Lalu
Saya Bilang Padanya Asalkan Kamu Percaya Pada Kristus
Nama Informan : Pendeta I Gusti Putu Puger (2)
Pewawancara
: Nyoman Wijaya, Ketua TSP
Tempat : Bongan, Munduk, Tabanan, 6
September 2001
Transkriptor : Dewa Ayu Satriawati, staf admin TSP
Korektor : Nyoman Wijaya, Ketua TSP
Transkriptor : Dewa Ayu Satriawati, staf admin TSP
Korektor : Nyoman Wijaya, Ketua TSP
Pengantar
Selama wawancara berlangsung pada
tanggal 6 September 2001, Pendeta I Gusti Putu Puger didampingi oleh istrinya.
Pada akhirnya istrinya terlibat dalam wawancara sebagai berikut:
Jadinya
kan Pak Pendeta nyambil (sambil
mengerjakan sesuatu) sekolah di sana?
“ Ya, nyambilang, saat itu kan saya sedang
hamil tua dan saya ditinggal masuk saat saya sedang hamil, saya tinggal bersama
anak saya satu dan saya juga hamil tua, dan saya juga tetap sabar di rumah
sendiri. Sesudah pulangnya tidak ada selama dua bulan di rumah, lalu anak saya
lahir dan sekarang anak saya itu tinggal di Jakarta, dan juga sudah menjadi
Pendeta di Jakarta,” kata istri Pendeta I Gusti Putu Puger).
Siapa
nama ibu?
Jero
Made Nerida.
Asalnya dari mana?
Saat
saya masih kecil saya tinggal di Plambingan.
Berarti
dua tahun belajar di sini juga menyambi belajar
ke Badung, apakah disini tidak hanya bertugas mengajar saja?
Saat itu
kan dia memimpin jemaat.
Apa
artinya memimpin Jemaat itu?
Saat di
mimbar itu kan memberikan ceramah.
Berapa
KK saat itu yang di tangani dan tempatnya di mana apakah di Gereja ini?
Belum saat
itu gerejanya sangat kecil dan sekarang saya baru membikin lagi gerejanya. Dulunya
kan rumah saya di Belimbing Sari yang dipakai Gereja dan di isi tulisan oleh
Pak Ayub, “PURA GEREJA.” Dan saya tidak suka dengan nama itu lalu saya ganti
menjadi, “ALIf DAN JA,” jawab Pendeta I Gusti Putu Puger
Apa
artinya?
Artinya
“awal dan Akhir” kalau tulisan yang lain ada lagi “ALPAOMEGA,” jawab Pendeta I Gusti Putu Puger.
Sekarang
ceritakan sedikit tentang pengalaman Pak Pendeta ketika menjadi Guru Injil di
sini, di mana saja tempat yang pernah dikunjung saat itu?
Kemana
saja saya sudah pernah mendatanginya. Dan sampai akhirnya di Sudimara.
Lalu
tantangan yang paling berat itu di mana?
Sama.
Kalu dibilang paling jelek, semuanya jelek, saat itu kan, yang senangnya dulu
saya ceritakan, dulu kan dari sini berjalan kaki ke Sudimara.
(supaya lebih jelas, lihat file “Kalau Dia ke Sana Pasti akan JadiKristen, Kalau Bisa ya Jangan SemuanyaJadi Kristen.”)
Sudimara
dari sini ke sebelah mana?
Ke
sebelah selatan ada tujuh kilo meter.
Lalu
siapa yang dicari di sana?
Saat itu
belum ada Jemaat. Lalu saya membikin Jemaat di sana dan saya langsung
memulainya.
Lalu
siapa yang di cari di sana?
Sejarahnya
begini, ada orang di Lalang Linggah, yang bernama Pan Wageh, dan saudaranya
banyak sekali di Sudimara, lalu ada saudaranya yang bernama Pan Sangkreg gila,
sampai-sampai anaknya sendiri ingin dibunuh.
Lalu
dimana dia berobat?
Ya, lalu
didoakan, lalu dari dalam tubuhnya ke luar orang-orang yang berwarna hitam.
Lalu siapa
yang mendoakan?
Pan
Wageh.
Apakah
sudah berganti agama saat itu?
Sudah.
Lalu
asalnya apakah juga dari Sudimara?
Asalnya
ya dari Lalang Linggah.
Saat
mendoakan itu apakah Pak Pendeta ada saat itu?
