Wednesday, April 20, 2016

Lalu Saya Bilang Padanya Asalkan Kamu Percaya Pada Kristus


Lalu Saya Bilang Padanya Asalkan Kamu Percaya Pada Kristus

Nama Informan         :  Pendeta I Gusti Putu Puger (2)
Pewawancara            : Nyoman Wijaya, Ketua TSP
Tempat                        : Bongan, Munduk, Tabanan, 6 September 2001 
Transkriptor               : Dewa Ayu Satriawati, staf admin TSP 
Korektor                     : Nyoman Wijaya, Ketua TSP

Pengantar
Selama wawancara berlangsung pada tanggal 6 September 2001, Pendeta I Gusti Putu Puger didampingi oleh istrinya. Pada akhirnya istrinya terlibat dalam wawancara sebagai berikut:  

Jadinya kan Pak Pendeta nyambil (sambil mengerjakan sesuatu) sekolah di sana?
“ Ya, nyambilang, saat itu kan saya sedang hamil tua dan saya ditinggal masuk saat saya sedang hamil, saya tinggal bersama anak saya satu dan saya juga hamil tua, dan saya juga tetap sabar di rumah sendiri. Sesudah pulangnya tidak ada selama dua bulan di rumah, lalu anak saya lahir dan sekarang anak saya itu tinggal di Jakarta, dan juga sudah menjadi Pendeta di Jakarta,” kata istri Pendeta I Gusti Putu Puger).


Siapa nama ibu?
Jero Made Nerida.

Asalnya  dari mana?
Saat saya masih kecil saya tinggal di Plambingan.

Berarti dua tahun belajar di sini juga menyambi belajar ke Badung, apakah disini tidak hanya bertugas mengajar saja?
Saat itu kan dia memimpin jemaat.

Apa artinya memimpin Jemaat itu?
Saat di mimbar itu kan memberikan ceramah.

Berapa KK saat itu yang di tangani dan tempatnya di mana apakah di Gereja ini?
Belum saat itu gerejanya sangat kecil dan sekarang saya baru membikin lagi gerejanya. Dulunya kan rumah saya di Belimbing Sari yang dipakai Gereja dan di isi tulisan oleh Pak Ayub, “PURA GEREJA.” Dan saya tidak suka dengan nama itu lalu saya ganti menjadi, “ALIf DAN JA,” jawab Pendeta I Gusti Putu Puger

Apa artinya?
Artinya “awal dan Akhir” kalau tulisan yang lain ada lagi “ALPAOMEGA,”  jawab Pendeta I Gusti Putu Puger.

Sekarang ceritakan sedikit tentang pengalaman Pak Pendeta ketika menjadi Guru Injil di sini, di mana saja tempat yang pernah dikunjung saat itu?

Kemana saja saya sudah pernah mendatanginya. Dan sampai akhirnya di Sudimara.
Lalu tantangan yang paling berat itu di mana?
Sama. Kalu dibilang paling jelek, semuanya jelek, saat itu kan, yang senangnya dulu saya ceritakan, dulu kan dari sini berjalan kaki ke Sudimara.


Sudimara dari sini ke sebelah mana?
Ke sebelah selatan ada tujuh kilo meter.

Lalu siapa yang dicari di sana?
Saat itu belum ada Jemaat. Lalu saya membikin Jemaat di sana dan saya langsung memulainya.

Lalu siapa yang di cari di sana?
Sejarahnya begini, ada orang di Lalang Linggah, yang bernama Pan Wageh, dan saudaranya banyak sekali di Sudimara, lalu ada saudaranya yang bernama Pan Sangkreg gila, sampai-sampai anaknya sendiri ingin dibunuh.

Lalu dimana dia berobat?
Ya, lalu didoakan, lalu dari dalam tubuhnya ke luar orang-orang yang berwarna hitam.

Lalu siapa yang mendoakan?
Pan Wageh.

Apakah sudah berganti agama saat itu?
Sudah.

Lalu asalnya apakah juga dari Sudimara?
Asalnya ya dari Lalang Linggah.

Saat mendoakan itu apakah Pak Pendeta ada saat itu?
Saya ya di sini, lalu dari tubuh orang yang gila itu ke luar orang-orang hitam banyak sekali. Dan saya masih ingat orang yang keluar itu.

