Nama
Informan : Made Wija [1]
Tempat
: Banjar Gede, Desa Abianbase,
Badung,
20 September 2001
Pewawancara:
Nyoman Wijaya, Ketua TSP
Selamat
pagi Pak Made Wija, Ayah bapak siapa namanya Bapak?
Ayah
saya bernama I Wayan Sawi.
Terus
Ibu?
Ketut
Muntung.
Kakeknya
tahu namanya?
Tidak.
Nah,
I Wayan Sawi bersaudara berapa?
Bersaudara,
yang saya tahu enam yang laki, dua perempuan.
Ingat
dari nama-nama mereka?
Hanya
sebagian. Yang paling sulung Wayan Rion, terus Made Wana, Nyoman Wani, Ketut
Sela,Wayan Sawi yaitu orang tua saya sendiri, Made Gita. Yang perempuan Wayan
Sugi, Nyoman Lukar.
Nah,
kalau bapak saja lahir tahun 1931, berarti orang tua semuanya tahun 1800
sekian, kan begitu. Terus bapak berarti dari wayan Sawi, terus Wayan Sawi
berapa punya anak?
Anaknya
empat.
Siapa
anaknya?
Nomor
satu Ni Luh Gumbling, yang kedua I Made Wija, ketiga Nyoman Renda, keempat
Ketut Kristina.
Nah,
sekarang saya bertanya satu persatu,
diantara semua keluarga dari Nyoman Sawi, yang mana diantaranya sudah
pindah agama, siapa saja sudah pindah agama?
Yang
pindah ke agama kristen Wayan Rion, Wayan Sawi, Made Gita, Ketut Sela, dan
Nyoman Wani saja tidak dia nyentana ke Buduk.
Made
Wana?
Kristen
dia.
Wayan
Sugi?
Kristen
dia, Nyoman Lukar tidak, dia kawin ke Sading.
Kristen
juga dia?
Tidak
Hindu.
Berarti
hanya dua yang masih Hindu. Rumah tua rumah asalnya di mana (rumah tuanya I
Wayan Sawi)?
Termasuk
sanggah kemulan-nya?
Ya
sanggah kemulan.
Yang
diluar Abianbase?
Tidak,
di Abianbase disini, disini dirumah saya di Timur
Dirumah
itu siapa tinggal sekarang?
Adik
saya Nyoman Renda.
Beliau
sudah Kristen semua berarti?
Ya
semuanya.
Di
luar Abianbase?
Saudara
saya, Ketut Kristina itu di Blimbingsari….
Berarti
sanggah gede-nya disini berarti (Abianbase) Pak ya?
Tidak
ada di pura mana apa, dipura di luar Abianbase yang tua-tua di mana katanya?
Ada,
di Graji, bukan pura tetapi sanggah gede di Graji. Di Celuk tetapi pusatnya di
Graji. Dari Graji ke Celuk kan satu desa ini, Celuk dalem rumahnya Pasek
Sueling, disana rumah orang tua saya. Sanggah gede di Celuk Dalung.
Setelah
itu pindah kemana sebelumnya?
Pindah
disini, pertama kali yang saya tahu berjalan di Graji pindah ke Celuk, apa
karenanya saya tidak tahu, yang ke Celuk baru kesini.
Nah
sekarang, kan sudah enam yang beragama Kristen dua tidak, nah sekarang diantara
enam orang itu, yang mana paling awal memandui Kristen?
Wayan
Rion itu.
Setelah
itu baru adik-adiknya begitu?
Adik-adiknya
nentang dulu pertama kali, terutama orang tua saya … pertama kali menentang baru
menuruti.
Menentang
bagaimana, berarti bapak mendengar cerita dari siapa ini?
Dari
orang tua sendiri.
Apa
yang beliau ceritakan?
Bahwa
dia tidak setuju. Orang tua saya paling lama tidak setuju kepada …agama
Kristen, lantas dia wujudkan dengan perbaikan sanggah dia marah dengan Wayan
Rion dia mau pindah agama begitu dulu, tetapi entah bagaimana sekarang
salahnya, sanggah-nya selesai belum lagi di-plaspas dirusak lagi dia nurut
Kristen begitu.
Begitu
ceritanya,terus Bapak sendiri kapan di baptis?
Masih
kecil, artinya ingat lupa saya, kecil sekali kira-kira lima tahunan.
Dimana
katanya dulu di Baptis?
Digereja
sini di Abianbase.
Terus
berarti barengan katanya sama Bapak baptisnya itu?
Tidak,
saya dan anak saja begitu orang tua lain orang tua begitu.
Katanya
bersamaan harinya juga hari baptisannya?
Tidak,
waktu saya seingat saya tidak, saya anak-anak saja, berapa orang itu anak-anak
kecil di baptis orang dewasa lain begitu, harinya lain.
Berarti
generasi pertama, siapa katanya membawa agama Kristen ke Abianbase Banjar Gede?
Yang
saya kenal Sang To Hang orang Tionghoa.
Sang
To Hang kesini kan ada yang dicari?
Ya
ini Made Tebing yang pertama kali.
Made
Tebing yang dicari pertama di sini, Made Tebing itu siapa, apakah dia balian,
dalang?
Tidak
orang biasa.
Bagaimana
Made Tebing bisa kenal dengan Sang To Hang?
Saya
kira tidak Sang To Hang langsung, saya
kira Made Karema agama Kristennya kan Buduk yang pertama kali kan Pan Loting,
Pan Loting itu di Buduk dulu, tetapi Made Tebing ini ada hubungan dengan Pan
Loting dalam mempelajari, kalau sekarang itu ilmu kebatinan. Kebatinan itu
murid-muridnya Pan Loting itu, Made Tebing itu muridnya sana kan dia kenal.
Bukannya
Pak Ayub yang disini?
Tidak,
lain Pak Ayub belakangan.
Mana
yang lebih tua Pak Ayub atau Bapak?
Pak
Ayub yang lebih tua, saya anaknya dia.
Pak
Yahya?
Pak
Yahya juga, dia dah orang yang pertama yang…. Made Tebing langsung disana
belajar dulu begitu.
Mana
Rumahnya Made Tebing disini?
Made
Tebing di Dalang tetapi Banjar Gede.
Oh
di Banjar Dalang dia?
Tidak,
banjar gede tetapi ….disebut Dalang, karena sedikit tak ada dalang sana dulu,
saya tidak tahu itu.