Saya ya
di sini, lalu dari tubuh orang yang gila itu ke luar orang-orang hitam banyak
sekali. Dan saya masih ingat orang yang keluar itu.
Siapa
namanya?
Coped.
Saat itu
kan Pendeta tidak ada di sana lalu kenapa tahu?
Ya, dia
yang melapor ke sini. Lalu ada namanya Pan Sungkreg yang menderita sakit Lepra,
dia itu muntahnya yang keras, itu terjadi sekitar tahun 1957, lagi dia hilang,
lagi kelihatan, tapi akhirnya dia sembuh total. Saat itu saya terus mendoakannya.
Lalu ada lagi yang menderita sakit lainnya.
Jadi
semuanya yang di Sudimara itu berganti agama karena sakit?
Ya. Ada
lagi namanya Pan Sadi, luka di punggungnya, lalu dia datang pada saya, dan dia
minta pertolongan pada saya.
Apakah
saat itu Pendeta saat itu sudah jadi Pendeta?
Belum,
saya masih menjadi Guru Injil.
Katanya
sudah di lantik sejak jaman Belanda?
Ya, pada
jaman Belanda yang belakangan, yaitu NiCA Tahun 1947. Dan akhirnya banyak yang
tahu kalu Pan Sadi itu sudah sembuh. Lalu ada lagi yang sakit lalu saya kembali
diserahkan dan saya di suruh mendoakannya. Tapi saya yakin saya tidak akan bisa
menyembuhkan, tapi kalau saya percaya yang sakit pasti sembuh. Saya bilang pada
anaknya yang sakit, kalau sudah percaya pasti bapakmu akan sehat kembali. Lalu
saya terus datang ke sana mendoakan akhirnya dia sembuh.
Lalu
siapa lagi yang di sembuhkan?
Men
Lipet, dia kalau lapar mengambil nasi dan perasaanya menjadi tidak enak. Dia
sampai tidak berani ke luar sampai baunya angit
(bau seperti bulu terbakar), lalu kembali saya yang diserahkan. Lalu saya
doakan sampai akhirnya dia sembuh. Sampai saya bertanya, “apa yang kamu pakai?”
Saya bilang kalau kamu minjam sabuk
(jimat) itu harus dikembalikan. Kalau kamu
yang punya dibakar saja.
Lalu
apakah sabuk-nya itu di bakar?
Ya, dibakar
dan saya turut mendoakannya sampai akhiranya dia sembuh.
Hanya
itu saja?
Ada lagi
di sebelah timur.
Siapa
namanya?
Pan
Sulandri. Dia itu buta (katarak), bapaknya bermain bersama babinya
dikandangnya, sapinya juga disana. Saya datang ke sana dan melihat keadaan
rumahnya sangat rusak.
Lalu
apakah Pak Pendeta juga ngastawa
(mendoakan)?
Ya, saya
berusaha, sekarang dia harus percaya pada Kristus, beliau orang mati bisa di
hidupkan kembali. Lalu dia berkata. “kalau begitu saya akan ikut Kristus”,
Lalu
apakah dia bisa sembuh?
Bisa,
sampai akhirnya, dia bisa beli toko. Saya juga merasa heran.
Itu baru
empat apakah ada lagi yang lain?
Ada lagi
yang di sebelah selatan namanya Tangsub.
Sakit
apa yang diderita?
Dia dua
tahun sudah bolak balik ke RS Sanglah.
Apakah
ini masih tempatnya di Sudimara?
Tidak
ini sudah ada di Bengkel.
Kalau
yang di Sudimara apakah sudah habis?
Tidak
masih ada lagi. Sekarang saya akan ceritakan yang ada di Bengkel.
Bengkel
itu sebelah mananya Sudimara?
Sebelah
timurnya sungai.
Apakah
jauh dari Sudimara?
Tidak
juga terlalu jauh.
Lalu
siapa yang sakit di Bengkel?
Tangsub
itu. Ia menderita sakit Desentri. Sudah dua kali ia dipulangkan dari RS Sanglah.
Lalu dia datang pada saya dan berkata, “ya, bagaimana pun caranya asalkan saya
sembuh.” Lalu saya bilang padanya asalkan kamu percaya pada Kristus.
Bagaimana
selanjutnya apakah Tangsub akhirnya dia sembuh?
Sampai
dua bulan dia sakit, lalu saya bilang kalau saya tidak bisa mendoakan saja,
lalu saya tanyai lagi, apa yang kamu pakai. Ternyata dia memakai dua buah sabuk
(jimat). Saya tanya darimana dia mendapatkannya. Tapi dia tidak mau
bilang.