Siapa namanya?
Coped.

Saat itu kan Pendeta tidak ada di sana lalu kenapa tahu?
Ya, dia yang melapor ke sini. Lalu ada namanya Pan Sungkreg yang menderita sakit Lepra, dia itu muntahnya yang keras, itu terjadi sekitar tahun 1957, lagi dia hilang, lagi kelihatan, tapi akhirnya dia sembuh total. Saat itu saya terus mendoakannya. Lalu ada lagi yang menderita sakit lainnya.

Jadi semuanya yang di Sudimara itu berganti agama karena sakit?
Ya. Ada lagi namanya Pan Sadi, luka di punggungnya, lalu dia datang pada saya, dan dia minta pertolongan pada saya.

Apakah saat itu Pendeta saat itu sudah jadi Pendeta?
Belum, saya masih menjadi Guru Injil.

Katanya sudah di lantik sejak jaman Belanda?
Ya, pada jaman Belanda yang belakangan, yaitu NiCA Tahun 1947. Dan akhirnya banyak yang tahu kalu Pan Sadi itu sudah sembuh. Lalu ada lagi yang sakit lalu saya kembali diserahkan dan saya di suruh mendoakannya. Tapi saya yakin saya tidak akan bisa menyembuhkan, tapi kalau saya percaya yang sakit pasti sembuh. Saya bilang pada anaknya yang sakit, kalau sudah percaya pasti bapakmu akan sehat kembali. Lalu saya terus datang ke sana mendoakan akhirnya dia sembuh.

Lalu siapa lagi yang di sembuhkan?
Men Lipet, dia kalau lapar mengambil nasi dan perasaanya menjadi tidak enak. Dia sampai tidak berani ke luar sampai baunya angit (bau seperti bulu terbakar), lalu kembali saya yang diserahkan. Lalu saya doakan sampai akhirnya dia sembuh. Sampai saya bertanya, “apa yang kamu pakai?” Saya bilang kalau kamu minjam sabuk (jimat) itu harus dikembalikan. Kalau  kamu yang punya dibakar saja.

Lalu apakah sabuk-nya itu di bakar?
Ya, dibakar dan saya turut mendoakannya sampai akhiranya dia sembuh.

Hanya itu saja?
Ada lagi di sebelah timur.

Siapa namanya?
Pan Sulandri. Dia itu buta (katarak), bapaknya bermain bersama babinya dikandangnya, sapinya juga disana. Saya datang ke sana dan melihat keadaan rumahnya sangat rusak.

Lalu apakah Pak Pendeta juga ngastawa (mendoakan)?
Ya, saya berusaha, sekarang dia harus percaya pada Kristus, beliau orang mati bisa di hidupkan kembali. Lalu dia berkata. “kalau begitu saya akan ikut Kristus”,

Lalu apakah dia bisa sembuh?
Bisa, sampai akhirnya, dia bisa beli toko. Saya juga merasa heran.

Itu baru empat apakah ada lagi yang lain?
Ada lagi yang di sebelah selatan namanya Tangsub.

Sakit apa yang diderita?
Dia dua tahun sudah bolak balik ke  RS Sanglah.

Apakah ini masih tempatnya di Sudimara?
Tidak ini sudah ada di Bengkel.

Kalau yang di Sudimara apakah sudah habis?
Tidak masih ada lagi. Sekarang saya akan ceritakan yang ada di Bengkel.

Bengkel itu sebelah mananya Sudimara?
Sebelah timurnya sungai.

Apakah jauh dari Sudimara?
Tidak juga terlalu jauh.

Lalu siapa yang sakit di Bengkel?
Tangsub itu. Ia menderita sakit Desentri. Sudah dua kali ia dipulangkan dari RS Sanglah. Lalu dia datang pada saya dan berkata, “ya, bagaimana pun caranya asalkan saya sembuh.” Lalu saya bilang padanya asalkan kamu percaya pada Kristus.

Bagaimana selanjutnya apakah Tangsub akhirnya dia sembuh?
Sampai dua bulan dia sakit, lalu saya bilang kalau saya tidak bisa mendoakan saja, lalu saya tanyai lagi, apa yang kamu pakai. Ternyata dia memakai dua buah sabuk  (jimat). Saya tanya darimana dia mendapatkannya. Tapi dia tidak mau bilang.

