangnya, kalau saya tidak mengerti tidak bisa.
 Bapak rajin berarti persepuluhan itu?
Bahkan kalau tidak ngasi persepuluhan itu saya anggap itu dosa besar, kita mencuri hak Tuhan itu, milik Tuhan kita curi itu, kalau kita tidak beri persepuluh itu pada Tuhan karena itu sudah milik Tuhan.
Benar mau dipakai uang persepuluhan itu, nanti dipakai neko-neko sama teman-teman di Gereja?
Itu kan dia yang punya tanggung jawab, jadi tanggung jawab saya sudah tuntas pada Tuhan, persepuluh selesai sudah.
Nggak Bapak cemas nanti diambil uangnya?
Tidak, sama sekali tidak, kalau dia berani silahkan.
Ada yang begitu yang berani mencuri ?
Tidak tahu saya Pak, tidak pernah saya denger.
Tidak pernah ada menjabat apa di Gereja?
Pernah.
Apa bapak dapat jabatan ?
Jadi majelis.
Tugas majelis itu apa?
Begitu, ngatur kalau ada kebaktian, ngastawa pemuka, kalau ada …sakit berkunjung kerumahnya, mesawang, menghibur begitu.
Oh begitu, kalau ada teman sakit kita yang kesana begitu?
Ya,         
Ya, majelisan namanya .
Majelisan, berapa orang itu?
Sebanyak-banyaknya, ya 12, mungkin 12 yang kesana.
Mendoakan begitu, bagaimana caranya orang sakit supaya dia sehat, coba sekarang ceritakan sebentar.
Mendoakan orang sakit supaya sehat, tidak ada. Kita mohon supaya dia disembuhkan begitu.
Bagaimana matur sama Ida Sanghyang Widhi?
Kan sudah tadi saya ceritakan.
Orang sakit kan belum, itu kan baru orang nandur, pagi-pagi itu orang baru bangun, sama begitu?
Tidak, oh begitu menurut apa keperluan, begitu... pada Tuhan.
Kan boleh katanya supaya dia sakit, kan boleh minta pada Tuhan, menjelek-jelekkan supaya benar?
Tidak, tidak, tidak boleh begitu tetapi kalau ,...
Apa yang ada dipikiran, biar dia benar hancur besok, kan boleh bilang begitu juga?
Kalau ngomong begitu, boleh tetapi salah.
Kok salah, apa boleh dipikiran, kan itu bilang?
Tidak, seperti saya  tadi, kan sudah dikasi syarat oleh Tuhan Yesus itu harus saling mengasihi. Jangan menngalahkan kejahatan itu dengan kejahatan. Kalahkan kejahatan itu dengan kebaikan, jadi itu dipakai dasar. Wenten ada orang jahat pada kita, tidak boleh jahat pada dia, doakn biar dia sadar mulai bertobat begitu.
Bapak jadi majelis saja di Gereja begitu?
Kan bergilir itu, dulu pernah begitu.
Kok bergilir, apa bedanya kan guru injil?
Tidak, guru injil guru lain
Di majelis saja Bapak, kalau di Bali tempekan namanya, bukan?
Kalau disana setiap empat tahun ada yang mengganti.
Berapa orang biasanya ?
Biasanya 12 orang.
Tugasnya itu saja?Tugasnya mendoakan orang sakit ya?
Tidak begitu, ada cekcok dirumah tangga, untuk menasehati itu.
Dari tahun berapa atau berapa tahun sudah menjadi majelis?
Paling saya truna saya pernah masuk pak?
Berapa kali sudah dapat?
Ada sudah tiga kali jabatan majelis.
Yang terakhir, kapan itu?
Sudah lama, ada dua belasan tahun sudah.
Lama sudah, ada sudah dua belasan tahun ada yang terakhir.
Berarti lebih banyak waktu jadi majelis itu mendoakan orang sakit atau menuntaskan masalah perkawinan, yang Bapak banyak hadapi masalah waktu itu?
Menuntaskan perkawinan, maksudnya apa itu?  Misalnya ada orang yang bertengkar kita kesana begitu?
Jarang itu Pak.
Jarang ya, berarti lebih banyak mendoakan orang sakit?
Ya, orang sakit, sampai semua sakit yang kita doakan disana.