Banjar
Gede tetapi di Dalang, desa dia ?
Di
gunung tetapi banjar Sengguan mungkin karena tinggi tempatnya disebut gunung di
sana ada dalang tetapi Dalang Banjar Gede. Dia di Gunung tetapi daerah
Sengguan, mungkin karena tinggi tempatnya disebut Gunung lokasi, disana Dalang
tetapi Dalang Banjar Gede.
Berarti
Made Tebing disana rumahnya begitu?, Berarti pertama I Made Tebing, setelah itu
katanya baru Ayub begitu?
Setelah
itu baru yang lain-lain, tentang apa itu, waktu itu saya kan masih kecil.
Tetapi yang saya ingat pertama kali, Made Tebing belajar dah disana terus.
Bapak
penah melihat orang belajar disana?
Kesana
saya tidak pernah tetapi kan orang –orang tua yang mengatakan, orang…
malam-malamnya belajar kesana.
Bapak
generasi kedua berarti disini ya?
Ya,
anaknya saya.
Terus
apa penngalaman Bapak waktu kecil kira-kira sudah berumur, berapa jadinya ya
jaman Jepang, jaman Jepang kan Pak merasakan juga, agama Kristen sudah maju
disini, sudah banyak disini?
Sudah
banyak.
Kalau
sudah banyak, siapa saja yang masih ingat Bapak yang beragama Kristen, masih
jaman Jepang?
Pada
jaman Jepang sudah banyak juga Pak tetapi sudah ada yang sebagian trasmigrasi
ke Melaya kelain daerah, Blimbing sari dah, mungkin separuh disana
transmigrasi.
Terus
bagaimana hubungan dengan keluarga itu disini Pak?, Bapak mempunyai misan
mindon, berarti mindon dari Bapak yang masih beragama Hindu ?
Kalau
disini seingat saya ya, diluar Abianbase, di Sading ada, di Buduk ada, kalau
istri saya punya disini, patuh (sama) dengan saya, misalnya kalau hari
raya seperti Bali”ngejot”, “ngejot”,
punya “gae” saling ngundang begitu, kita ajak sama-sama bekerja, misalnya
upacara potong gigi anaknya, ngaben atau apa misalnya, saya ikut bekerja disana
menolong dia. Kalau saya punya “gae” (upacara), saya undang dia, terus dia mau
ikut datang bekerja atau perlu modal, minjam, kalau dia juga begitu,……
Kalu
dijaman dulu memang begitu, jaman-jaman awal, jaman Jepang juga rukun seperti
itu, nggak pernah bertengkar sekali?
Tidak,
tidak pernah, ya kalau yang kecil ada saja, tetapi kalau yang sampai meretakkan
hubungan tidak ada, ini kan sudah komunikasi atau hubungannya sudah bagus
disini. Sebelum Kristen bagus dan setelah Kristen juga bagus.
Nah
sekarang diantara semua ini, antara wa
(paman), yang mana yang Pak Wija pernah menyaksikan beliau hidup artinya yang
mana masih sehat waktu Bapak sudah
besar. Atau yang pernah diajak bincang-bincang?
Pak
Rion bisa, Bapak saya bisa, semua bisa.
Kapan
ini meninggal, apakah sudah lama ?
Kira-kira
ya sepuluh tahun keatas atau lima belas tahun yang lalu, saya masih remaja .
Bagaimana
cerita orang tua dahulu, apa yang menyebabkan mereka pindah agama, bagaimana
jalan ceritanya, kalau Pak Rion bagaimana ceritanya, apa yang menyebabkan dia
pindah agama?
Dia
(Pak Rion) Dalang dulunya, kalau seperti Bali sudah cukup itu, sudah tahu,
sudah pintar, tetapi pokok yang dia tidak yakin seratus persen, yang mati itu
masih mencari-cari tempat, penerangnnya masih ragu-ragu, entah masuk sorga atau
tidak, setelah mendapat pelajaran jadinya yakin, karena keyakinan, Yesus. Yesus
menyediakan tempat sehingga kita tidak ngurus tempat, tidak ada yang mengurus
kita hanya masuk saja tetapi kita harus mentaati apa yang dikasi tahu kita
semasih hidup harus kita saling mengasihi, cuma itu syaratnya begitu. Dasarnya
keyakinan saja.
Oh
begitu, disaat apa beliau memberi cerita itu, apa Bapak yang bertanya atau
beliau yang menceritakan?
Tidak,
saya mendengar, tidak saya yang ngasi tahu, tetapi anak-anak saya yang
berkumpul waktu ini, sorenya bercakap-cakap, dia dah yang cerita saya hanya
mendengarkan, saya tidak melanjutkan tetapi anaknya, dia cerita pada
anak-anaknya, saya ada disana dan mendengarkan.
Itu
saja alasan beliau tidak dapat sorga begitu?
Ya,
tidak ada keyakinan, terus tidak yakin sesudah mati nanti kita masih
mencari-cari, entah berapa baik kita, berapa jelek kita, kita tidak akan
tentukan, tetapi kalau sudah mengikut Yesus kan di Kristen ceritanya. Kalau
sudah ada jaminan dari …. Karena dia mati di Salib untuk menebus kita seratus
persen yakin entah mati besok melalui …. tidak menjadi masalah begitu katanya.
Setiap
orang Kristen kalau masuk sorga kan begitu katanya jadinya?
Yang
Kristen agama saja, tidak, yang jiwanya Kristen baru bisa, kalau agama saja
tidak bisa.
Tetapi
pemaknaan dulu pasti kan agama bukan jiwa dulu kan, tua-tua yang dulu, Pak
Rion, kalau sudah pindah agama pasti dapat kan ?
Tidak,
apalagi dia Dalang bahkan sudah tahu,
lebih tahu dia, bukan dasar agama, ini orang Tionghoa datang bukan membawakan
agama, membawakan Yesus Kristus, juru selamat, begitu tetapi rang memberi nama
itu Kristen, agama itu tetapi yang disebarkan bukan agama, tidak perlu agama
itu, yang keyakinan kita apa itu, orang yang yakin kepada Yesus Kristus itu
disebut agama Kristen, orang beragama Kristen begitu.
Nah,
kalau dengan Bapak Made Wana dapat bercerita dengannya?
Tidak,
jarang, saya jauh rumah saya ada batas, saya dulu satu halaman (satu natah)
jauh-jauh.