Apakah sabuk (jimat)-nya dia perlihatan?
Ya, diperlihatkan pada saya.

Lalu bagaimana rupa sabuk-nya?
Ya cuma berupa kain.

Lalu dibagaimanakan sabuk itu?
Saya pikir “oh ternyata begini sabuknya,”saya suruh dia membuang saja. Saya masih juga bertanya-tanya apakah kalau dibuang nanti tidak terjadi apa-apa.

Lalu apakah di bakar?
Belum, saya tanyakan apakah dia masih sayang sama sabuknya itu. Kalau masih, saya kan tidak wajar membakarnya. Saya bilang padanya. Kalau kamu memang masih ingin terikat pada sabuk ini, maka kamu tidak akan bisa sembuh. Saya jadi penasaran juga apa sih sebenarnya isi sabuk ini. Lalu saya buka sabuk itu.
Lalu isinya apa?
Hanya ada tembaganya, lalu juga berisi daun dapdap (Latin: Erythrina Lithosperma), berisi kain kafan, berisi uang bolong. Anehnya daun dapdap itu masih hijau.

Pendeta bilang daun dapdap-nya masih hijau, berarti sabuknya itu kan masih baru?
Tidak sudah lama. Saya bilang padanya agar kamu tidak lama sakit sebaiknya sabuk ini dibakar saja.

Lalu apakah jadi dibakar?
Jadi, dia sendiri yang membakar.

Kalau istrinya apakah juga ikut sakit?
Saat itu dia belum punya istri, tapi bapaknya....

Lalu dia dipindahkan ke Sudimara?
Ya.

Jadinya kan ada keluarganya di Sudimara?
Ada banyak keluarganya di sana.

Lalu dia juga sembuh?
Ya, sembuh dengan cepat sekali. Ya. Jadinya dia senang dan keluarganya di sana juga senang.

Berarti di Bengkel I Tangsub yang pertama kali berganti agama?
Tidak, Sobrat.

Kenapa I Sobrat itu?
Dia buta.

Ada hubungan apa I Sobrat sama I Tangsub?
Tidak ada hubungan apa-apa, cuma satu banjar saja.

Banjar apa namanya?
Bengkel Kedongdong.

Jadi cuma baru dua orang saat itu yang berganti agama?
Ya.

Sobrat jadinya yang lebih dulu?
Ya, dan kebaktian ke Sudimara. Dulunya dia juga ke sini sebelum berdirinya gereja. Dulu saat belum ada gereja itu jika hari Paskah pagi-pagi.

Sebelum berdirinya Gereja di sana?
Ya.

Cuma dua ada di Bengkel?
Ya. Saat itu cuma ada dua.

Pendeta yang memberikan pencerahan kepada keduanya itu?
Ya. Ada lagi satu di Sudimara sebelah selatan, namanya I Jobeg.

Sakit apa dia?
Dia gila.

Apakah dia sudah berkeluarga?
Belum.

Kok banyak sekali yang sakit belum berkeluarga?
Ya, bapaknya juga begitu, lalu dia menyerahkannya pada saya. Saya bilang agar semuanya satu KK datang ke sini maka dia akan bisa sembuh.

Lalu satu KK itu masuk Kristen?
Tidak mau dia satu KK. Lagi bapaknya masuk Hindu, lagi masuk Kristen lagi dia sembuh, lagi masuk Hindu lagi dia sakit. Sedang keluarganya yang lain tetap sehat.

Berarti di Sudimara Selatan. I Jebeg yang paling dulu masuk Kristen?
Ya.

Kalau ini kan yang saya bilang di Sudimara Selatan, kalau yang di sudimara utara, kan lain jadinya?
Ya, kalau I Jebeg itu kan tetap dia di Kristen, hanya bapaknya saja yang lagi ke Hindu,  lagi ke Kristen.

Terus akhir cerita apakah dia terus menjadi Kristen?
Ya. Sampai akhirnya dia meninggal. Ada yang lagi satu, namanya I Cetug, dari Lalang Linggah, dia di sana disiksa oleh masyarakat di sana. Begitulah riwayat Sudimara. Saya mengabdikan diri siang malam.