Disana mendoakan, kan lain-lain jadinya doanya, tidaak ada keseragaman doa?, ada majelis dua belas orang, ini mendoakan Timur, itu mendoakan Barat, kan begitu ya?
Biasanya kalau begitu banyak orang, satu saja berdoa, berbicara dan yang laain mendukung dengan amin nanti.
Apa boleh peminpin bilang begitu?
Apa.
Tidak ada patokan tertulis doa itu?
Tidak, ada doa tertulis.
Apa itu doa tertulis, diayat dicari begitu?, dikitab dicari begitu?
Ya.
Doa bebasnya ada juga?
Ya. Doa  yang itu yang langsung diajarkan oleh sang Yesus, lain dari itu tidak, doa bebas dipakai, apa keperluan kita.
Sekarang misalnya saya muda, saya ingin cepat punya istri dan cepat dapat pacar, boleh juga berdoa?
Boleh, boleh, asal jangan berdoa untuk menjelekkan orang itu nggak boleh.
Itu yang nggak boleh begitu.
Ya. Ada keperluan kita apa….dengan belajar.
Karena segala yang kita kehendaki akan dipenuhi oleh Ida Sanghyang Widhi kan begitu, kita harus membayar dengan persepuluhan kan begitu?
Ya, tidak ada jaminan segala doa kita dipenuhi, tidak ada jaminan seperti itu. Kita mohon bantuan asal sesuai dengan kehendaknya dipenuhi doa kita.
Berarti bagaimana  kita bisa mengetahui kehendak beliau sama dengan yang seperti itu?
Kita kan tidak tahu kehendak Tuhan.
Ya itu dah, asal  dikehendaki, kita kan tidak tahu bahwa doa kita itu berhasil atau tidak, kan begitu?
Ya, tetapi dengan yakin berhasil atau tidak, itu kehendak Tuhan terserah, tetapi kita harus ada keyakinan, apa yang dihadap-hadapi sekarang Tuhan tahu itu.
Terus waktu Bapak jadi majelis, orang-orang sakit yang didoakan seperti itu sebagian sembuh atau banyaknya yang mati?
Sebagian sembuh, banyak juga yang meninggal tetapi tidak semua.
Apa yang menyebabkan, apa karena dosanya atau karena doanya tidak manjur?Apa yang menyebabkan dia tidak berhasil didoakan, apa karena sakitnya yang terlalu besar atau karena mendoakan tidak...
Karena hidup mati itu di tangan Tuhan, siapa Tuhan hendak panggil sekarang, kan begitu, kalau kecil umurnya, kalau tua umurnya, mennurut kehendak Tuhan , kamu ini harus sudah aku ambil sekarang, kan tidak ada yang bisa berbuat, kehendak Tuhan.
Nah sekarang Bapak cerita tentang Tuhan, apa Tuhan itu?
Tuhan itu roh, tidak berwujud.
Yesus tidak Tuhan, Yesus tidak berwujud ?
Yang menjelma itu, allah itu roh. Bisa kalau dia menjelma jadi Yesus Kristus, dia menjadi Yesus Kristus.
Berarti Yesus Kristus itu jelamaan dari Tuhan, begitu?
Ya jelmaan jadi Tuhan, dia juga disebut anak Allah, Allah juga dia. Dia sendiri mengatakan begitu, “Aku di dalam Bapa, Bapa di dalam Aku”.
Nah, yening mangkin Bapak ngastawa, yang Bapak bayangkan roh atau Yesus?
Apa?    
Yang ada di pikiran kita?
Yesus. Allah menyatakan diri di dalam Yesus supaya dilihat oleh  mata kita, begitu pengertian saya.
Kalau secara Bali, beliau berwujud manusia, kan sama dengan manusia-manusia lainnya? Yang utama  kan roh, yang kita tidak bisa.
Bukan sama, karena dari lahirnya Yesus tidak punya ayah. Dia dikandung oleh roh kudus, oleh Allah. Kalau dimanusia tidak ada begitu punya Bapah kan begitu, diantara Ibu dan Bapak bersetubuhlah begitu dasarnya, tidak punya anak, ini Yesus kan lain cuma Maria saja yang dikandung oleh roh Kudus, Allah yang disana apa yang disebut anak Allah.