Nyoman
Wani tidak juga dapat cerita?
Wayan
Wani orang di Buduk.
Jadi
apa dia disana?
Jadi
Dalang juga, nyentana disana.
Ini
semua, sekarang masih ?
Tidak,
sudah mati, pertama lagi, saya tidak
tahu … Buduk itu.
Siapa
yang masih ada tua-tua sekarang, semua
sudah meninggal ya?
Laki
perempuan sudah habis, Nyoman Wani jadi Dalang yang di Buduk.
Kalau
ketut Sela jadi Dalang juga?
Tidak,
dia nyentana ke Selatan ke Banjar Anyar bukan jadi Dalang.
Ketut
Sela itu, mertuanya Pendeta Sunarya ya?
Bukan,
mertuanya jauh dari Carang Sari.
Apanya
jadinya Ketut Sela ini, tidak ada hubungan ?
Kakeknya
Pendeta Sunarya juga Wayan Rion yang dari Ibunya. Wayan Rion itu adalah bapak
dari Ibunya Pendeta Sunarya. Bapaknya dari Sading, Ibunya dari sini
(Abianbase).
Berarti
ini bapak dari Ibunya Pendeta Sunarya (Wayan Rion), Wayan Rion ini Dalang juga?
Dalang.
Kalau Wayan Sawi biasa (bukan Dalang).
Kapan
mati Wayan Sawi?
Hampir
G30S, atau sebelum itu, kira-kira lagi dua tahunnya G30 S.
Dua
tahun sebelum G30S, tahun 1963 ketika gempa di …..Apa yang diceritakan dari
Bapak oleh karena dia pindah agama?
Tidak
tahu, ketika saya kecil ada sekolah minggu, belajar digereja dan dirumah, jadi
orang tua nggak ada hanya budi pekerti saja ikut dari rumah.
Apa
katanya yang menyebabkan dia dulu, katanya benci sama kakaknya Rion pindah
agama, memperbaiki Sanggah kemudian mendadak pindah agama, apa katanya yang
menyebabkan?
Itu
saya tidak tahu Pak. Dia dan yang bilang begitu, bagaimana bencinya.
Terus
Made Gita, tidak juga tahu ceritanya, apa yang menyebabkan, apa pernah sakit
terus pindah agama?
Tidak,
Made Gita nggak sakit, sebelah rumah saya rumahnya, itu dia ikut kakaknya,
itulah karena keyakinan dia. Begitu juga dengan Wayan Sugi.
Terus
yang terakhir yang paling muda, agama Hindu, karena nikah itu?
Ya,
nikah ke Sading.
Mangkin
ada keluarganya disana.
Wenten
(ada), anaknya tidak masih tetapi cucunya masih. Punya anak dua yang saya tahu,
keduanya mati.
Nah
sekarang, diri Bapak yang Bapak ceritakan sekarang, istri Bapak dari mana?
Dari
sini.
Istrinya
Bapak sudah meninggal?
Ya,
sudah.
Sudah
Kristen juga dari lahir?
Tidak,
kira-kira kecil juga, kira-kira umur lima tahunan
Di
Baptis juga?
Ya
.
Berarti
tidak dari lahir Hindu?
Ya
Siapa
nama istri Bapak?
Ni
Luh Suci Almarhum
Itu
Bapaknya sudah juga Kristen duluan ?
Sudah.
Samaan
mungkin dengan penglingsir (orang tua) Bapak?
Tidak,
jauh di belakang.
Terus
ketika bapak masih remaja dapat belajar agama
Kristen?
Kursus
tidak, belaja khusus tidak, cuma di gereja setiap hari Minggu pada kebaktian.
Apa
sekarang pengertian Bapak tentang agama Kristen, tahu Bapak bedanya dengan
agama Hindu?
Bedanya,
ya menyangkut keyakinan kan begitu, saya tidak tahu, bagaimana keyakinan agama
Hindu saya tidak tahu.
Tidak
pernah cerita ya, karena Bapak sudah langsung dari kecil, langsung ke Kristen
ya. Tidak begitu tahu pelajaran Bali ya. Kalau dengan tetangga dan saudara
nggak pernah memikirkan pelajaran Bali?
Bertanya
saya nggak pernah, yang ngasi tahu nggak
ada kecuali dengar-dengar di TV,
membicarakan masalah agama dengan agama Hindu nggak pernah, yang penting
hubungan kita dengan Sanghyang Widhi, kita baik sama teman dia akan baik juga,
begitu pengertiannya.
Kan sama juga saudara Bali yang bilang Sanghyang
Widhi, Kristen juga bilang Sanghyang Widhi, apa bedanya ?
Itu
kan, andaikan kita di Bali, menurut pengetahuan saya, sebab sebutan Ida sanghyang itu “Yang Maha Tinggi pencipta
langit dan bumi.
Saudara
Bali kan itu yang juga disebut, terus apa bedanya Kristen dengan Hindu?
Mewujudkan
Widhi di tengah pikiran kita itu Pak, kalau Widhi saya kan dia datang ke dunia
di dalam Yesus Kristus begitu.
Widhinya
datang ke dunia dalam Yesus Kristus, nah kalau misalnya Bapak sakit, bagaimana
Bapak menghadapa pada Sanghyang Yesus?
Ngastawa
(berdoa)
Ya
bagaimana bunyi ngastawa itu?
“Singgih
Ratu Sanghyang Yesus, tulungin titiang sakit puniki, bebasang titiang saking
penyakit sane tanggung titiang puniki, yening manut sampun perkataan palungguh iratu, yen tan
manut, titiang ngiring napi ….iratu jagi
ngambil ratu tiang mangkin, titiang ngiring”, begitu yang saya bilang.
Artinya:
Ya Yang Maha Mulia Sanghyang Yesus, bantulah saya yang sedang sakit ini.
Bebaskan saya penyakit yang saya derita ini. Kalau memang benar penyakit ini
sesuai dengan kehendak tuanku, saya akan menerimanya.Atau kalau tuanku
menghendaki saya mati sekarang, saya akan menerimanya.
Begitu,
setiap bapak sakit itu (katurang) begitu?
Tidak
harus begitu tetapi pokoknya begitu.
Setiap
malam berdoa begitu?
Tidak,
waktu sakit saja.
Dikala
apanya, diwaktu sakit setiap ingat ngaturang ngastawa (berdoa ) begitu?