Jadinya kan hanya dua saja, Sudimara dan Bengkel saja. Lalu apakah ada lagi yang lainya, yang Bapak Pendeta layani, sekarang kita urut ceritanya, sebelumnya jadi Pendeta, sekarang kan ceritanya masih menjadi Guru Injil, dimana lagi pernah melayani?
Di lalang Linggah. Ada namanya Pan Wageh yang saya ceritakan tadi.

Sakit apa yang diderita pan Wageh?
Dia tidak sakit.

Ada hubungan apa Pak Pendeta dengan Pan Wageh?
Saya jauh dan tidak ada hubungan keluarga.

Pan Wageh itu yang memberi berita bahwa ada Kristen?
Pan Wageh ini kan mempunyai tanah yang luas, lalu dia akan menjadi dalang. Lalu dia mencari wayang ke Sading, lalu dia mendatangi I Sadra.

Sadra itu siapa?
Pendeta di Sading, lalu di sana dia mendapat cerita karena di sana banyak Kristen, lalu akhirnya pan Wageh yang pertama kali beragama Kristen di Lalang Linggah (Bajra, Tabanan).

Mana yang lebih dahulu pendeta apa dia?
Ya lebih dulu saya. Saat itu saya sedang menjadi Guru Injil.

Apakah Pak Pendeta pernah memberikan Kotbah ke sana?
Satu bulan sekali saya datang ke sana setiap Minggu. Saya datang ke sana melayani.

Apa yang di naiki ke sana?
Saya ke sana bersama rombongan.

Sekarang ke Sudimara, Lalang Linggah, Blatungan. Sekarang kita lanjutkan sedikit tentang di Lalang Linggah. Di sana  apakah ada yang sakit di sana lalu dia berganti agama?
Tidak.

Lalu apa yang pengalamannya di sana?
Ya, saya di sana saya hanya cerita-cerita, Pan Wageh itu kan orangnya kaya.

Apakah tidak ada pengalaman yang yang paling di ingat di sana?
Yang saya paling ingat saat di sana, saya kan diajak masuk masuk partai. Saya kan tidak mau masuk partai PNI.

Sekarang kan sudah jaman merdeka?
Saya kan tidak mau masuk partai PNI, saat itu kan dia. Subak-nya sudah eneh, lalu Pan Wageh itu di kenai kasus aci (upacara). Tapi dia tidak mau membayar aci, partai juga tidak mau mengurusi, sampai akhirnya dia mengadakan urusan ke Sedahan Agung (petugas pemerintah kabupaten yang mengatur dan mengawasi tertib pengairan di dalam wilayah kabupaten dan merupakan penasehat serta pelaksana dari pemerintah kabupaten didalam bidang irigasi) dan kelian desa (kepala desa)nya mengurusi itu. Sedahan agung-nya mengadakan rapat ke Sembung. Lalu  Pan Wageh tidak mau begitu hanya dibayar beberapa sen dan uangnya tidak begitu banyak kira-kira ada lima puluh. Lalu dia tidak mendapatkan air.



Berati di lalang Linggah tidak ada yang sakit?
Tidak. Lalu yang dari Lalang Linggah ada beberapa KK yang pindah ke Belimbing Sari, hanya Pan Wageh yang masih kuat tinggal di sana.

Jadinya di sana kan jadinya pendetang baru, apakah bersamaan dengan Pak Pendeta yang mendapat hutan?
Lebih dulu mereka, saya jadinya hanya numpang.

Jadinya Pan Wageh itu kan masih tetap di sini, lau yang pindah ke Belimbing Sari itu siapa?
Pan Jaga, Pan Muda.

Itu pindahnya apakah pada saat jaman Belanda?
Ia, saat jaman Belanda yang belakangan (NICA).

Kalau Pak Pendeta kan ke Belimbing sari merupakan angkatan yang pertama, sedangkan saudara yang dari Lalang Linggah itu angkatan yang ke berapa?
Angkatan pertama juga.

Jadinya kan juga pada jaman Belanda juga?
Ya.

Jadinya kan bukan Pan Wageh yang jadi angkatan Kristen yang pertama?
Ya.

Pan Wageh yang pertama, itu sudah pada jaman Belanda yang kedua (NICA), jadinya Pan Wageh kapan berganti Agama?
Pakoknya dia yang pertama, lalu Pan Buda.

Jadinya pada jaman Belanda sebelum Jepang?
Ya, barengan Pak Ayub.