Apakah sabuk (jimat)-nya dia perlihatan?
Ya, diperlihatkan
pada saya.
Lalu
bagaimana rupa sabuk-nya?
Ya cuma
berupa kain.
Lalu dibagaimanakan
sabuk itu?
Saya
pikir “oh ternyata begini sabuknya,”saya suruh dia membuang saja. Saya masih
juga bertanya-tanya apakah kalau dibuang nanti tidak terjadi apa-apa.
Lalu
apakah di bakar?
Belum,
saya tanyakan apakah dia masih sayang sama sabuknya itu. Kalau masih, saya kan
tidak wajar membakarnya. Saya bilang padanya. Kalau kamu memang masih ingin
terikat pada sabuk ini, maka kamu
tidak akan bisa sembuh. Saya jadi penasaran juga apa sih sebenarnya isi sabuk ini. Lalu saya buka sabuk itu.
Lalu
isinya apa?
Hanya
ada tembaganya, lalu juga berisi daun dapdap
(Latin: Erythrina Lithosperma),
berisi kain kafan, berisi uang bolong. Anehnya daun dapdap itu masih hijau.
Pendeta
bilang daun dapdap-nya masih hijau,
berarti sabuknya itu kan masih baru?
Tidak
sudah lama. Saya bilang padanya agar kamu tidak lama sakit sebaiknya sabuk ini dibakar saja.
Lalu
apakah jadi dibakar?
Jadi,
dia sendiri yang membakar.
Kalau istrinya
apakah juga ikut sakit?
Saat itu
dia belum punya istri, tapi bapaknya....
Lalu dia
dipindahkan ke Sudimara?
Ya.
Jadinya
kan ada keluarganya di Sudimara?
Ada
banyak keluarganya di sana.
Lalu dia
juga sembuh?
Ya,
sembuh dengan cepat sekali. Ya. Jadinya dia senang dan keluarganya di sana juga
senang.
Berarti
di Bengkel I Tangsub yang pertama kali berganti agama?
Tidak,
Sobrat.
Kenapa I
Sobrat itu?
Dia
buta.
Ada
hubungan apa I Sobrat sama I Tangsub?
Tidak
ada hubungan apa-apa, cuma satu banjar saja.
Banjar
apa namanya?
Bengkel
Kedongdong.
Jadi
cuma baru dua orang saat itu yang berganti agama?
Ya.
Sobrat
jadinya yang lebih dulu?
Ya, dan
kebaktian ke Sudimara. Dulunya dia juga ke sini sebelum berdirinya gereja. Dulu
saat belum ada gereja itu jika hari Paskah pagi-pagi.
Sebelum
berdirinya Gereja di sana?
Ya.
Cuma dua
ada di Bengkel?
Ya. Saat
itu cuma ada dua.
Pendeta
yang memberikan pencerahan kepada keduanya itu?
Ya. Ada
lagi satu di Sudimara sebelah selatan, namanya I Jobeg.
Sakit
apa dia?
Dia gila.
Apakah
dia sudah berkeluarga?
Belum.
Kok
banyak sekali yang sakit belum berkeluarga?
Ya,
bapaknya juga begitu, lalu dia menyerahkannya pada saya. Saya bilang agar
semuanya satu KK datang ke sini maka dia akan bisa sembuh.
Lalu
satu KK itu masuk Kristen?
Tidak
mau dia satu KK. Lagi bapaknya masuk Hindu, lagi masuk Kristen lagi dia sembuh,
lagi masuk Hindu lagi dia sakit. Sedang keluarganya yang lain tetap sehat.
Berarti
di Sudimara Selatan. I Jebeg yang paling dulu masuk Kristen?
Ya.
Kalau
ini kan yang saya bilang di Sudimara Selatan, kalau yang di sudimara utara, kan
lain jadinya?
Ya,
kalau I Jebeg itu kan tetap dia di Kristen, hanya bapaknya saja yang lagi ke
Hindu, lagi ke Kristen.
Terus
akhir cerita apakah dia terus menjadi Kristen?
Ya.
Sampai akhirnya dia meninggal. Ada yang lagi satu, namanya I Cetug, dari Lalang
Linggah, dia di sana disiksa oleh masyarakat di sana. Begitulah riwayat
Sudimara. Saya mengabdikan diri siang malam.