Nunas
tulung, ya, supaya disembuhkan kalau Tuhan kehendaki, kalau tidak ya terserah,
kalau mau ambil saya sekarang, silakah saya siap.
Kalau
makidung (menyanyi) Bapak bisa?
Bisa.
Apa
Bapak bisa kidungnya? Kidung apa? Makidung Kristen petani misalnya.
Ya,
bisa.
Banyak
bisa, dikala apa Bapak makidung?
Biasanya
di Gereja, diwaktu kebaktian dirumah, dikala apa saja kalau kita mau, ada
gerakan dipikiran yang dimunculkan oleh roh yang ada dipikiran kita perlu
memuji Tuhan.
Dirumah
begitu juga ?
Ya.
Bagaimana
rasanya kalau sudah nyanyian rohani itu, sehat mau badan kita begitu?
Seolah-olah
Tuhan itu ada didalam diri kita.
Mengerti
artinya, semuanya berbahasa Bali ?
Bahasa
Bali Indonesia ada.
Bahasa
Indonesianya ada begitu?
Ya.
Sekarang
anak-anak muda sekarang masih menggunakan bahasa Bali?
Masih,
begitu campuran Bali, Indoneisa. Kan kita orang Bali, agama itu kan, kalau
menurut saya standarnya dunia, bukan suku, apalagi bukan bangsa, biarpun dia
suku apa ….., akan dia percaya Yesus Kristus itu Tuhan dan juru selamat, dia
itu sudah Kristen, biar apa sukunya.
Pekerjaan
Bapak apa?
Petani
saya.
Petani,
terus seandainya nandur atau gagal panen, bagaimana apa ngastawa (berdoa) juga?
Ngestawa
juga terus tiang.
Bagaimana
bunyinya kalau ngestawa ring gagal panen misalnya? Artinya, disawah mau berhasil,
bagaimana ngestawa, kalau orang Bali kan Dewi Sri yang dicari, kalau secara
Kristen apa yang dicari?
Tidak
ada lagi, itu Sanghyang Widhi yaitu Sanghyang Yesus itu.
Bagaimana
Bapak ngestawa supaya…?
“Ratu
Sanghyang Widhi Wasa, cingak titiang mangkin jagi nandur, mau nandur pantun
pangulanting, mangda ledang Ratu ngemertaning tetanduran titiang puniki, mangde
titiang mrasidayang polih hasil sane becik, manut ring pekarsan palungguh I
Ratu. Titiang ngelungsur niki paswecan palungguh Iratu, wantah madasar antuk
parab Ida Sanghyang Yesus juru rahayu titiang, amin”, begitu.
Berarti
itu kalau mau nandur (menanam) begitu?
Di
mau nandur dak, tiap malam dirumah lagi, tiap tidur, bahkan tidur berdoa.
Tidak,
itu kan tadi nandur itu, sekarang dari pagi hingga sore, bagaimana doanya
ngestawa, baru bangun ngestawa?
Ngestawa,
baru bangun ngestwa.
Apa
bunyinya ngestawa baru bangun?
“Ratu
Sanghyang Widhi Wasa sejeroning parab Ida Sanghyang Yesus Kristus, titiang
matur panyuksema titiang palungguh Iratu, santukan palungguh Iratu sampun
ngeraksa titiang, ring wengi sane sampun lintangin titiang, ngantos titiang
mrasidayang bangun rahayu ring doh semeng puniki, titiang malih nuntut tuntunan
palungguh Iratu ring rahinane puniki, picayang Ida Sanghyang Suci nuntun ring
pemargin titiang ring rahinane puniki, dija titiang wenten mangda titiang
mrasidayang yakti dados kaulan palungguh Iratu ngaluihang parab palungguh
Iratu, antuk babaosan titiang, pelaksanan titiang, …antuk pakaryan titiang,
santukan titiang manusa sane lemet, nanging titiang percaya palungguh Iratu,
jagi nguatan titiang mangda titiang mrasidayang margiang arsan palungguh Iratu,
titiang ngastawa niki sajeroning parab Ida Sanghyang Yesus, amin”, begitu.
Terjemahan
bebas (pewawancara) nya adalah
Yang
mulia Sang Hyang Widhi Wasa dalam nama Ida Sanghyang Yesus Kristus, saya
mengucapkan terimakasih kepada Yang Mulia karena sudah melindungi saya pada
malam yang telah saya lewati, sehingga saya bisa bangun tidur dengan selamat
pagi ini. Saya masih memohon tuntutan Yang Mulia di hari hari ini supaya, Sang
Hyang Widhi Wasa membimbing perjalanan saya di hari ini. Di mana pun hamba
berada supaya saya benar-benar bisa memuliakan nama Yang Mulia, baik dalam
perkataan, tindakan, dan pekerjaaan saya, karena saya manusia yang lemah. Tetapi
saya percaya akan keberadaan Yang Mulia akan menguatkan saya, supaya saya bisa
menjalankan perintah Yang Mulia. Saya berdoa ini dalam nama Ida Sanghyang
Yesus, Amin!!
Coba
Bapak pelan sedikit supaya bisa saya salin, jangan terlalu cepat, supaya saya
bisa mengikuti sebentar.
Ngastawa
pagi itu ?
Ya,
pelanin sedikit.
Ratu
Sanghyang Widhi Wasa, Widhin titiang sane ring Swargan, ring daoh semeng niki
titiang medek tangkil ring palungguh Ratu Aji, tur titiang matur panyukseman
agung, saantukan palungguh Iratu sampun mesih sweca ring titiang, miwah ring
keluargan titiang sami, ngantos titiang sami mrasidayang bangun saha rahayu
ring daoh semeng puniki olih karane sih paswecan palungguh Iratu kewanten
palungguh Iratu sane sampun nyayubin titiang, ngantos titiang luput ring
sananing mara bahaya. Ring rahina
puniki, titiang malih nuntut tuntunan palungguh Iratu, ledang palungguh Iratu
sane nuntun titiang ring rahinane puniki, rauhin ring keluargan titiang maka
sami, rauh ring pianak titiang sane wenten ring luar desan titiang puniki, …ten
wenten Ratu sane nandan ring rahina puniki, mangde titiang sareng sami
mrasidayang memargi setinut ring pekarsan
palungguh Iratu, dija titiang wenten, irika titiang mrasidayang
ngluwihang parab palungguh Iratu, nganggen babaosan titiang, pemanah titiang
sapunika taler paripolah titiang mangde
dije titiang wenten, irika titiang
nyidayang ngeluwihang parab palungguh Iratu, santukan palungguh Iratu
kewanten sane puji titiang, sembah sungsung titiang, ngelintang rahina wengi,
santukan palungguh Iratu sane ngardi titiang asapunika taler titiang
ngelungsung ampurayang sakayaning kaiwangan titiang miwah dosan-dosan titiang
sane sampun ngeletehin jiwan titiang puniki, ampurayang titiang Ratu suciyang
titiang, mangde titiang prasida rahina wengi, tangkil ring ainggih palungguh
Iratu tur palungguh Iratau sweca mireng atur panglungsur titiang puniki,
titiang ngastawa sajeroning parab Ida Sanghyang Yesus Kristus, amin”.