Waktu pendeta Puger ke sana jadinya kan sudah kosong di sana dan itu berarti apakah semua masyarakat, saat itu sudah pindah ke Belimbing Sari. Siapa saja yang masih tinggal disana?
Ya, hanya Pan Wageh itu saja.

Selain pan Wageh apakah ada yang lain yang masih tinggal di sana?
Itu dah, Pan Jadeng, Pan Buda pindah ke Belimbing sari.

Terus kemana lagi perjalannya?
Ke Piling.

Berapa kilo dari sini?
Ada dua belas kilo.

Ke sananya naik apa?
Sepeda gayung.

Apakah saat itu belum ada mobil?
Belum.

Di sana apakah memulai atau hanya memberikan kotbah biasa?
Saat itu saya sudah tahu, saya sering sudah ke sana.

Apakah pendeta tiak mendapat tugas ke sana?
Tidak.

Siapa  nama orang yang dicari di sana?
Saya sudah lupa nama-namanya.

Sekarang kita urut ceritanya. Di gereja Alif dan Ja, kelompoknya apa saja?
Lalang linggah, Piling, Sudimara.

Kalau yang lain.....?
(tidak terjawab)

 

Gereja Alif dan Ja katanya  ada tempekan-tempekan. Apa nama tempekan itu?  Apa yang menyebabkan bernama tempekan? Dan apa gunanya tempekan itu?
Tempekan merupakan gabungan.

Kesini dia bergabung begitu?

Ia.
Saat pendeta masih menjadi Guru Injil, hanya baru tiga ada tempekan itu, Galang Linggah, Sudimara dan Piling. Kalau Bengkel itu bagaimana?
Masih lingkungan Sudimara.

Bengkel itu termasuk Sudimara?
Ya. Sekarang saya urutkan lagi sedikit, saya kan belajar menjadi Guru Injil, sampai akhirnya saya tamat, lalu saya mengajarkan Injil. Kan sakit cucunya Pan Wageh ada kira-kira umurnya enam tahun, saat itu dia masih kecil. Berobat. Disini dulu sakit setengah, lalu berat sakitnya dan di sana juga kan dekat balian-nya. Sakitnya bertambah parah, saya Pan Wageh juga yang saya ajak pulang. Besok paginya saya datang ke sana , tapi anak kecil itu sudah dipanggil alias meninggal. Lalu ditaruh di kamar mandi. Lalu saya membawa ke Pak Daniel saat itu dia menjadi sekretaris di Gereja Bali, kemudian dia datang ada kira-kira jam 8, lalu entah kenapa kok saya ditinggal. Saya jadi bingung, saat itu saya akan pulang, lalu mantrinya di sana mengajak saya memindahkan anak kecil tersebut. Kemudian saya pergi ke toko bersama Pan Wageh.

Mencari apa ke toko?
Saya mencari peti, saya punya kenalan seorang Nyonyah ........ dia bertanya “Mencari apa ke sini?”,  saya mencari peti yang agak besar sedikit.

Kira-kira sat itu tahun berapa, atau jaman apa?
Saat saya menjadi Guru Injil.

Berarti masih jaman Jepang, atau saat NICAnya?
Jepang apa saya sudah lupa, saat itu Daniel yang jadi Sekretaris Gereja Bali. Saat itu saya ditinggal sendiri, saya kan sibuk jadinya, mencarikan peti, saat itu jembatan di Bajra sedang dibenahi, jadinya hanya bisa sampai di Bajra dan tidak bisa lewat ke Barat karena jalannya terputus, dan yang di Barat juga begitu hanya bisa sampai di Antasari lagi mereka balik ke Barat.

Saat itu kan tidak ada jembatan?
Belum, saat itu sedang perbaikan. Dimana saya mencari peti, kalau tidak langsung mendapat di rumah sakit, rumah sakitnya juga tidak bisa lewat ke Barat. Sekarang ada lantas bak lalu saya dapat sampai di Bajra, saya juga membawa sepeda, kita kan tidak tahu nanti terjadi apa-apa, sampai di sana saya turun karena membawa peti kan jadinya gampang dan tidak terlalu kelihatan. Lalu petinya saya taruh pada boncengan sepedanya lalu saya naik ke Barat. Bapak dan Ibunya anak kecil meninggal itu kan tidak bisa berjalan, lalu dia menyewa kendaraan. Saat itu tidak ada yang tahu kalau dalam peti itu ada mayat anak kecil.