Jadinya
kan hanya dua saja, Sudimara dan Bengkel saja. Lalu apakah ada lagi yang
lainya, yang Bapak Pendeta layani, sekarang kita urut ceritanya, sebelumnya
jadi Pendeta, sekarang kan ceritanya masih menjadi Guru Injil, dimana lagi
pernah melayani?
Di
lalang Linggah. Ada namanya Pan Wageh yang saya ceritakan tadi.
Sakit
apa yang diderita pan Wageh?
Dia
tidak sakit.
Ada
hubungan apa Pak Pendeta dengan Pan Wageh?
Saya
jauh dan tidak ada hubungan keluarga.
Pan
Wageh itu yang memberi berita bahwa ada Kristen?
Pan
Wageh ini kan mempunyai tanah yang luas, lalu dia akan menjadi dalang. Lalu dia
mencari wayang ke Sading, lalu dia mendatangi I Sadra.
Sadra
itu siapa?
Pendeta
di Sading, lalu di sana dia mendapat cerita karena di sana banyak Kristen, lalu
akhirnya pan Wageh yang pertama kali beragama Kristen di Lalang Linggah (Bajra,
Tabanan).
Mana
yang lebih dahulu pendeta apa dia?
Ya lebih
dulu saya. Saat itu saya sedang menjadi Guru Injil.
Apakah Pak
Pendeta pernah memberikan Kotbah ke sana?
Satu
bulan sekali saya datang ke sana setiap Minggu. Saya datang ke sana melayani.
Apa yang
di naiki ke sana?
Saya ke
sana bersama rombongan.
Sekarang
ke Sudimara, Lalang Linggah, Blatungan. Sekarang kita lanjutkan sedikit tentang
di Lalang Linggah. Di sana apakah ada
yang sakit di sana lalu dia berganti agama?
Tidak.
Lalu apa
yang pengalamannya di sana?
Ya, saya
di sana saya hanya cerita-cerita, Pan Wageh itu kan orangnya kaya.
Apakah
tidak ada pengalaman yang yang paling di ingat di sana?
Yang
saya paling ingat saat di sana, saya kan diajak masuk masuk partai. Saya kan
tidak mau masuk partai PNI.
Sekarang
kan sudah jaman merdeka?
Saya kan
tidak mau masuk partai PNI, saat itu kan dia. Subak-nya sudah eneh, lalu Pan
Wageh itu di kenai kasus aci (upacara).
Tapi dia tidak mau membayar aci,
partai juga tidak mau mengurusi, sampai akhirnya dia mengadakan urusan ke Sedahan Agung (petugas pemerintah kabupaten
yang mengatur dan mengawasi tertib pengairan di dalam wilayah kabupaten dan
merupakan penasehat serta pelaksana dari pemerintah kabupaten didalam bidang
irigasi) dan kelian desa (kepala
desa)nya mengurusi itu. Sedahan agung-nya
mengadakan rapat ke Sembung. Lalu Pan
Wageh tidak mau begitu hanya dibayar beberapa sen dan uangnya tidak begitu
banyak kira-kira ada lima puluh. Lalu dia tidak mendapatkan air.
Berati
di lalang Linggah tidak ada yang sakit?
Tidak.
Lalu yang dari Lalang Linggah ada beberapa KK yang pindah ke Belimbing Sari,
hanya Pan Wageh yang masih kuat tinggal di sana.
Jadinya
di sana kan jadinya pendetang baru, apakah bersamaan dengan Pak Pendeta yang
mendapat hutan?
Lebih
dulu mereka, saya jadinya hanya numpang.
Jadinya
Pan Wageh itu kan masih tetap di sini, lau yang pindah ke Belimbing Sari itu
siapa?
Pan
Jaga, Pan Muda.
Itu
pindahnya apakah pada saat jaman Belanda?
Ia, saat
jaman Belanda yang belakangan (NICA).
Kalau Pak
Pendeta kan ke Belimbing sari merupakan angkatan yang pertama, sedangkan
saudara yang dari Lalang Linggah itu angkatan yang ke berapa?
Angkatan
pertama juga.
Jadinya
kan juga pada jaman Belanda juga?
Ya.
Jadinya
kan bukan Pan Wageh yang jadi angkatan Kristen yang pertama?
Ya.
Pan
Wageh yang pertama, itu sudah pada jaman Belanda yang kedua (NICA), jadinya Pan
Wageh kapan berganti Agama?