Terjemahan
bebas (pewawancara) adalah:
Ida
Sang Hyang Widhi Wasa, Tuhan saya di Sorga. Pada pagi ini saya menghadap pada
Yang Mulia, dan saya mengucapkan terimakasih yang amat sangat, karena yang
mulia telah memberikan keselamatan kepada saya, dan keluargsa saya semua,
sehingga kami bisa bangun dengan selamat di pagi ini berkat anugerah Yang Mulia
berikan, yang melindungi saya, sampai saya terhindar dari segala macam bahaya.
Di hari ini saya masih memohon perlindungan dari Yang Mulia, supaya Yang Mulia
bersedia menuntun saya hari ini, demikian juga semua keluarga saya, termasuk
pula anak saya yang berada di luar desa saya, supaya Yang Mulia menuntun pada hari ini, supaya saya semuanya berjalan
seiirng dengan kehendak Yang Mulia. Di mana pun saya berada, di sana saya bisa
memuliakan nama Yang Mulia, melalui perkataan saya, pemikiran saya dan tingkah
laku saya, supaya di mana pun saya berada, di sana saya bisa memuliakan nama
Yang Mulia, karena hanya Yang Mulia yang saya puja, sembah junjung melewati
malam hari, karena Yang Mulia-lah yang menjadikan saya seperti ini dan saya memohon
maaf atas kesalahan saya dan dosa-dosa saya yang menodai jiwa saya ini. Maafkan
saya Yang Mulia yang saya sucikan, supaya saya bisa malam ini, menghadap kepada
Yang Mulia dan Yang Mulia mendengar doa saya ini, saya berdoa dalam nama Ida
Sanghyang Yesus Kristus, amin”.
Oh
begitu,itu setiap pagi itu?
Ya,
tidak harus pas begitu, begitulah maksudnya.
Berarti
bebas, apa boleh diucapkan sama beliau?
Apa
yang ada dalam hati kita.
Itu
yang diucapkan begitu, apa saja yang dimau, berarti kita kan meminta saja sama
beliau tidak pernah mempersembahkan ?
Kenapa
tidak.
Apa
itu dipersembahkan ?
Persembahan
itu ya,
Karena
berarti kita kan meminta saja seperti meminta kepada ayah tidak pernah memberi.
Kita
memuji menyembah dia Tuhan kan begitu, memberi dan menyembahnya.
Memberi
dengan memuji saja begitu?
Tidak
kalau dengan harta misalnya maksudnya, sepuluh persen untuk Tuhan, misalnya
dapat padi atau hasil apa sepuluh persen tetap, istilah di sana, persepuluhan
begitu.
Kemana
dibawa persepuluhan itu?
Ke
Gereja.
Bapak
pernah membawa persepuluhan itu ?
Boleh
dikatakan terus.
Bagaimana
caranya bapak ngitung, dapat sepuluh bawa satu kesana begitu?
Ya.
Kalau saya ya, biasanya kalau dapat sepuluh kasi satu, itu paling kurang.
Tidak
punya pikiran, oh kenapa dikasi yang begitu, lebih baik sendiri yang makan.
Pikiran
begitu, tidak, sebab saya yakin sekali apa yang saya punya itu dari Tuhan
datangnya, kalau saya tidak mengerti tidak bisa.
Bapak rajin berarti persepuluhan itu?
Bahkan
kalau tidak ngasi persepuluhan itu saya anggap itu dosa besar, kita mencuri hak
Tuhan itu, milik Tuhan kita curi itu, kalau kita tidak beri persepuluh itu pada
Tuhan karena itu sudah milik Tuhan.
Benar
mau dipakai uang persepuluhan itu, nanti dipakai neko-neko sama teman-teman di
Gereja?
Itu
kan dia yang punya tanggung jawab, jadi tanggung jawab saya sudah tuntas pada
Tuhan, persepuluh selesai sudah.
Nggak
Bapak cemas nanti diambil uangnya?
Tidak,
sama sekali tidak, kalau dia berani silahkan.
Ada
yang begitu yang berani mencuri ?
Tidak
tahu saya Pak, tidak pernah saya denger.
Tidak
pernah ada menjabat apa di Gereja?
Pernah.
Apa
bapak dapat jabatan ?
Jadi
majelis.
Tugas
majelis itu apa?
Begitu,
ngatur kalau ada kebaktian, ngastawa pemuka, kalau ada …sakit berkunjung
kerumahnya, mesawang, menghibur begitu.
Oh
begitu, kalau ada teman sakit kita yang kesana begitu?
Ya,
Ya,
majelisan namanya .
Majelisan,
berapa orang itu?
Sebanyak-banyaknya,
ya 12, mungkin 12 yang kesana.
Mendoakan
begitu, bagaimana caranya orang sakit supaya dia sehat, coba sekarang ceritakan
sebentar.
Mendoakan
orang sakit supaya sehat, tidak ada. Kita mohon supaya dia disembuhkan begitu.
Bagaimana
matur sama Ida Sanghyang Widhi?
Kan
sudah tadi saya ceritakan.
Orang
sakit kan belum, itu kan baru orang nandur, pagi-pagi itu orang baru bangun,
sama begitu?
Tidak,
oh begitu menurut apa keperluan, begitu... pada Tuhan.
Kan
boleh katanya supaya dia sakit, kan boleh minta pada Tuhan, menjelek-jelekkan
supaya benar?
Tidak,
tidak, tidak boleh begitu tetapi kalau ,...
Apa
yang ada dipikiran, biar dia benar hancur besok, kan boleh bilang begitu juga?
Kalau
ngomong begitu, boleh tetapi salah.
Kok
salah, apa boleh dipikiran, kan itu bilang?