Petinya kecil  kan begitu?
Lalu saya sampai di rumahnya, dan dia juga baru datang dari barat di rumahnya. Dari bagi berangkat sampai malam baru sampai.  Perut saya saat itu juga lapar, lalu saya taruh di sana petinya dan akhirnya dia yang mengambil anak kecil itu. Lalu saya suruh memanggil kelihan adatnya. Setelah datang kelian adatnya dan ternyata tidak di perbolehkan mengubur di kuburan biasa.

Kelihan adat-nya kan jadinya orang Hindu-Bali?
Hindu. Saat itu kan Pan Wageh ini mempunyai tanah di samping kuburannya itu, lalu saya mengajak dia. Saya tanya pada kelihanya “Apakah tidak boleh ikut disamping dijalannya?” Tidak.  Sekarang lantas saya membuka kuburan 1 are, lantas saya kuburkan anak itu. Itu memang betul pengalaman saya saat itu.

Saat itu kan masih menjadi Guru Injil?
Saat mencari peti itu, kan Pan Wageh yang punya sepedanya, juga ada tas kulit yang berisi kain untuk selimut di sana, lalu baru keluar membawa peti, saya pinjam sedangkan sepeda saya masih di sana, karena berisi tas kan dikira tas itu berisi uang, lalu saya kembali kesana, dan saya tidak melihat lagi sepeda saya itu. Saya tanya, pada orang di sana “dimana sepeda saya?” Saya tidak melihat begitu kata orang di sana. Lalu saya melapor ke polisi.

Lantas sepedanya hilang?
Hilang, mau dicari dimana.

Sekarang lanjutkan lagi, selain di Lalang linggah, Sudimara, Bengkel dan Piling kemana lagi perjalannya, saat masih menjadi guru injil?
Sekarang di Lalang Linggah ceritanya saya tutup, dan sekarang di sana sudah punya kuburan sendiri.

Oh sekarang sudah punya kuburan sendiri, kan yang memberi tanah pan Wageh?
Ya.

Kalau Gereja apakah sudah ada di sana?
Belum.

Nanti dulu, sebelum kita melangkah pada permasalahan lainnya, sesudah selesai menjadi Guru Injil, lalu masuk di Badung di Gereja Debes, tahun berapa selesai disana?
Kalau itu saya sudah lupa.

Apakah tidak ada surat pengukuhan menjadi pendeta?
Tidak.

Kira-kira tahun berapa menjadi pendeta apakah saat negaranya sudah tenang atau selesai Proklamasi?
Ya, saya sebenarnya tidak punya catatannya tentang hal itu.

Coba sekarang kita pakai Proklamasi sebagai tolak ukur pembicaraan. Apakah  selesai proklamasi atau sedang revolusi pisiknya atau saat Ngurah Rai-nya sedang bereperang, atau bagaimana, agar ceritanya terurut, sejak menjadi Guru Injil bagaimana dan sejak menjadi pendeta itu bagaimana?
Saat jamannya Ngurah Rai saya masih berada di Blimbing Sari. Lalu saya punya anak yang pertama.

Tahun berapa lahirnya anak yang pertama?
Tahun 1946, saat jaman Jepangnya.

Tidak jaman jepang tahun ahun 1942?
Saat itu sudah merdeka. Pas dah di jaman merdeka-nya anak saya lahir. Saat itu saya sedang di Blimbing Sari saya dengar orang berteriak, “merdeka, merdeka” di jalan.

Lalu belum jadi guru Injil?
Belum, belum menjadi guru injil, saat dia menjadi guru injilnya kan saat saya sedang hamil Si Luh Made, jawab istri Pendeta I Gusti Putu Puger

Berarti saat itu kan itu tahun 1947, nah lalu saat NICA Gandek itu, nah lalu saat menjadi pendeta  saat lahirnya siapa?
Ketutnya saya yang nomer empat.

Tahun berapa dia lahir?
Sekitar tahun 1952, kan dari Untal-Untal datang ke sini. Saya mulai tugas di sini bulan 10 tahun 1950.

Ya, sekarang saya mengerti, pendeta di sini dua tahun. Jadinya kan tahun 1952. Lalu menjadi pendeta?
Belum saya baru masuk.