Pakoknya
dia yang pertama, lalu Pan Buda.
Jadinya
pada jaman Belanda sebelum Jepang?
Ya,
barengan Pak Ayub.
Waktu
pendeta Puger ke sana jadinya kan sudah kosong di sana dan itu berarti apakah
semua masyarakat, saat itu sudah pindah ke Belimbing Sari. Siapa saja yang
masih tinggal disana?
Ya,
hanya Pan Wageh itu saja.
Selain
pan Wageh apakah ada yang lain yang masih tinggal di sana?
Itu dah,
Pan Jadeng, Pan Buda pindah ke Belimbing sari.
Terus
kemana lagi perjalannya?
Ke
Piling.
Berapa
kilo dari sini?
Ada dua
belas kilo.
Ke sananya
naik apa?
Sepeda
gayung.
Apakah
saat itu belum ada mobil?
Belum.
Di sana
apakah memulai atau hanya memberikan kotbah biasa?
Saat itu
saya sudah tahu, saya sering sudah ke sana.
Apakah
pendeta tiak mendapat tugas ke sana?
Tidak.
Siapa nama orang yang dicari di sana?
Saya
sudah lupa nama-namanya.
Sekarang
kita urut ceritanya. Di gereja Alif dan Ja, kelompoknya apa saja?
Lalang
linggah, Piling, Sudimara.
Kalau
yang lain.....?
(tidak
terjawab)
Gereja Alif dan Ja katanya ada tempekan-tempekan. Apa nama tempekan
itu? Apa
yang menyebabkan bernama tempekan? Dan apa gunanya tempekan itu?
Tempekan merupakan gabungan.
Kesini dia bergabung begitu?
Ia.
Saat pendeta masih menjadi Guru
Injil, hanya baru tiga ada tempekan itu, Galang Linggah, Sudimara dan Piling.
Kalau Bengkel itu bagaimana?
Masih lingkungan Sudimara.
Bengkel itu termasuk Sudimara?
Ya. Sekarang saya urutkan lagi
sedikit, saya kan belajar menjadi Guru Injil, sampai akhirnya saya tamat, lalu
saya mengajarkan Injil. Kan sakit cucunya Pan Wageh ada kira-kira umurnya enam
tahun, saat itu dia masih kecil. Berobat. Disini dulu sakit setengah, lalu
berat sakitnya dan di sana juga kan dekat balian-nya.
Sakitnya bertambah parah, saya Pan Wageh juga yang saya ajak pulang. Besok paginya
saya datang ke sana , tapi anak kecil itu sudah dipanggil alias meninggal. Lalu
ditaruh di kamar mandi. Lalu saya membawa ke Pak Daniel saat itu dia menjadi
sekretaris di Gereja Bali, kemudian dia datang ada kira-kira jam 8, lalu entah
kenapa kok saya ditinggal. Saya jadi bingung, saat itu saya akan pulang, lalu
mantrinya di sana mengajak saya memindahkan anak kecil tersebut. Kemudian saya
pergi ke toko bersama Pan Wageh.
Mencari apa ke toko?
Saya mencari peti, saya punya
kenalan seorang Nyonyah ........ dia bertanya “Mencari apa ke sini?”, saya mencari peti yang agak besar sedikit.
Kira-kira sat itu tahun berapa,
atau jaman apa?
Saat saya menjadi Guru Injil.
Berarti masih jaman Jepang, atau
saat NICAnya?
Jepang apa saya sudah lupa, saat
itu Daniel yang jadi Sekretaris Gereja Bali. Saat itu saya ditinggal sendiri,
saya kan sibuk jadinya, mencarikan peti, saat itu jembatan di Bajra sedang
dibenahi, jadinya hanya bisa sampai di Bajra dan tidak bisa lewat ke Barat
karena jalannya terputus, dan yang di Barat juga begitu hanya bisa sampai di
Antasari lagi mereka balik ke Barat.
Saat itu kan tidak ada jembatan?
Belum, saat itu sedang perbaikan.
Dimana saya mencari peti, kalau tidak langsung mendapat di rumah sakit, rumah
sakitnya juga tidak bisa lewat ke Barat. Sekarang ada lantas bak lalu saya
dapat sampai di Bajra, saya juga membawa sepeda, kita kan tidak tahu nanti
terjadi apa-apa, sampai di sana saya turun karena membawa peti kan jadinya
gampang dan tidak terlalu kelihatan. Lalu petinya saya taruh pada boncengan
sepedanya lalu saya naik ke Barat. Bapak dan Ibunya anak kecil meninggal itu
kan tidak bisa berjalan, lalu dia menyewa kendaraan. Saat itu tidak ada yang
tahu kalau dalam peti itu ada mayat anak kecil.