Bapak percaya dengan cerita begitu?
Karena percaya, saya Kristen. Kalau saya tidak percaya, tidak usah Kristen, percuma Kristen kalau tidak mempunyai keyakinan begitu.
Berarti harus itu yang dulu percaya, harus betul-betul Yesus itu penjelmaan Allah ?
Yesus itu penjelmaan Allah dan datang kedunia untuk meyelamatkan manusia yang percaya, begitu.Kalau tidak percaya begitu tidak usah Kristen, percuma walaupun masuk gereja tidak ada gunanya.
Menurut Bapak, saudara Bapak banyak yang seperti Bapak yang percaya atau memang namanya saja Kristen?
Itu tidak saya tahu Pak, karena itu pribadi sekali.
Yang Bapak ketahui
Kebanyakan karena keyakinan karena menerima Yesus itu, Kristus itu Tuhan dan juru selamat.
Nah, kalau begitu selama Bapak jadi Kristen sampai sekarang, nggak ada saudara Kristen yang berbuat jahat. Di Abianbase misalnya jadi maling.
Saya kira ada saja juga Pak.
Ya begitu, berarti kan tidak percaya Sanghyang Yesus kan begitu?
Ya.
Kan rugi jadinya dia ngestawa ?
Tidak, tidak rugi karena manusia biar dia beragama apa, biar dia agama apa, karena dasarnya manusia dosa, sudah jatuh kedalam dosa, begitu istilahnya.
Nah, pengalaman Bapak kalau begitu, selama tiga kali jadi majelis, apa saja ada kasus-kasus yang jahat yang pernah ada disini?
Kasus jahat, penipuan, pencurian, tidak pernah.
Selama bapak disini? demi Allah ini, sejujur-jujurnya.
Ya, kalau tidak saya menipu Allah ini.
Itu dah, tidak ada yang mencuri, memirat atau apa semeton Kristen disini.
Tidak, saya kira ada, tetapi bisa mereka menyelesaikan bersama-sama. Siapa yang diajak, kalau sampai ke majelis tidak ada.
Yang sampai pernah ditangani oleh majelis secara serius, apa disini yang ada walaupun tidak Bapak waktu itu menjadi majelis, apa kira-kira yang menyebabkan bumi gempar disini, wenten orang jahat memitra mungkin, memaling, merampok atau apa yang pernah ada disini di Abianbase?
Tidak pernah masalah begitu, antara kita saudara saya dan saudara Hindu tidak pernah ada  yang begitu, yang berat-berat begitu.
Yang ringan-ringan saja tugas majelis disini ya ?
Ya ringan saja.
Di mana majelis paling berat di Bali kira-kira?
Di Bali  entah dimana.
Di Dalung mungkin nggak sama ya begitu?
Saya kira, sama kayaknya tidak ada.
Nah disini apakah ada orang dipecat jadi Kristen, kalau di Munduk saya ada dengar?
Disini tidak pernah ada masalah, tidak ada Pak.
Disana (Tabanan) mencuri babi dipecat jadi Kristen?
Tidak sebenarnya boleh.
Dulu tahun 1954, kalau disini kan aman-aman saja ya?
Tidak pernah ada masalah begitu disini.
Nah sekarang Bapak pernah lihat saudara Bali pindah agama atau Bapak sudah melihat semuanya sudah beragama Kristen, apa ada yang nambah lagi saudara-saudara Bali yang baru pindah agama disini, yang kecil-kecilan dari Bapak misalnya, kalau Bapak kan sampun (sudah) generasi kedua, generasi pertamanya disini, siapa lagi yang ada mungkin kecilan dari Bapak yang pindah agama?
Saya kira kecuali kawin duluan itu.
Oh, yang perempuan diambil oleh yang Kristen begitu?, kawin yang baru tidak ada disni di banjar gede? Saudara Bali pindah agama yang muda dari Bapak ?
Tidak yang saya lihat.
Berarti ini kan bertahan Kristen yang dulu, kan begitu?Tidak ada Kristen baru disini?
Ada juga Pak.
Siapa namanya?
Yang saya tahu, Luh Repen namanya.
Nikah ke Kristen?
Bukan, tetapi anaknya Kristen dulu jadi pendeta.