Lalu tahun 1952 lagi belajar, dan  jadinya tahun 1954 baru menjadi pendeta?
Mungkin begitu.
Lalu cerita yang di Lalang Linggah, Sudimara, Bengkel dan Piling itu tahun 1950-an, agar sekarang semakin jelas ceritanya kan jadinya tahun 1952 ceritanya?
Ya. Baru saya sampai di sini.

Jadi tahun 1952, saat berada di Lalang Linggah, Bengkel, Sudimara, dan Piling, itu pengalaman saat menjadi guru injil?
Ada lagi satu pengalaman saya saat ada di Blatungan.

Blatungan, saat menjadi Guru Injil juga?
Ya, jauh. Jalannya juga naik turun.

Naik apa ke sana, apakah juga naik sepeda?
Naik  sepeda, sedangkan jalannya naik turun di hutan.

Lalu apakah mencari jalan pintas?
Ya, saya mencari jalan pintas, dari Tabanan sampai di Antasari. Lalu sampai di sana saya turun dan berjalan kaki ke barat, ke Surabrata, lalu saya ke utara.

Lalu siapa yang di cari di Blatungan, siapa namanya, apakah ini memulai?
Ya, saya masih memulai.

Bagaimana caranya pendeta tahu ada saudara di Blatungan?
Saat itu ibu saya Si Luh Suryati meninggal, lalu ada tamu yang dari Blatungan.

Siapa namanya?
Desak Biang Mundri dari Blatungan. Lalu ada tukang kawat.

Tukang kawat apa, kabel  listrik?
Tidak kawat telpon.

Juga dari Blatungan?
Tidak dari Tabanan. Hari Minggu itu pas.

Hari minggu pas, barengan sama Desak Biang?
Ya.

Siapa nama tukang kawat itu, apakah dia orang Jawa?
Saya lupa namanya, tapi dia itu orang Jawa.

Pas hari Minggu?
Ya, kan jadinya saya tidak bisa memimpin kebaktian hari Minggu, jadinya saya melayani penguburan saat itu.  Lalu kata Desa Biang Mundri, di Blatungan ada namanya Desak Ketut sakit keras dan hampir meninggal, lalu saya disuruh agar datang ke sana.

Apakah Desak Mundri itu sudah berganti agama?
Sudah, dia kan percaya di Belimbing Sari.

Sekarang ceritakan sedikit tentang Desak Mundri, Desak Mundri itu kan dari Blatungan, dapat pelajaran di Blimbing Sari, siapa yang mengajak ke sana?
Dia berdagang di sana, dan dagangannya di sana juga lumayan besar.

Pernah dia di Blatungan sudah berganti agama?
Di sana dia hanya belajar.

Oh belum berganti agama?
Itu kan baru mulai.

Kalau dibaptis sudah?
Saya tidak tahu saat itu apakah sudah di baptis atau belum.

Sekarang ceritakan Desak Mundri sama Pak Pendeta, apa saja yang diceritakan oleh Desak Mundri sama Pak Pendeta?
Ada katanya orang sakit yang bernama Desak Ketut, dia itu tangannya gemetar, “sekarang silahkan berangkat, mungkin dia sudah meninggal. Setelah saya mendengar itu saya berangkat ke sana pagi-pagi sekali, saya ke Surabrata ke utara, lalu saya sampai di rumahnya Desak Ketut, dan ternyata dia masih hidup. Karena masih hidup kan jadinya batal ngurus kuburan, lalu saya mendoakan akhirnya dia tidak jadi meninggal.

Lalu pendeta berdoa di sana?
Ya.

Apakah Desak Ketut itu sudah sekarat?
Sudah, bahkan sudah tidak mampu lagi untuk  berjalan.

Lalu bagaimana membilang  berdoa, sama masyarakat disana kalau dia itu mau…?
Biasa saja.

Desak Ketut itu apakah masih gadis atau bagaimana?
Dia itu sudah remaja. Lalu saya disana ngobrol bersama masyarakat disana dan banyak yang mau masuk Kristen.

Bagaimana membilang sama saudaranya, Desak Ketut saat itu sama Pak Pendeta?
Saya bersedia apa pun yang diperlukan di sana saya yang akan mengurus semuanya. Lalu saya kan saya batal mengurus kuburan karena tidak jadi dia meninggal.