Tidak,
seperti saya tadi, kan sudah dikasi
syarat oleh Tuhan Yesus itu harus saling mengasihi. Jangan menngalahkan
kejahatan itu dengan kejahatan. Kalahkan kejahatan itu dengan kebaikan, jadi
itu dipakai dasar. Wenten ada orang jahat pada kita, tidak boleh jahat pada
dia, doakn biar dia sadar mulai bertobat begitu.
Bapak
jadi majelis saja di Gereja begitu?
Kan
bergilir itu, dulu pernah begitu.
Kok
bergilir, apa bedanya kan guru injil?
Tidak,
guru injil guru lain
Di
majelis saja Bapak, kalau di Bali tempekan namanya, bukan?
Kalau
disana setiap empat tahun ada yang mengganti.
Berapa
orang biasanya ?
Biasanya
12 orang.
Tugasnya
itu saja?Tugasnya mendoakan orang sakit ya?
Tidak
begitu, ada cekcok dirumah tangga, untuk menasehati itu.
Dari
tahun berapa atau berapa tahun sudah menjadi majelis?
Paling
saya truna saya pernah masuk pak?
Berapa
kali sudah dapat?
Ada
sudah tiga kali jabatan majelis.
Yang
terakhir, kapan itu?
Sudah
lama, ada dua belasan tahun sudah.
Lama
sudah, ada sudah dua belasan tahun ada yang terakhir.
Berarti
lebih banyak waktu jadi majelis itu mendoakan orang sakit atau menuntaskan
masalah perkawinan, yang Bapak banyak hadapi masalah waktu itu?
Menuntaskan
perkawinan, maksudnya apa itu? Misalnya
ada orang yang bertengkar kita kesana begitu?
Jarang
itu Pak.
Jarang
ya, berarti lebih banyak mendoakan orang sakit?
Ya,
orang sakit, sampai semua sakit yang kita doakan disana.
Disana
mendoakan, kan lain-lain jadinya doanya, tidaak ada keseragaman doa?, ada
majelis dua belas orang, ini mendoakan Timur, itu mendoakan Barat, kan begitu
ya?
Biasanya
kalau begitu banyak orang, satu saja berdoa, berbicara dan yang laain mendukung
dengan amin nanti.
Apa
boleh peminpin bilang begitu?
Apa.
Tidak
ada patokan tertulis doa itu?
Tidak,
ada doa tertulis.
Apa
itu doa tertulis, diayat dicari begitu?, dikitab dicari begitu?
Ya.
Doa
bebasnya ada juga?
Ya.
Doa yang itu yang langsung diajarkan
oleh sang Yesus, lain dari itu tidak, doa bebas dipakai, apa keperluan kita.
Sekarang
misalnya saya muda, saya ingin cepat punya istri dan cepat dapat pacar, boleh
juga berdoa?
Boleh,
boleh, asal jangan berdoa untuk menjelekkan orang itu nggak boleh.
Itu
yang nggak boleh begitu.
Ya.
Ada keperluan kita apa….dengan belajar.
Karena
segala yang kita kehendaki akan dipenuhi oleh Ida Sanghyang Widhi kan begitu,
kita harus membayar dengan persepuluhan kan begitu?
Ya,
tidak ada jaminan segala doa kita dipenuhi, tidak ada jaminan seperti itu. Kita
mohon bantuan asal sesuai dengan kehendaknya dipenuhi doa kita.
Berarti
bagaimana kita bisa mengetahui kehendak
beliau sama dengan yang seperti itu?
Kita
kan tidak tahu kehendak Tuhan.
Ya
itu dah, asal dikehendaki, kita kan
tidak tahu bahwa doa kita itu berhasil atau tidak, kan begitu?
Ya,
tetapi dengan yakin berhasil atau tidak, itu kehendak Tuhan terserah, tetapi
kita harus ada keyakinan, apa yang dihadap-hadapi sekarang Tuhan tahu itu.
Terus
waktu Bapak jadi majelis, orang-orang sakit yang didoakan seperti itu sebagian
sembuh atau banyaknya yang mati?
Sebagian
sembuh, banyak juga yang meninggal tetapi tidak semua.
Apa
yang menyebabkan, apa karena dosanya atau karena doanya tidak manjur?Apa yang
menyebabkan dia tidak berhasil didoakan, apa karena sakitnya yang terlalu besar
atau karena mendoakan tidak...
Karena
hidup mati itu di tangan Tuhan, siapa Tuhan hendak panggil sekarang, kan
begitu, kalau kecil umurnya, kalau tua umurnya, mennurut kehendak Tuhan , kamu
ini harus sudah aku ambil sekarang, kan tidak ada yang bisa berbuat, kehendak
Tuhan.
Nah
sekarang Bapak cerita tentang Tuhan, apa Tuhan itu?
Tuhan
itu roh, tidak berwujud.
Yesus
tidak Tuhan, Yesus tidak berwujud ?
Yang
menjelma itu, allah itu roh. Bisa kalau dia menjelma jadi Yesus Kristus, dia
menjadi Yesus Kristus.
Berarti
Yesus Kristus itu jelamaan dari Tuhan, begitu?
Ya
jelmaan jadi Tuhan, dia juga disebut anak Allah, Allah juga dia. Dia sendiri
mengatakan begitu, “Aku di dalam Bapa, Bapa di dalam Aku”.
Nah,
yening mangkin Bapak ngastawa, yang Bapak bayangkan roh atau Yesus?
Apa?
Yang
ada di pikiran kita?
Yesus.
Allah menyatakan diri di dalam Yesus supaya dilihat oleh mata kita, begitu pengertian saya.
Kalau
secara Bali, beliau berwujud manusia, kan sama dengan manusia-manusia lainnya?
Yang utama kan roh, yang kita tidak bisa.
Bukan
sama, karena dari lahirnya Yesus tidak punya ayah. Dia dikandung oleh roh
kudus, oleh Allah. Kalau dimanusia tidak ada begitu punya Bapah kan begitu,
diantara Ibu dan Bapak bersetubuhlah begitu dasarnya, tidak punya anak, ini
Yesus kan lain cuma Maria saja yang dikandung oleh roh Kudus, Allah yang disana
apa yang disebut anak Allah.
Bapak
percaya dengan cerita begitu?
Karena
percaya, saya Kristen. Kalau saya tidak percaya, tidak usah Kristen, percuma
Kristen kalau tidak mempunyai keyakinan begitu.