Petinya kecil kan
begitu?
Lalu saya
sampai di rumahnya, dan dia juga baru datang dari barat di rumahnya. Dari bagi
berangkat sampai malam baru sampai.
Perut saya saat itu juga lapar, lalu saya taruh di sana petinya dan
akhirnya dia yang mengambil anak kecil itu. Lalu saya suruh memanggil kelihan
adatnya. Setelah datang kelian adatnya dan ternyata tidak di perbolehkan
mengubur di kuburan biasa.
Kelihan adat-nya kan jadinya orang Hindu-Bali?
Hindu. Saat itu kan Pan Wageh ini mempunyai tanah di
samping kuburannya itu, lalu saya mengajak dia. Saya tanya pada kelihanya “Apakah
tidak boleh ikut disamping dijalannya?” Tidak. Sekarang lantas saya membuka kuburan 1 are,
lantas saya kuburkan anak itu. Itu memang betul pengalaman saya saat itu.
Saat itu kan masih menjadi Guru Injil?
Saat mencari peti itu, kan Pan Wageh yang punya
sepedanya, juga ada tas kulit yang berisi kain untuk selimut di sana, lalu baru
keluar membawa peti, saya pinjam sedangkan sepeda saya masih di sana, karena
berisi tas kan dikira tas itu berisi uang, lalu saya kembali kesana, dan saya
tidak melihat lagi sepeda saya itu. Saya tanya, pada orang di sana “dimana
sepeda saya?” Saya tidak melihat begitu kata orang di sana. Lalu saya melapor
ke polisi.
Lantas sepedanya hilang?
Hilang, mau dicari dimana.
Sekarang lanjutkan lagi, selain di Lalang linggah,
Sudimara, Bengkel dan Piling kemana lagi perjalannya, saat masih menjadi guru
injil?
Sekarang di Lalang Linggah ceritanya saya tutup, dan
sekarang di sana sudah punya kuburan sendiri.
Oh sekarang sudah punya kuburan sendiri, kan yang memberi
tanah pan Wageh?
Ya.
Kalau Gereja apakah sudah ada di sana?
Belum.
Nanti dulu, sebelum kita melangkah pada permasalahan
lainnya, sesudah selesai menjadi Guru Injil, lalu masuk di Badung di Gereja Debes, tahun berapa selesai disana?
Kalau itu saya sudah lupa.
Apakah tidak ada surat pengukuhan menjadi pendeta?
Tidak.
Kira-kira tahun berapa menjadi
pendeta apakah saat negaranya sudah tenang atau selesai Proklamasi?
Ya, saya sebenarnya tidak punya catatannya tentang hal
itu.
Coba sekarang kita pakai
Proklamasi sebagai tolak ukur pembicaraan. Apakah selesai proklamasi atau sedang revolusi
pisiknya atau saat Ngurah Rai-nya sedang bereperang, atau bagaimana, agar ceritanya
terurut, sejak menjadi Guru Injil bagaimana dan sejak menjadi pendeta itu
bagaimana?
Saat jamannya Ngurah Rai saya masih berada di Blimbing
Sari. Lalu saya punya anak yang pertama.
Tahun berapa lahirnya anak yang pertama?
Tahun 1946, saat jaman Jepangnya.
Tidak jaman jepang tahun ahun 1942?
Saat itu sudah merdeka. Pas dah di jaman merdeka-nya anak
saya lahir. Saat itu saya sedang di Blimbing Sari saya dengar orang berteriak,
“merdeka, merdeka” di jalan.
Lalu belum jadi guru Injil?
Belum, belum menjadi guru injil, saat dia menjadi guru
injilnya kan saat saya sedang hamil Si Luh Made, jawab istri Pendeta I Gusti
Putu Puger
Berarti saat itu kan itu tahun
1947, nah lalu saat NICA Gandek itu, nah lalu saat menjadi pendeta saat lahirnya siapa?
Ketutnya saya yang nomer empat.
Tahun berapa dia lahir?
Sekitar tahun 1952, kan dari Untal-Untal datang ke sini.
Saya mulai tugas di sini bulan 10 tahun 1950.