Oh, maunya ke sana mengurus kuburan?
Ya.

Saya belum mengerti bagaimana caranya ngomong sama bapaknya Desak Ketut ini?
Saat itu kan dia sudah Kristen. Saat itu dia baru masuk. Saudaranya di situ juga sudah bepikir begitu, dan menurut saudaranya di sana kalau Desak Ketut itu sudah akan menunjukkan tanda-tanda akan meninggal. Tapi akhirnya dia tidak meninggal dan sekarang Pak Visch yang mengajak Desak Ketut itu. Lalu disana kan ada beberapa KK yang sudah Kristen. Di sana kan akhirnya membuat kuburan.

Berapa kali Pak Pendeta datang ke Blatungan?
Sering saya datang ke sana dan sekarang di sana sudah ada Gereja.

Kalau yang bergati agama dari Hindu ke Kristen apakah juga Pak Pendeta melihat?
Ya, melihat.

Siapa namanya yang berganti agama itu?
Dewa Putu Cekeg.

Bagaimana ceritanya itu?
Dia itu kan banyak sekali tahu tentang cetik (racun tradisional)

Oh, cetik-cetikan?
Ya.

Cekeg itu pintar nyetik begitu?
Ya pintar.

Kalau istilah Balinya ia tahu ngeleak (mengubah diri jadi makhluk jadi-jadian)?
Kalau itu tidak. Dia hanya tahu mengobatinya. Dia kan percaya.

Saat itu dia masih Hindu?
Ya.
Lanjutkan sedikit ceritanya tentang Cekeg?
Cekeg itu sangat kaya orangnya. Dia itu banyak sekali punya tanah, ada kira-kira jumlah tanahnya 40 Hektar.

Lalu bagaimana ceritanya dengan Cekeg itu?
Ya. Sama.

Bagaimana kok Pendeta kenal dengan Cekeg?
Ya, dari Desak Biang itu yang memberi tahu saya.

Apa yang menjadi pokok pembicaraan antara pendeta dengan Cekeg saat itu, apakah hanya membicarakan tentang cetik saja?
Ya, tentang cetik juga, dia itu kan pintar sekali. Ada  juga yang lainnya bernama Dewa Luwus, lalu Dewa Luwus ini saya ajak ke Sesetan.

Kenalnya saat datang pertama kali ke sana?
Ya. Langsung ngobrol beberapa kata saya kenal dengan orang di sana lalu saya juga dapat ngobrol beberapa kata.

Dewa Cekeg , saat itu masih beragama Hindu?
Saat sudah akan masuk agama Kristen. Dia sudah datang pada saya. Terus sampai ada yang dipanggil (meninggal) saat itu saya juga mengurusi Kuburan. Mau ikut di kuburan sana kan tidak di kasi. Lalu ada hutan di sana, itu saya minta, tapi juga tidak di pebolehkan. Karena sudah boleh dikuburkan di tanah sendiri, lalu saya di sana bolak balik sampai sore di sana. Lalu saya di sana juga membikin kuburan 1 are. Lalu saya pastikan dengan doa Alah Bapa, Alah Putra. Saat itu saya belum mebangun Gereja.

Membangun Gereja pertama saat itu, saat masih menjadi Guru Injil?
Itu dah pengalaman saya di sana. Paginya sama sekali tidak ada tempat mandi.

Jadi di sana nginap, istrinya juga di ajak?
Ya, saya disana nginap, istri saya saat itu masih mengajak anak saya yang masih kecil kan
jadinya tidak bisa ikut.

Ibu kan jadinya takut lama-lama menunggu Bapak?
Ya. Terkadang saya sakit di rumah saya sedirian mengurusinya. Begitu juga saat dia ke Sudimara, sampai jam sepuluh malam belum datang. Saya kan ingat jalan naik turun di jembatan sekarang, saat itu kan belum ada jembatan, saya kan jadinya was-was dan takut terjadi apa-apa sampai saya tidak bisa tidur saya jadi berpikir, “beh, begini rasanya orang jadi Pendeta”. Saya di rumah mengajak anak saya yang masih kecil-kecil saya di tinggal sendiri, mertua saya tidak punya, ipar juga tidak punya,” jawab istri Pendeta Putu Puger (bersambung)


No comments:

Post a Comment