Dimana jadi pendeta?
Sekarang di Bangli katanya.
Ni Luh Repen, namanya. Anaknya duluan jadinya, Ibunya belakangan?
Ya, anaknya duluan.
 Bagaimana katanya, Ni Luh Repen itu pindah agama mengikuti anaknya katanya saja.
Saya tidak pernah bertanya, dia tidak  pernah bilang, saya tidak tahu. Kan dihitung dalam keluarga itu, anak sama Ibunya.
Lain dari itu tidak ada lagi berarti kan tidak berkembang berarti Kristen disini, di Abianbase artinya yang dulu lima puluh, sekarang tetap lima puluh jadinya, paling ditambah satu-satu, tidak di tambah umatnya disini, karena saudara-saudara saja jadinya, karena anak-anak saja jadinya, tidak ada yang baru berarti?
Tidak
Dimana mencari catatan jemaat disini siap punya?
Pendeta ada.
Pendeta ya, berarti di Gereja ya. Bapak pernah melihat catatan jemaat atau membuka catatan jemaat?
Pernah, saya lihat pernah tetapi memperhatikan tidak.
Aksara apa, latin?
Aksara latin, Bali ada dulu Pak.
Berdoa makan bagaimana Pak?
Singgih Ratu Widhi Ajin titiang sane ring Swargan, ring dauh rahina puniki titiang ngaturang panyuksma agung ring palungguh Iratu, santukan Iratu sampun mapice pangan … sane jagi lungsur titiang puniki, puniki wantah paican palungguh Iratu sane rasayang titiang, sane mangkin titiang jagi nglungsur, ledang Ratu ngamertanin mangkin panjak iriki tur nyuciang mangda maguna angga miwah jiwan tityang anggen tityang jagi ngeluihang palungguh Iratu ring jagate. Asapunika atur tityang ring palungguh Iratu Sang Hyang Yesus. Amin
Artinya : Ya Tuhan Bapa saya di Surga, pada hari ini daya mempersembahkan ucapan terikasih yang sebesar-besarnya kepada Yang Mulia, karena Yang Mulia menganugerahi saya pangan, yang akan saya makan ini, hanya anugrah Yang Mulia ini yang saya rasakan, yang akan saya makan. Semoga Yang Mulia memberkati para pengikiut Yang Mulia di sini dan menyucikannya, supaya berguna secara lahir bathin untuk saya gunakan memuliakan Yang Mulia di bumi ini. Demikianlah doa saya kepada Yang Mulia Sang Hyang Yesus.
Begitu, lalu makan lantas begitu, hanya sebentar saja berdoa.   
Ledang ratu ngamertanin mangkin kecandun puniki, tur nyuciang mangde maguna bobot … miwah jiwan titiang anggen titiang jagi ngeluwihan palungguh iratu iriki ring jagate. Punika atur titiang sajeron parab Ida Sanghyang Yesus, amin.
Terus makan begitu, sebentar saja berdoa ya ?
Menurut keperluan kita sehari-hari untuk di Bali ... cukup, bersyukur bahwa ini pemberian Tuhan. 
Berarti segala sesuatu yang dinikmati harus disyukuri kan begitu?
Ya.
Nah sekarang kita  kena musibah terus, bagaimana caranya?
Musibah apa itu misalnya?  Musibah atau bahaya jelek misallnya sawah tidak menghasilkan, tidak dapat pekerjaan, istri ngambek atau bagaimana jelek-jeleknnya dapat musibah, kan protes pada Tuhan jadinya?

Tidak,  protes barangkali tidak ada.
Bagaimana jadinya, bagaimana kita berdoa?
 Kita senantiasa bersyukur dalam keadaan apapun.
Kalau sedih bersyukur juga?
Bersyukur, akan matipun bersyukur.
Bagaimana caranya bersyukur kalau sedih, Bapak  pernah sedih?
Pernah.
Bagaimana caranya?
Kalau berdoa itu kan didalam, karena Tuhan memberikan kita untuk menderita menurut kehendaknya, kehendak Tuhan  walaupun penderitaan bagi kita itu jelek tetapi bagi Tuhan itu baik.
Seperti perkataan Bali bagaimana caranya matur di pikran sama Sanghyang Widhi?