Ya, sekarang saya mengerti,
pendeta di sini dua tahun. Jadinya kan tahun 1952. Lalu menjadi pendeta?
Belum saya baru masuk.
Lalu tahun 1952 lagi belajar, dan jadinya tahun 1954 baru menjadi pendeta?
Mungkin begitu.
Lalu cerita yang di Lalang
Linggah, Sudimara, Bengkel dan Piling itu tahun 1950-an, agar sekarang semakin
jelas ceritanya kan jadinya tahun 1952 ceritanya?
Ya. Baru saya sampai di sini.
Jadi tahun 1952, saat berada di
Lalang Linggah, Bengkel, Sudimara, dan Piling, itu pengalaman saat menjadi guru
injil?
Ada lagi satu pengalaman saya saat ada di Blatungan.
Blatungan, saat menjadi Guru Injil juga?
Ya, jauh. Jalannya juga naik turun.
Naik apa ke sana, apakah juga naik sepeda?
Naik sepeda,
sedangkan jalannya naik turun di hutan.
Lalu apakah mencari jalan pintas?
Ya, saya mencari jalan pintas, dari Tabanan sampai di Antasari.
Lalu sampai di sana saya turun dan berjalan kaki ke barat, ke Surabrata, lalu
saya ke utara.
Lalu siapa yang di cari di Blatungan, siapa namanya,
apakah ini memulai?
Ya, saya masih memulai.
Bagaimana caranya pendeta tahu ada saudara di Blatungan?
Saat itu ibu saya Si Luh Suryati meninggal, lalu ada tamu
yang dari Blatungan.
Siapa namanya?
Desak Biang Mundri dari Blatungan. Lalu ada tukang kawat.
Tukang kawat apa, kabel
listrik?
Tidak kawat telpon.
Juga dari Blatungan?
Tidak dari Tabanan. Hari Minggu itu pas.
Hari minggu pas, barengan sama Desak Biang?
Ya.
Siapa nama tukang kawat itu, apakah dia orang Jawa?
Saya lupa namanya, tapi dia itu orang Jawa.
Pas hari Minggu?
Ya, kan jadinya saya tidak bisa memimpin kebaktian hari
Minggu, jadinya saya melayani penguburan saat itu. Lalu kata Desa Biang Mundri, di Blatungan ada
namanya Desak Ketut sakit keras dan hampir meninggal, lalu saya disuruh agar
datang ke sana.
Apakah Desak Mundri itu sudah berganti agama?
Sudah, dia kan percaya di Belimbing Sari.
Sekarang ceritakan sedikit
tentang Desak Mundri, Desak Mundri itu kan dari Blatungan, dapat pelajaran di
Blimbing Sari, siapa yang mengajak ke sana?
Dia berdagang di sana, dan dagangannya di sana juga
lumayan besar.
Pernah dia di Blatungan sudah berganti agama?
Di sana dia hanya belajar.
Oh belum berganti agama?
Itu kan baru mulai.
Kalau dibaptis sudah?
Saya tidak tahu saat itu apakah sudah di baptis atau
belum.
Sekarang ceritakan Desak Mundri
sama Pak Pendeta, apa saja yang diceritakan oleh Desak Mundri sama Pak Pendeta?
Ada katanya orang sakit yang bernama Desak Ketut, dia itu
tangannya gemetar, “sekarang silahkan berangkat, mungkin dia sudah meninggal.
Setelah saya mendengar itu saya berangkat ke sana pagi-pagi sekali, saya ke
Surabrata ke utara, lalu saya sampai di rumahnya Desak Ketut, dan ternyata dia
masih hidup. Karena masih hidup kan jadinya batal ngurus kuburan, lalu saya
mendoakan akhirnya dia tidak jadi meninggal.
Lalu pendeta berdoa di sana?
Ya.
Apakah Desak Ketut itu sudah sekarat?
Sudah, bahkan sudah tidak mampu lagi untuk berjalan.
Lalu bagaimana membilang
berdoa, sama masyarakat disana kalau dia itu mau…?
Biasa saja.
Desak Ketut itu apakah masih gadis atau bagaimana?
Dia itu sudah remaja. Lalu saya disana ngobrol bersama
masyarakat disana dan banyak yang mau masuk Kristen.
Bagaimana membilang sama saudaranya, Desak Ketut saat itu
sama Pak Pendeta?
Saya bersedia apa pun yang diperlukan di sana saya yang
akan mengurus semuanya. Lalu saya kan saya batal mengurus kuburan karena tidak
jadi dia meninggal.