Berarti
harus itu yang dulu percaya, harus betul-betul Yesus itu penjelmaan Allah ?
Yesus
itu penjelmaan Allah dan datang kedunia untuk meyelamatkan manusia yang
percaya, begitu.Kalau tidak percaya begitu tidak usah Kristen, percuma walaupun
masuk gereja tidak ada gunanya.
Menurut
Bapak, saudara Bapak banyak yang seperti Bapak yang percaya atau memang namanya
saja Kristen?
Itu
tidak saya tahu Pak, karena itu pribadi sekali.
Yang
Bapak ketahui
Kebanyakan
karena keyakinan karena menerima Yesus itu, Kristus itu Tuhan dan juru selamat.
Nah,
kalau begitu selama Bapak jadi Kristen sampai sekarang, nggak ada saudara
Kristen yang berbuat jahat. Di Abianbase misalnya jadi maling.
Saya
kira ada saja juga Pak.
Ya
begitu, berarti kan tidak percaya Sanghyang Yesus kan begitu?
Ya.
Kan
rugi jadinya dia ngestawa ?
Tidak,
tidak rugi karena manusia biar dia beragama apa, biar dia agama apa, karena
dasarnya manusia dosa, sudah jatuh kedalam dosa, begitu istilahnya.
Nah,
pengalaman Bapak kalau begitu, selama tiga kali jadi majelis, apa saja ada
kasus-kasus yang jahat yang pernah ada disini?
Kasus
jahat, penipuan, pencurian, tidak pernah.
Selama
bapak disini? demi Allah ini, sejujur-jujurnya.
Ya,
kalau tidak saya menipu Allah ini.
Itu
dah, tidak ada yang mencuri, memirat atau apa semeton Kristen disini.
Tidak,
saya kira ada, tetapi bisa mereka menyelesaikan bersama-sama. Siapa yang
diajak, kalau sampai ke majelis tidak ada.
Yang
sampai pernah ditangani oleh majelis secara serius, apa disini yang ada
walaupun tidak Bapak waktu itu menjadi majelis, apa kira-kira yang menyebabkan
bumi gempar disini, wenten orang jahat memitra mungkin, memaling, merampok atau
apa yang pernah ada disini di Abianbase?
Tidak
pernah masalah begitu, antara kita saudara saya dan saudara Hindu tidak pernah
ada yang begitu, yang berat-berat
begitu.
Yang
ringan-ringan saja tugas majelis disini ya ?
Ya
ringan saja.
Di
mana majelis paling berat di Bali kira-kira?
Di
Bali entah dimana.
Di
Dalung mungkin nggak sama ya begitu?
Saya
kira, sama kayaknya tidak ada.
Nah
disini apakah ada orang dipecat jadi Kristen, kalau di Munduk saya ada dengar?
Disini
tidak pernah ada masalah, tidak ada Pak.
Disana
(Tabanan) mencuri babi dipecat jadi Kristen?
Tidak
sebenarnya boleh.
Dulu
tahun 1954, kalau disini kan aman-aman saja ya?
Tidak
pernah ada masalah begitu disini.
Nah
sekarang Bapak pernah lihat saudara Bali pindah agama atau Bapak sudah melihat
semuanya sudah beragama Kristen, apa ada yang nambah lagi saudara-saudara Bali
yang baru pindah agama disini, yang kecil-kecilan dari Bapak misalnya, kalau
Bapak kan sampun (sudah) generasi kedua, generasi pertamanya disini, siapa lagi
yang ada mungkin kecilan dari Bapak yang pindah agama?
Saya
kira kecuali kawin duluan itu.
Oh,
yang perempuan diambil oleh yang Kristen begitu?, kawin yang baru tidak ada
disni di banjar gede? Saudara Bali pindah agama yang muda dari Bapak ?
Tidak
yang saya lihat.
Berarti
ini kan bertahan Kristen yang dulu, kan begitu?Tidak ada Kristen baru disini?
Ada
juga Pak.
Siapa
namanya?
Yang
saya tahu, Luh Repen namanya.
Nikah
ke Kristen?
Bukan,
tetapi anaknya Kristen dulu jadi pendeta.
Dimana
jadi pendeta?
Sekarang
di Bangli katanya.
Ni
Luh Repen, namanya. Anaknya duluan jadinya, Ibunya belakangan?
Ya,
anaknya duluan.
Bagaimana katanya, Ni Luh Repen itu pindah
agama mengikuti anaknya katanya saja.
Saya
tidak pernah bertanya, dia tidak pernah
bilang, saya tidak tahu. Kan dihitung dalam keluarga itu, anak sama Ibunya.
Lain
dari itu tidak ada lagi berarti kan tidak berkembang berarti Kristen disini, di
Abianbase artinya yang dulu lima puluh, sekarang tetap lima puluh jadinya,
paling ditambah satu-satu, tidak di tambah umatnya disini, karena
saudara-saudara saja jadinya, karena anak-anak saja jadinya, tidak ada yang
baru berarti?
Tidak
Dimana
mencari catatan jemaat disini siap punya?
Pendeta
ada.
Pendeta
ya, berarti di Gereja ya. Bapak pernah melihat catatan jemaat atau membuka catatan
jemaat?
Pernah,
saya lihat pernah tetapi memperhatikan tidak.
Aksara
apa, latin?
Aksara
latin, Bali ada dulu Pak.
Berdoa
makan bagaimana Pak?
Singgih
Ratu Widhi Ajin titiang sane ring Swargan, ring dauh rahina puniki titiang
ngaturang panyuksma agung ring palungguh Iratu, santukan Iratu sampun mapice
pangan … sane jagi lungsur titiang puniki, puniki wantah paican palungguh Iratu
sane rasayang titiang, sane mangkin titiang jagi nglungsur, ledang Ratu
ngamertanin mangkin panjak iriki tur nyuciang mangda maguna angga miwah jiwan
tityang anggen tityang jagi ngeluihang palungguh Iratu ring jagate. Asapunika
atur tityang ring palungguh Iratu Sang Hyang Yesus. Amin
Artinya
: Ya Tuhan Bapa saya di Surga, pada hari ini daya mempersembahkan ucapan
terikasih yang sebesar-besarnya kepada Yang Mulia, karena Yang Mulia
menganugerahi saya pangan, yang akan saya makan ini, hanya anugrah Yang Mulia
ini yang saya rasakan, yang akan saya makan. Semoga Yang Mulia memberkati para
pengikiut Yang Mulia di sini dan menyucikannya, supaya berguna secara lahir
bathin untuk saya gunakan memuliakan Yang Mulia di bumi ini. Demikianlah doa
saya kepada Yang Mulia Sang Hyang Yesus.