Singgih ratu Sanghyang Widhi, palungguh Iratu sampun ngicen titiang paindikan sane nenten senengin titiang, nenten demenin titiang, nanging titiang percaya puniki sampun pekarsan palungguh Iratu. Icen titiang kekuatan sane mangkin jagi nanggung, napi sane patut sane dados tetanggungan titiang manut ring perkataan palungguh Iratu, asapunika taler napi sane patut tegen titiang, yadiastun  berat, icen titiang kekuatan jagi negen punika, yen sampun manut ring pekarsan palungguh Iratu, amin.
 Untuk kekuatan saja diminta ya, tidak keselamatan, nunas ring Sanghyang Widhi, kekuatan saja, tidak yang lain yang diminta?
Diwaktu kita lemah kan, keselamatan itu  kan sudah doa  umum.
Waktu kita lemah, kekuatan kita minta ya, tidak boleh minta kesaktian.
Tidak, untuk apa?
Biar kita bisa mengatasi apa-apa.
Tidak, tidak ada, tidak perlu, kalau kita sudah yakin pada Sanghyang Widhi.
Kalau Sanghyang Yesus kan sakti sekali, bisa menghidupkan saudara yang sudah mati, kita tidak boleh minta supaya sakti?
Nanti kan takutnya untuk menyombongkan diri Pak, sehingga tidak perlu minta itu, nanti bahaya buat kita nanti, kalau sudah dikasi kekuatan terus sombong kan begitu?, itu bahayanya.
Dengan semangat Yesus kan tidak kita sombong, orang mau dipakai menolong seperti Yesus?
Tidak perlu sakti, apa adanya itu kita pakai.
Tidak pernah minta kesaktian?
Tidak.
Boleh kalau minta kesaktian? Kalau di Alkitab kelihatan boleh apa nggak minta kesaktian?
Kesaktian itu apa maksudnya?
Misalnya kita, biar kita bisa sidi (sakti), nyentuh orang bisa mau sembuh, nunjuk saja dia bisa selamat atau apa, kalau Yesus, dilihat saja orang bisa sembuh saya lihat di Film, kita tidak bisa minta sidi (sakti) biar begitu?
Boleh atau tidak itu saya tidak tahu Pak tetapi saya tidak pernah.
Yang ada di Injil, ada nggak dimuat seperti itu?
Tidak ada dimuat begitu, kita minta ini, minta itu boleh, tidak ada yang begitu.
Berarti tidak, berarti ingat sama Sanghyang Yesus supaya kita punya kesaktian, bisa juga jadinya ya? Terus coba setiap pagi ngestawa, Bapak kan bilang tadi apa saja boleh bilang saat ngestawa. Sekarang setiap pagi saya duduk ngestawaa Sanghyang Yesus mangde titiang bisa sakti.
Saya tidak pernah begitu Pak
Kan boleh juga begitu?
Saya kira boleh, boleh begitu  tetapi saya tidak pasti tahu begitu, tetapi saya kira boleh.
Bapak pernah bertanya di pendeta tanya begitu?
Tidak,  sebab itu dah ada  bahayanya sombong begitu.
Yesus kan sakti tetapi tidak sombong ?
Tuhan kan lain, kalau kita manusia dosa.
Kita mengikuti sifat-sifat beliau kan bisa kita mengontrol diri?
Yesus itu kan tidak minta kesaktian, dia itu sakti, lahirnya sakti, bukan dia karena  pernah minta.
Kalau kita tidak boleh begitu?
Itu dah saya tidak pasti tahu, boleh atau tidaknya, tetapi itu bahaya menurut saya.
Biar kita sidi, biar bisa melihat.
Kita kan sudah ada batasnya Pak.
Kalau Bapak meditasi pernah?
Tidak, meditasi tidak pernah.
Berdoa-berdoa, ngastawa sidikit-sedikit saja,khusus harus mandi kala ngastawa?
Khusus apa?
Kalau kita ngastawa, mandi dulu ?
Tidak.
Sebelum mandi boleh juga nggastawa juga?
Boleh, tidak ada peraturan begitu.
Kalau seperti Islam nyuci kaki dulu, tidak ada peraturan begitu?
Tidak .


[bersambung]

No comments:

Post a Comment