Oh, maunya ke sana mengurus kuburan?
Ya.
Saya belum mengerti bagaimana caranya ngomong sama
bapaknya Desak Ketut ini?
Saat itu kan dia sudah Kristen. Saat itu dia baru masuk.
Saudaranya di situ juga sudah bepikir begitu, dan menurut saudaranya di sana
kalau Desak Ketut itu sudah akan menunjukkan tanda-tanda akan meninggal. Tapi
akhirnya dia tidak meninggal dan sekarang Pak Visch yang mengajak Desak Ketut itu.
Lalu disana kan ada beberapa KK yang sudah Kristen. Di sana kan akhirnya
membuat kuburan.
Berapa kali Pak Pendeta datang ke Blatungan?
Sering saya datang ke sana dan sekarang di sana sudah ada
Gereja.
Kalau yang bergati agama dari Hindu ke Kristen apakah
juga Pak Pendeta melihat?
Ya, melihat.
Siapa namanya yang berganti agama itu?
Dewa Putu Cekeg.
Bagaimana ceritanya itu?
Dia itu kan banyak sekali tahu tentang cetik (racun tradisional)
Oh, cetik-cetikan?
Ya.
Cekeg itu pintar nyetik
begitu?
Ya pintar.
Kalau istilah Balinya ia tahu ngeleak (mengubah diri jadi makhluk jadi-jadian)?
Kalau itu tidak. Dia hanya tahu mengobatinya. Dia kan
percaya.
Saat itu dia masih Hindu?
Ya.
Lanjutkan sedikit ceritanya tentang Cekeg?
Cekeg itu sangat kaya orangnya. Dia itu banyak sekali
punya tanah, ada kira-kira jumlah tanahnya 40 Hektar.
Lalu bagaimana ceritanya dengan Cekeg itu?
Ya. Sama.
Bagaimana kok Pendeta kenal dengan Cekeg?
Ya, dari Desak Biang itu yang memberi tahu saya.
Apa yang menjadi pokok
pembicaraan antara pendeta dengan Cekeg saat itu, apakah hanya membicarakan
tentang cetik saja?
Ya, tentang cetik
juga, dia itu kan pintar sekali. Ada
juga yang lainnya bernama Dewa Luwus, lalu Dewa Luwus ini saya ajak ke
Sesetan.
Kenalnya saat datang pertama kali ke sana?
Ya. Langsung ngobrol beberapa kata saya kenal dengan
orang di sana lalu saya juga dapat ngobrol beberapa kata.
Dewa Cekeg , saat itu masih beragama Hindu?
Saat sudah akan masuk agama Kristen. Dia sudah datang
pada saya. Terus sampai ada yang dipanggil (meninggal) saat itu saya juga
mengurusi Kuburan. Mau ikut di kuburan sana kan tidak di kasi. Lalu ada hutan
di sana, itu saya minta, tapi juga tidak di pebolehkan. Karena sudah boleh
dikuburkan di tanah sendiri, lalu saya di sana bolak balik sampai sore di sana.
Lalu saya di sana juga membikin kuburan 1 are. Lalu saya pastikan dengan doa
Alah Bapa, Alah Putra. Saat itu saya belum mebangun Gereja.
Membangun Gereja pertama saat itu, saat masih menjadi
Guru Injil?
Itu dah pengalaman saya di sana. Paginya sama sekali
tidak ada tempat mandi.
Jadi di sana nginap, istrinya juga di ajak?
Ya, saya disana nginap, istri saya saat itu masih
mengajak anak saya yang masih kecil kan
jadinya tidak bisa ikut.
Ibu kan jadinya takut lama-lama menunggu Bapak?
Ya. Terkadang saya sakit di rumah saya sedirian
mengurusinya. Begitu juga saat dia ke Sudimara, sampai jam sepuluh malam belum
datang. Saya kan ingat jalan naik turun di jembatan sekarang, saat itu kan
belum ada jembatan, saya kan jadinya was-was dan takut terjadi apa-apa sampai
saya tidak bisa tidur saya jadi berpikir, “beh, begini rasanya orang jadi
Pendeta”. Saya di rumah mengajak anak saya yang masih kecil-kecil saya di
tinggal sendiri, mertua saya tidak punya, ipar juga tidak punya,” jawab istri
Pendeta Putu Puger (bersambung)
No comments:
Post a Comment