Begitu,
lalu makan lantas begitu, hanya sebentar saja berdoa.
Ledang
ratu ngamertanin mangkin kecandun puniki, tur nyuciang mangde maguna bobot …
miwah jiwan titiang anggen titiang jagi ngeluwihan palungguh iratu iriki ring
jagate. Punika atur titiang sajeron parab Ida Sanghyang Yesus, amin.
Terus
makan begitu, sebentar saja berdoa ya ?
Menurut
keperluan kita sehari-hari untuk di Bali ... cukup, bersyukur bahwa ini
pemberian Tuhan.
Berarti
segala sesuatu yang dinikmati harus disyukuri kan begitu?
Ya.
Nah
sekarang kita kena musibah terus,
bagaimana caranya?
Musibah
apa itu misalnya? Musibah atau bahaya
jelek misallnya sawah tidak menghasilkan, tidak dapat pekerjaan, istri ngambek
atau bagaimana jelek-jeleknnya dapat musibah, kan protes pada Tuhan jadinya?
Tidak, protes barangkali tidak ada.
Bagaimana
jadinya, bagaimana kita berdoa?
Kita senantiasa bersyukur dalam keadaan
apapun.
Kalau
sedih bersyukur juga?
Bersyukur,
akan matipun bersyukur.
Bagaimana
caranya bersyukur kalau sedih, Bapak
pernah sedih?
Pernah.
Bagaimana
caranya?
Kalau
berdoa itu kan didalam, karena Tuhan memberikan kita untuk menderita menurut
kehendaknya, kehendak Tuhan walaupun
penderitaan bagi kita itu jelek tetapi bagi Tuhan itu baik.
Seperti
perkataan Bali bagaimana caranya matur di pikran sama Sanghyang Widhi?
Singgih
ratu Sanghyang Widhi, palungguh Iratu sampun ngicen titiang paindikan sane
nenten senengin titiang, nenten demenin titiang, nanging titiang percaya puniki
sampun pekarsan palungguh Iratu. Icen titiang kekuatan sane mangkin jagi
nanggung, napi sane patut sane dados tetanggungan titiang manut ring perkataan
palungguh Iratu, asapunika taler napi sane patut tegen titiang, yadiastun berat, icen titiang kekuatan jagi negen
punika, yen sampun manut ring pekarsan palungguh Iratu, amin.
Untuk kekuatan saja diminta ya, tidak keselamatan,
nunas ring Sanghyang Widhi, kekuatan saja, tidak yang lain yang diminta?
Diwaktu
kita lemah kan, keselamatan itu kan
sudah doa umum.
Waktu
kita lemah, kekuatan kita minta ya, tidak boleh minta kesaktian.
Tidak,
untuk apa?
Biar
kita bisa mengatasi apa-apa.
Tidak,
tidak ada, tidak perlu, kalau kita sudah yakin pada Sanghyang Widhi.
Kalau
Sanghyang Yesus kan sakti sekali, bisa menghidupkan saudara yang sudah mati,
kita tidak boleh minta supaya sakti?
Nanti
kan takutnya untuk menyombongkan diri Pak, sehingga tidak perlu minta itu,
nanti bahaya buat kita nanti, kalau sudah dikasi kekuatan terus sombong kan
begitu?, itu bahayanya.
Dengan
semangat Yesus kan tidak kita sombong, orang mau dipakai menolong seperti
Yesus?
Tidak
perlu sakti, apa adanya itu kita pakai.
Tidak
pernah minta kesaktian?
Tidak.
Boleh
kalau minta kesaktian? Kalau di Alkitab kelihatan boleh apa nggak minta
kesaktian?
Kesaktian
itu apa maksudnya?
Misalnya
kita, biar kita bisa sidi (sakti), nyentuh orang bisa mau sembuh, nunjuk saja
dia bisa selamat atau apa, kalau Yesus, dilihat saja orang bisa sembuh saya
lihat di Film, kita tidak bisa minta sidi (sakti) biar begitu?
Boleh
atau tidak itu saya tidak tahu Pak tetapi saya tidak pernah.
Yang
ada di Injil, ada nggak dimuat seperti itu?
Tidak
ada dimuat begitu, kita minta ini, minta itu boleh, tidak ada yang begitu.
Berarti
tidak, berarti ingat sama Sanghyang Yesus supaya kita punya kesaktian, bisa juga
jadinya ya? Terus coba setiap pagi ngestawa, Bapak kan bilang tadi apa saja
boleh bilang saat ngestawa. Sekarang setiap pagi saya duduk ngestawaa Sanghyang
Yesus mangde titiang bisa sakti.
Saya
tidak pernah begitu Pak
Kan
boleh juga begitu?
Saya
kira boleh, boleh begitu tetapi saya
tidak pasti tahu begitu, tetapi saya kira boleh.
Bapak
pernah bertanya di pendeta tanya begitu?
Tidak, sebab itu dah ada bahayanya sombong begitu.
Yesus
kan sakti tetapi tidak sombong ?
Tuhan
kan lain, kalau kita manusia dosa.
Kita
mengikuti sifat-sifat beliau kan bisa kita mengontrol diri?
Yesus
itu kan tidak minta kesaktian, dia itu sakti, lahirnya sakti, bukan dia
karena pernah minta.
Kalau
kita tidak boleh begitu?
Itu
dah saya tidak pasti tahu, boleh atau tidaknya, tetapi itu bahaya menurut saya.
Biar
kita sidi, biar bisa melihat.
Kita
kan sudah ada batasnya Pak.
Kalau
Bapak meditasi pernah?
Tidak,
meditasi tidak pernah.
Berdoa-berdoa,
ngastawa sidikit-sedikit saja,khusus harus mandi kala ngastawa?
Khusus
apa?
Kalau
kita ngastawa, mandi dulu ?
Tidak.
Sebelum
mandi boleh juga nggastawa juga?
Boleh,
tidak ada peraturan begitu.
Kalau
seperti Islam nyuci kaki dulu, tidak ada peraturan begitu?
Tidak
.
[bersambung]
No comments:
Post a Comment